Lantai Terlarang Terbuka
Cahaya biru di retina Kael berkedip liar, berubah menjadi merah pekat yang menyakitkan. Artefak berbentuk pecahan kristal hitam di saku jaketnya terasa semakin panas, membakar kulit paha hingga menembus kain seragam. Setiap detak jantungnya memicu gelombang interferensi pada sistem yang kini menjeritkan peringatan: SINKRONISASI DATA ARTIFAK: 84% - KERUSAKAN MODUL INTI MENDETEKSI KETIDAKSTABILAN.
Di belakangnya, lorong rute tersembunyi Lantai 10 runtuh menjadi piksel-piksel cahaya yang memudar. Di depan, gerbang keluar—satu-satunya akses menuju akademi—hanya berjarak lima puluh meter, namun sensor keamanan menara sudah mulai menyapu area dengan sinar laser ungu. Kael menahan napas saat sensor itu melewati kepalanya dengan selisih sentimeter. Jika tertangkap di sini, ia akan dihapus sebagai anomali. Sistem bergetar, antarmukanya menampilkan teks yang berantakan: SISA WAKTU AKSES: 38 DETIK.
Kael tidak bisa keluar secara konvensional. Sensor itu dikunci pada tanda tangan energi siswa terdaftar, dan sistemnya yang rusak kini memancarkan frekuensi yang tidak dikenali. Ia menarik artefak itu keluar, membiarkan energi korosifnya menyatu dengan antarmuka sistem. Rasa sakit yang tajam menghantam otaknya, namun dalam sekejap, identitasnya tersamar di bawah lapisan enkripsi artefak. Ia melompat menembus gerbang tepat saat sensor menyapu lokasi, mendarat di koridor akademi dengan debu yang masih melekat di pakaiannya.
Namun, keheningan koridor itu tidak berlangsung lama. Sesosok bayangan muncul dari balik pilar—Aris. Bahunya yang terbalut perban masih menunjukkan bekas luka akibat insiden di reruntuhan. Di tangannya, sebuah perangkat perekam kristal memancarkan cahaya merah—bukti visual bahwa Kael telah mengakses zona terlarang di Lantai 10.
"Berhenti bersembunyi, Kael. Aku tahu kau tidak hanya sekadar bertahan hidup di sana," suara Aris tenang namun penuh ancaman. "Aku adalah bintang akademi. Dewan akan menganggap ini sebagai misi rahasia yang gagal. Sedangkan kau? Kau hanyalah sampah sistem yang akan dibuang jika mereka tahu kau mencuri data dari rute ilegal."
Kael bangkit, menekan rasa perih di dadanya. Sistemnya memberikan notifikasi: Pemblokiran akses pemulihan: 21 jam tersisa. Ia menatap Aris, bukan dengan rasa takut, melainkan dengan ketenangan yang dingin. "Kau punya bukti, Aris? Atau kau hanya punya rekaman yang membuktikan bahwa kau sendiri berada di tempat yang dilarang? Data anomali yang kusembuhkan dari lukamu... aku masih punya salinannya. Jika kau melaporkanku, aku akan memastikan dewan tahu siapa yang sebenarnya membocorkan protokol keamanan ini."
Aris terdiam, jemarinya mencengkeram perangkat itu lebih erat. Kael tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan berlari menuju ruang penyimpanan bawah tanah, tempat yang paling jarang dikunjungi oleh sensor dewan.
Di dalam ruangan yang pengap dan berbau debu logam itu, Sena sudah menunggu. Gadis itu menatap cahaya biru yang merembes keluar dari sela jari Kael. "Apa yang kau bawa? Kau menarik perhatian sensor dewan akademi. Jika mereka melacak fluktuasi ini, kita berdua tamat."
Kael tersungkur di balik rak arsip tua. "Ini bukan sekadar barang curian, Sena. Sistemku... dia tidak rusak. Dia sedang dipaksa melakukan integrasi. Artefak ini adalah kunci, tapi sistemku menolak untuk memuatnya tanpa mengorbankan bagian lain dari memori pendaki pertama."
Saat Kael memaksakan integrasi, antarmukanya memproyeksikan data yang kacau. Bukan statistik level biasa, melainkan fragmen memori yang tumpang tindih—wajah pendaki pertama, koordinat lantai yang terlarang, dan garis waktu yang tidak seharusnya ada. Tiba-tiba, sistemnya bergetar hebat. Artefak di tangannya meledak dalam denyut cahaya biru yang merobek realitas di sekitarnya, membanjiri antarmuka sistem dengan data mentah yang tak terkendali. Kael menjerit saat sistemnya melakukan hard-reset paksa, mengacaukan setiap modul yang tersisa tepat saat alarm investigasi dewan menggema di seluruh koridor akademi.