Hukum Gravitasi Waktu
Lantai Empat bukan sekadar ruangan; ini adalah jebakan waktu yang mematikan. Begitu Kael melangkah melewati gerbang rotasi, realitas di sekitarnya melambat hingga ke titik yang menyakitkan. Gravitasi di sini tidak menarik tubuh ke bawah, melainkan mengikat setiap atom dalam cairan waktu yang kental. Detak jantungnya melambat, aliran darah terasa seperti merkuri, dan setiap tarikan napas memakan waktu lebih lama dari biasanya.
Peringatan Sistem: Laju waktu lokal melambat 400%. Sinkronisasi biologis tertunda. Estimasi sisa umur: 21 tahun, 7 bulan, 29 hari.
Kael terhuyung. Pemandangan di depannya adalah dataran luas dengan pilar-pilar kristal yang memancarkan cahaya neon menyilaukan. Namun, dia tidak sendirian. Di kejauhan, sekelompok sosok berseragam perak bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar, seolah mereka kebal terhadap hukum lantai ini. Mereka adalah pasukan elit menara, sedang berlatih di zona inkubasi yang seharusnya terlarang bagi pendaki rendahan.
Kael mencoba melangkah, namun sistemnya bergetar liar. Setiap gerakan kecil memicu konsumsi energi internal yang brutal. Dia harus memilih: terus bergerak dengan kecepatan siput dan menjadi sasaran empuk, atau menggunakan sistem rusaknya untuk 'mencuri' waktu dari zona ini.
Opsi Sistem: Kurangi durasi umur 5 tahun untuk akselerasi gerakan instan dan sinkronisasi waktu.
Lima tahun. Harga yang sangat mahal untuk sebuah mobilitas. Namun, saat ia melihat patroli elit mendekat dengan alat pelacak anomali, Kael tidak punya pilihan. Dia mengonfirmasi transaksi tersebut. Rasa dingin menjalar di punggungnya saat angka sisa umurnya menyusut drastis. Detik berikutnya, tubuhnya terasa ringan. Dia melesat, melompati tembok pembatas dengan kecepatan yang melampaui batas manusia biasa, meninggalkan jejak energi yang kini mulai dipindai oleh menara.
Kael tersungkur di balik pilar penyangga di sisi lain tembok. Lantai ini berbau ozon tajam dan logam panas. Di depannya, sebuah labirin sektor latihan membentang. Suara sepatu bot militer bergema di ujung koridor—Sera, sang pengawas, memimpin perburuan. Kael menahan napas, memantau sistemnya yang kini berkedip merah: Sisa Umur: 16 tahun, 7 bulan, 29 hari.
Dia merayap lebih dalam, sampai akhirnya ia mencapai celah dinding yang menghadap ke pusat lapangan terbuka. Pemandangan di sana membuatnya membeku. Lusinan pendaki muda, semuanya mengenakan seragam elit, dipaksa berlari di dalam zona gravitasi yang berubah-ubah. Setiap kali mereka tersandung, sebuah fragmen memori—cahaya biru yang diambil secara paksa—ditembakkan ke arah mereka oleh perangkat otomatis. Mereka tidak berteriak; mata mereka memutih saat ingatan orang lain dipaksa masuk ke dalam otak mereka untuk mempercepat sinkronisasi sistem.
"Sinkronisasi mencapai 88 persen. Lanjutkan ekstraksi fragmen dari subjek kelas bawah," suara dingin Sera membelah kesunyian ruangan.
Kael menyadari kebenaran yang mengerikan: ini bukan sekadar tempat latihan. Ini adalah pabrik. Sera sedang menggunakan fragmen memori curian dari para pendaki lantai bawah untuk mencetak pasukan yang akan menopang kekuasaan Menara. Kael adalah target utama yang sedang diburu untuk dijadikan subjek berikutnya. Saat ia menatap Sera yang berdiri di podium, ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi sekadar melarikan diri. Dia harus memutuskan: menghancurkan sistem pelatihan ini dengan risiko tertangkap, atau mencari jalan keluar dengan membawa fragmen memori yang bisa mengubah nasibnya.