Eskalasi yang Tak Terelakkan
Detak jantung Kael beradu dengan hitungan mundur di sudut pandang sistemnya. Sisa umur: 21 tahun 10 bulan. Angka itu berkedip merah, menuntut pengorbanan lebih lanjut. Di depannya, Penjaga Lantai Tiga—sebuah konstruksi zirah hitam setinggi dua meter—memblokir akses transisi dengan tombak energi yang mendengung statis.
“Identitas tidak terverifikasi. Akses ditolak,” suara mekanis itu membelah kesunyian lorong. Sensor merah di helm penjaga menyapu tubuh Kael, mencari jejak energi yang tidak sah.
Kael tidak punya waktu untuk bernegosiasi. Di belakangnya, gema langkah kaki Sera semakin mendekat. Pengawas Sektor itu tidak lagi sekadar berpatroli; ia sedang berburu. Kael merasakan tekanan udara yang berubah, tanda bahwa Sera menggunakan otoritas tingkat tinggi untuk melacak anomali energi yang ia tinggalkan.
Kael memejamkan mata, memanggil fragmen memori yang ia curi. Menara bukan ujian. Menara adalah mesin penguras kehidupan. Data itu mengalir ke sistemnya, mengubahnya dari sekadar alat progresi menjadi kunci akses ilegal. Ia menyuntikkan fragmen tersebut ke dalam enkripsi penjaga.
“Verifikasi manual,” bisik Kael, suaranya serak.
Panel di dada penjaga berkedip kuning, lalu berubah menjadi hijau pucat. “Enkripsi… cocok. Tapi—anomali terdeteksi. Alarm—”
Kael tidak menunggu. Ia mengaktifkan kemampuan sistemnya: Pencurian Waktu. Dunia di sekitarnya melambat, berubah menjadi abu-abu yang mati. Dalam kelambatan itu, ia melihat celah pada sendi bahu penjaga. Kael menerjang, mengabaikan rasa sakit yang membakar ototnya—harga dari setiap gerakan di bawah Hukum Lantai yang kejam. Ia menghujamkan tangan ke inti sensor penjaga, mencuri 30 detik waktu hidup dari konstruksi tersebut. Zirah itu kehilangan daya, dan Kael melesat melewati pintu masuk Lantai Tiga.
Sera tiba lima detik kemudian. Ia berhenti di depan penjaga yang kini tak bernyawa. Saat ia menyentuh sisa energi yang berpendar, gambaran Menara sebagai mesin penggiling kehidupan meledak di pikirannya. Sera tersentak, napasnya tertahan. Rahasia ini bukan sekadar data; ini adalah fondasi dari dunia yang ia jaga. Ia bisa melaporkan ini, namun jika ia melakukannya, ia akan kehilangan kendali atas anomali yang ia buru. Dengan tatapan dingin, ia memutuskan untuk memburu Kael secara pribadi.
Di balik gerbang Lantai Tiga, Kael terpojok oleh sistem verifikasi yang lebih ketat. Sensor elit mulai mengunci lokasinya. Tanpa pilihan lain, Kael membuat keputusan brutal: ia menghapus memori masa lalunya—semua catatan tentang keluarganya—sebagai bahan bakar untuk membersihkan jejak digitalnya.
Identitas lamanya tersedot ke dalam server Menara. Kael melangkah masuk ke Lantai Tiga sebagai orang asing, kehilangan bagian dari dirinya yang selama ini menjadi alasan untuk terus mendaki. Ia telah selamat, namun harga yang ia bayar baru saja dimulai. Di depannya, tantangan lantai baru sudah menanti, lebih mematikan dari sebelumnya.