Konfrontasi Pertama
Layar antarmuka Aris berkedip merah: Energi Vital: 28%. Di lorong Jalur Memori yang remang-remang, napasnya terdengar seperti gesekan amplas. Peta yang diberikan Kael tadi malam—kunci menuju rute rahasia—kini terasa seperti jerat yang mengencang di lehernya. Dinding simulasi di depannya terkunci dengan suara klik mekanis yang dingin. Di balik kaca transparan itu, zirah hitam pasukan elit Liora berkilau tertimpa cahaya neon sektor. Mereka mengepung pintu keluar palsu itu, menunggu mangsa yang sudah terjebak.
Aris menyadari kebodohannya. Kael tidak menjual peta; dia menjual posisi Aris.
Timer simulasi: 4 menit 12 detik. Jika pintu itu terkunci permanen, dia akan terjebak di ruang simulasi yang akan langsung dihapus oleh sistem. Tanpa berpikir panjang, Aris menekan telapak tangannya ke dinding simulasi. Ia tidak memohon belas kasihan pada sistem; ia memaksanya. Dengan mengorbankan 8% energi vital—rasa sakitnya tajam, seperti saraf yang terbakar—ia meretas logika ruang tersebut. Dinding digital itu bergetar, lalu retak. Aris melompat tepat saat dinding itu hancur menjadi debu piksel, menyelinap keluar sebelum sensor elit mendeteksi anomali. Energi Vital: 19%.
Ia mendarat di alun-alun lantai menengah. Kerumunan orang terdiam. Di tengah alun-alun, Liora berdiri dengan jubah sutra putih yang kontras dengan kekacauan di sekitar mereka.
"Data menunjukkan kau seharusnya sudah hancur di Sektor Bawah, Aris," suara Liora menggema melalui pengeras suara sistem, dingin dan penuh otoritas. "Pengkhianatan Kael hanyalah awal. Serahkan fragmen sistem itu, atau utang keluargamu akan dilunasi dengan penghapusan eksistensimu."
Aris berdiri tegak, meski kakinya gemetar. Energi vitalnya kini merosot hingga 15% akibat kenaikan paksa ke tier E-plus. Liora mengangkat tangan, memicu protokol serangan. Bilah cahaya pekat terbentuk di telapak tangannya. Saat Liora melesat, Aris tidak menghindar. Ia menyalurkan sisa energi vitalnya ke otot kakinya, melakukan manuver yang melanggar hukum fisika simulasi, menangkis bilah cahaya itu dengan perisai energi yang ia curi dari log sistem. Percikan api digital menghujani alun-alun. Publik bersorak, terkejut melihat si pecundang rendahan menahan serangan seorang bangsawan. Aris memanfaatkan kebingungan itu untuk meloloskan diri ke arah labirin pasar gelap.
Di Sektor Tengah, ia menemukan Kael sedang memamerkan data sistem Aris di depan agen elit. Aris tidak membuang waktu. Ia memicu feedback sistem dengan membanjiri jalur data Kael menggunakan fragmen memori yang ia curi dari rute rahasia. Bzzzt! Perangkat Kael meledak, menyemburkan percikan api biru. Kael menjerit, jatuh tersungkur saat hologramnya hancur. Namun, alarm keamanan Menara kini melengking keras. Aris tahu dia telah memicu sesuatu yang lebih besar.
Ia berlari ke rute terlarang, dinding digital di sana mulai mengelupas, mengungkapkan kehampaan di balik realitas Menara. Aris menyentuh dinding yang berdenyut itu, memaksakan sinkronisasi dengan fragmen memori terakhir. Data itu mengalir masuk, membakar sarafnya. Menara ini bukan alat pendakian. Ini adalah penjara digital raksasa, sebuah mesin penghisap energi vital manusia untuk mempertahankan eksistensi para penguasa. Aris tersungkur, napasnya tersengal. Dia bukan sekadar underdog yang berjuang untuk naik peringkat; dia adalah anomali yang baru saja menemukan kunci untuk menghancurkan sel penjara ini. Di luar sana, gerbang rotasi mulai menutup, dan dia sadar, Liora tidak akan berhenti sampai dia benar-benar lenyap.