Ancaman Eksistensial
Alarm akademi bukan lagi sekadar denting ritmis; itu adalah jeritan digital yang merobek kesunyian koridor. Panel kendali di dinding meledak, menyemburkan percikan api yang membakar udara. Kael berdiri di tengah kekacauan, napasnya pendek dan tajam. Di sudut pandangannya, antarmuka sistem berkedip merah dengan peringatan yang tidak bisa diabaikan: [Fungsi Pemulihan: Terkunci (21:00:00)].
"Tangkap dia! Jangan biarkan anomali itu mencapai Gerbang Ujian!" Suara instruktur senior menggema, disusul derap sepatu bot pasukan elit. Zirah hitam mereka memantul di bawah lampu darurat yang berkedip. Aris berdiri di barisan belakang, wajahnya pucat pasi, namun matanya berkilat penuh kebencian yang tak tersamar. "Dia hanya kutu yang menemukan celah. Habisi di tempat!"
Kael merasakan artefak Lantai 10 yang terintegrasi di dalam sistemnya berdenyut, menyerap energi korosif dari kerusakan jaringan akademi. [Misi: Menembus Gerbang Ujian Kematian. Sisa waktu: 58 detik.]
Tanpa membuang napas untuk berdebat, Kael melepaskan gelombang energi korosif. Cahaya hitam menyapu koridor, membutakan sensor pasukan elit dan melumpuhkan sistem penguncian gerbang. Ia melompat ke dalam pusaran energi tepat sebelum pintu tertutup rapat, meninggalkan Aris yang terpaku dengan rahang terkatup.
Di dalam ruang simulasi Ujian Kematian, dunia berubah menjadi labirin logam dingin. Kael tersungkur, energinya terkuras. Di depannya, monster-monster data—manifestasi log sistem yang rusak—mulai memadat. Mereka bukan makhluk fisik, melainkan gumpalan piksel tajam yang bergerak dengan pola predator.
"Kael, jangan melawan pola serangan mereka," suara Sena memecah keheningan melalui frekuensi darurat. "Mereka adalah manifestasi log sistem yang rusak. Lihat celah di antara piksel-piksel itu." Sebuah fragmen memori dikirimkan oleh Sena. Penglihatan Kael bergeser; dunia berubah menjadi deretan garis data. Di tengah gumpalan monster, ia melihat titik cahaya biru—inti data yang menjadi pusat kendali.
Tanpa akses pemulihan, Kael hanya memiliki satu kesempatan. Ia menerjang, menghunuskan artefak korosifnya tepat ke inti monster utama. Ledakan data terjadi, menghancurkan musuh, namun Kael menyadari bahwa lantai ini bukan sekadar ujian, melainkan penjara yang dirancang untuk menguras habis energinya.
Di luar arena, Dewan Akademi menyadari bahwa Kael masih hidup. Mereka mulai memanipulasi hukum lantai, mencoba meruntuhkan arena tersebut di atas kepala Kael. Kael tidak mencoba melarikan diri. Ia justru berlari ke arah pusat data terlarang yang tersembunyi di balik dinding simulasi. Ia melakukan sinkronisasi paksa dengan artefak Lantai 10, meretas balik protokol keamanan akademi.
"Dia gila! Dia mencoba meretas inti lantai!" teriak salah satu pengawal elit saat menyadari gerakan Kael di layar pemantau. Namun, terlambat. Kael berhasil menembus lapisan pertahanan terakhir. Saat dinding data itu runtuh, gerbang puncak lantai terbuka lebar, bukan ke level berikutnya, melainkan ke sebuah ruang hampa yang memperlihatkan entitas dari lantai atas—sosok-sosok yang selama ini mengawasi dan mempermainkan seluruh Menara. Kael menatap entitas itu, menyadari bahwa ia baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup selamanya.