Novel

Chapter 10: Pengkhianatan dan Harga Diri

Aris terjebak di lantai atas akibat pengkhianatan Kael yang menjual koordinatnya kepada Liora. Dengan energi vital tersisa 8%, Aris menggunakan sisa energinya untuk memicu kekacauan sensorik dan mencapai inti menara, di mana ia dihadapkan pada pilihan fatal: menguasai sistem atau menghancurkannya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pengkhianatan dan Harga Diri

Udara di lantai atas terasa tipis, berbau logam berkarat dan ozon yang terbakar. Aris berdiri di tengah lorong sunyi yang dindingnya berdenyut dengan cahaya biru pucat—sisa-sisa energi dari sistem menara yang dipaksakan terbuka. Napasnya memburu, pendek dan menyakitkan. Di sudut pandangannya, antarmuka sistem yang biasanya stabil kini berkedip merah terang dengan peringatan yang tak bisa diabaikan: Peringatan: Deteksi Pelacakan Eksternal. Energi Vital: 8% (Menurun).

Aris menyentuh dadanya. Kunci perak yang tergantung di lehernya terasa panas, membakar kulit. Artefak yang baru beberapa menit lalu menjadi tiket emasnya menuju lantai ini sekarang terasa seperti beban yang menariknya ke jurang. Antarmuka sistemnya menampilkan garis merah yang berdenyut, menunjukkan lokasi Aris sedang disiarkan secara real-time ke seluruh jaringan menara. Ini bukan kesalahan sistem. Ini adalah pengkhianatan.

"Kael," desis Aris, suaranya parau. Ingatannya berputar kembali ke pertemuan terakhir mereka di pasar gelap. Kael telah bersumpah setia, namun pria itu tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menjual informasi jika harganya cukup tinggi. Kunci perak itu bukan sekadar akses; itu adalah pelacak yang disematkan Kael untuk memastikan Liora bisa menutup jarak dengan cepat. Aris adalah komoditas, dan dia baru saja masuk ke dalam kandang singa.

Lantai atas menara bukanlah surga; itu adalah koridor dingin dengan lantai kaca yang memantulkan bayangan Aris yang kian memudar. Aris terengah, napasnya terasa seperti serpihan kaca di tenggorokan. Indikator sistem di sudut pandangnya berkedip merah: Energi Vital: 7,8%. Setiap detiknya adalah kemewahan yang tidak mampu ia bayar.

"Kau pikir kau bisa lari, Aris?" suara itu tidak datang dari depan, melainkan dari transmisi sistem yang disadap. Kael. Pria itu muncul dari balik bayangan pilar data, diikuti selusin pasukan elit berseragam perak milik Liora. Senyum Kael tipis, penuh dengan rasa kasihan yang dibuat-buat. Aris tidak berbalik. Ia menatap jurang data yang terhampar di bawah jembatan, tempat kode-kode biner mengalir deras seperti air terjun yang menghisap kehidupan.

"Berapa harganya, Kael? Berapa kredit yang mereka tawarkan untuk nyawaku?"

Kael merentangkan tangan, membiarkan pasukan Liora mengepung Aris. "Bukan kredit, Aris. Kehidupan. Sistem ini tidak akan membiarkanmu menang. Aku hanya memilih sisi yang memiliki peluang bertahan lebih lama. Jangan salahkan aku karena kau memilih jalan yang buntu."

Liora melangkah maju dari barisan belakang, wajahnya sedingin es. Ia menatap Aris seolah pria itu hanyalah serangga yang terjepit di antara dua lembar kaca. "Kau sudah membuat keributan yang cukup, Aris. Berikan kunci akses itu, dan aku akan membiarkanmu mati dengan cepat."

Aris tidak mencoba melawan dengan fisik. Ia tahu, dengan energi 7%, benturan senjata hanya akan mempercepat kematiannya. Ia memejamkan mata, memicu sistem 'rusak' miliknya untuk mengonversi sisa energi vitalnya menjadi injeksi data yang ia curi dari Balai Lelang. Gelombang statis meledak dari tubuhnya, menciptakan kekacauan sensorik yang membutakan pasukan Liora. Di tengah kepanikan mereka, Aris melompat ke arah lubang ventilasi data yang terbuka akibat injeksi tersebut.

Ia terjerembab di depan pintu masuk inti menara yang terbuka akibat kekacauan sistem yang ia picu. Di depannya, antarmuka sistem memberikan pilihan mutlak: [PERINGATAN: Akses Inti Menara Terdeteksi. Opsi: (A) Mengambil Alih Sistem - Risiko: Kehilangan 90% Energi Vital. (B) Menghancurkan Node Utama - Risiko: Keruntuhan Struktural Lantai.]

Aris menyadari bahwa sistem 'rusak' miliknya sebenarnya adalah kunci untuk menulis ulang aturan menara, bukan sekadar bertahan hidup. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh inti menara. Saat ia memilih untuk menghancurkan, sebuah pengumuman publik mengguncang seluruh menara, menyatakan bahwa sistem kendali utama kini berada dalam kondisi kritis. Aris berdiri di ambang kehancuran total, siap menanggung harga dari kebebasannya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced