Bayang-Bayang di Lantai Tiga
Napas Kael tertahan, tercekik oleh Hukum Napas lantai dua yang membatasi volume oksigen setiap pendaki. Di balik dinding beton lembap, derap sepatu bot militer Sera bergema—ritme yang menandakan kematian bagi siapa pun yang terdeteksi sebagai anomali. Cahaya biru pemindai energi milik Sera menyapu celah dinding, meninggalkan jejak pendar yang membakar sisa umur di udara.
Di balik retina Kael, fragmen memori yang baru diserap berdenyut, memproyeksikan kebenaran pahit: Menara ini bukan ujian, melainkan mesin pengisap kehidupan. Target terdeteksi: 15 meter. Estimasi kontak visual: 60 detik. Sistem rusaknya mengirimkan sengatan listrik ke saraf tulang belakang—biaya atas informasi terlarang yang ia curi.
Kael tidak punya pilihan. Jika tertangkap, rahasia Menara akan terkubur. Ia melirik antarmuka transparan yang berkedip merah: [Misi Timer: Curi Fragmen Energi dalam 5 menit]. Gagal berarti penalti dua tahun sisa umur.
"Anomali terdeteksi di Sektor 7-G," suara Sera membelah kesunyian melalui pengeras suara. "Tutup semua akses."
Kael mengertakkan gigi. Ia mengaktifkan bug sistemnya, memancarkan profil energi palsu ke sisi berlawanan lorong. Sera teralihkan. Suara langkahnya menjauh, memberi Kael celah. Ia meluncur keluar, bergerak seefisien mungkin agar tidak memicu sensor lantai. Ia tiba di pintu gudang saat hitungan mundur menunjukkan 03:20.
"Sistem, bypass gerbang energi," bisik Kael.
[Sistem: Memerlukan 1 bulan sisa umur. Saldo: 21 tahun, 11 bulan. Lanjutkan?]
Kael menekan 'Ya'. Rasa nyeri menusuk dadanya, seolah jiwanya ditarik paksa. Pintu gudang mendesis terbuka. Fragmen energi murni berpendar di pedestal. Saat Kael menyerapnya, sistemnya melonjak, memicu notifikasi Tier 1 di papan peringkat publik.
Sera berbalik, menyadari anomali itu bukan berasal dari elit. "Kau!" teriaknya saat mendobrak masuk.
Kael tidak menunggu. Ia menggunakan fragmen memori untuk membuka rute akses terlarang ke lantai tiga yang tersembunyi di balik dinding gudang. Ia melompat ke dalam kegelapan rute tersebut tepat saat Sera mendobrak pintu. Di depannya, penjaga lantai tiga mulai aktif, matanya menyala merah. Kael menarik napas panjang, bersiap menghadapi benturan fisik yang akan menentukan apakah ia akan terus mendaki atau mati sebagai sampah di lantai yang lebih tinggi.