Novel

Chapter 9: Chapter 9

Aris berhasil mendapatkan fragmen memori dari Kael melalui ancaman peretasan, lalu meloloskan diri dari kepungan pasukan Vanya di Rute Terlarang dengan mengorbankan sisa memori masa kecilnya untuk menembus gerbang Lantai 4.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 9

Layar retina Aris berkedip merah, memancarkan peringatan sistem yang menusuk mata: [STATUS: BURUAN UTAMA | LOKASI: TERDETEKSI | SISA WAKTU: 03:45].

Di Rute Terlarang Lantai 3, dinding koridor bukan lagi sekadar struktur batu, melainkan lembaran data mentah yang bergetar hebat. Setiap langkah Aris meninggalkan jejak cahaya biru yang mustahil disembunyikan. Dia bukan lagi Aris si pecundang peringkat bawah; dia adalah 'Pelanggar Tingkat Tinggi', anomali yang dipancarkan secara real-time ke seluruh papan skor publik Menara.

Kepalanya berdenyut. Kenangan tentang aroma kopi di distrik lama dan wajah ibunya telah luntur—dikorbankan sebagai bahan bakar peretasan sistem. Sebagai gantinya, kekuatan mentah yang terasa seperti racun cair mengalir di nadinya. Aris tidak punya waktu untuk berduka. Di ujung koridor, suara derap langkah teratur bergema. Itu bukan monster, melainkan sepatu bot pasukan elit Vanya yang disinkronkan dengan protokol pelacakan sistem.

Aris menyelinap ke Sektor 3, tempat Kael menunggunya di balik tumpukan reruntuhan data. Kael menatap Aris dengan mata membelalak. "Kau membawa badai ke pintuku, Aris! Bukti pemanenan yang kau berikan sudah memicu alarm di tingkat elit. Vanya tidak lagi sekadar curiga; dia melacak jejak energimu secara langsung!"

"Aku tidak butuh ceramah, Kael. Aku butuh fragmen memori Lantai 4," potong Aris dingin. Tangannya bergerak cepat, meretas konsol Kael dengan kode ilegal dari sistem rusaknya. Data rahasia Kael terbuka, membuktikan bahwa pedagang informasi itu berencana menjual Aris ke Vanya demi keamanan pribadinya.

Kael tertegun, wajahnya pucat. "Kau... kau meretas sistem pribadiku?"

"Pilihannya sederhana," Aris menatap tajam. "Berikan akses itu, atau aku akan menyebarkan bukti pengkhianatanmu ke seluruh pasar gelap sekarang juga." Dengan tangan gemetar, Kael menyerahkan fragmen memori tersebut. Aris tidak menunggu jawaban; ia segera berbalik, menyadari bahwa Kael hanyalah pion yang sudah tidak lagi relevan.

Saat Aris mencapai ambang gerbang Lantai 4, udara di sekitarnya membeku. Vanya berdiri di sana, dikelilingi pasukan pemanen bersenjatakan energi biru murni. "Berhenti, Aris," suara Vanya membelah keheningan, dingin dan penuh otoritas. "Kamu pikir kamu bisa memodifikasi kode Menara sesukamu?"

Aris tidak berhenti. Ia justru memicu 'Sistem Rusak' miliknya, melakukan overclock pada batas levelnya. Rasa panas membakar otot-ototnya, namun kekuatannya melonjak drastis. Di layar retina, waktu tersisa tinggal 00:58 detik. Untuk membuka gerbang, sistem menuntut tumbal terakhir: sisa memori masa kecil yang masih ia miliki. Tanpa ragu, Aris membiarkan fragmen itu terkikis, mengubah ingatan berharganya menjadi kode biner untuk peretasan.

Gerbang itu mendesis terbuka. Aris melompat masuk tepat saat Vanya mengayunkan senjatanya. Di balik gerbang, kegelapan menanti. Aris telah berhasil, namun saat gerbang tertutup, ia menyadari bahwa tantangan di depannya jauh lebih mematikan. Lantai 4 telah terbuka, dan ia tidak memiliki apa-apa lagi untuk dikorbankan selain nyawanya sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced