The Price of Advancement
Cahaya biru berdenyut di ambang gerbang Lantai 2, memindai tubuh Aris dengan intensitas yang menyakitkan. Suara mekanis dingin bergema di koridor marmer: "Peringatan: Ketidaksesuaian data profil terdeteksi. Subjek: Anomali. Otorisasi akses ditolak."
Aris tidak membuang waktu. Ia memejamkan mata, memanggil fragmen memori yang ia curi dari sisa-sisa entitas lantai sebelumnya. Dengan napas tertahan, ia menyuntikkan data korup itu ke dalam interface menara. Ia memanipulasi kode identitasnya, membungkus aura kekuatannya dengan kedok tipu daya: 'Penyintas Peringkat Rendah yang Beruntung'. Detik demi detik terasa seperti jam. Tiba-tiba, lampu merah menyilaukan meredup menjadi warna kuning stabil. Alarm berhenti, namun sensasi jarum halus menusuk sarafnya muncul seketika. Aris menegang; sistem keamanan telah memasang pelacak parasit di nadinya.
Lantai 2 tidak pernah tidur. Di sudut Sektor 2 yang lembap, Aris menemui Kael. Pria itu menyesap cairan biru pekat, matanya mengunci Aris dengan seringai sinis. "Kau berani muncul di sini setelah memicu alarm? Kau bukan lagi sekadar pecundang, Aris. Kau adalah target berjalan."
Aris melemparkan sebuah drive data ke atas meja. "Ini fragmen memori dari jalur yang tidak ada di peta resmi. Cukup untuk membuatmu kaya, atau setidaknya membuatmu bungkam."
Kael tertegun, menyambar drive tersebut. Ia memeriksa isinya dengan alat portabel, napasnya memburu. "Kau gila. Ini rute terlarang Lantai 1 yang sudah lama disegel. Dari mana kau dapatkan ini?"
"Itu urusanku," potong Aris dingin. "Aku butuh peta rute tikus yang tidak dipantau oleh elit, dan aku butuh kau mengalihkan pelacak sistem ke Sektor 7."
Kael tertawa kecil, meski tangannya gemetar. "Memberikan data ini padaku sama saja dengan menjatuhkan bom di pasar gelap. Jika Vanya tahu..."
Langkah kaki tegas bergema di lorong, memotong keheningan. Iramanya presisi, berwibawa, dan dingin. Vanya muncul dari balik tikungan, dikelilingi oleh aura biru pucat dari sistem pertahanan tingkat tinggi. Matanya yang tajam menyapu setiap wajah di koridor, mencari variabel yang tidak sesuai dengan algoritma menara.
Aris segera mengaktifkan fitur 'Penyamaran Statis' pada sistem rusaknya. Ia memaksakan napasnya teratur, membiarkan sistemnya menutupi data anomali dengan sampah digital yang terlihat seperti penyintas kelas bawah yang sedang sekarat. Ini adalah taruhan nyawa; jika sistem Vanya menembus lapisan tipuannya, ia akan dihapus seketika.
"Berhenti," suara Vanya memecah udara. Dia tidak menunjuk siapa pun, namun semua orang di pasar gelap membeku. Vanya berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Aris. Ia menatap Aris dengan curiga, matanya seolah bisa melihat menembus topeng digital yang Aris pasang. Aris hanya menunduk, membiarkan rasa takutnya terlihat wajar—takut seorang penyintas kecil di hadapan elit.
Setelah Vanya berlalu, Aris segera bergerak menuju lorong Rute Terlarang Lantai 2 yang tampak seperti luka menganga di realitas menara. Di dalam sistem rusaknya, notifikasi merah menyala tanpa henti: Peringatan: Anomali Terdeteksi. Penghapusan Data dalam 00:15:00.
"Lari, atau dihapus," gumam Aris. Ia menyentuh permukaan gerbang dengan telapak tangan yang gemetar. Fragmen memori yang ia dapatkan menyatu dengan kode rusak sistemnya.
System Update: Rute Terlarang Terbuka. Misi Baru: Capai Puncak Lantai 2 dalam 07:30 menit. Imbalan: Stabilitas Anomali + 500 Poin Kredit.
Setengah dari waktu normal. Aris memaki dalam hati. Ini bukan sekadar tantangan; ini adalah jebakan yang dirancang agar ia mati dalam kecepatan tinggi. Saat ia melangkah masuk ke dalam celah data yang bergetar itu, ia merasakan Vanya menoleh ke belakang, menatap sosoknya yang menghilang ke dalam rute rahasia dengan tatapan yang penuh perhitungan. Aris tahu, ia baru saja memicu perburuan yang tidak akan berakhir sampai salah satu dari mereka dihapus dari menara.