Pilihan Sang Pecundang
Napas Kael memburu, memecah keheningan koridor akademi yang sedingin es. Di balik kulit lengannya, sisa energi dari Lantai 10 berdenyut liar—sebuah residu panas yang terasa seperti racun. Antarmuka sistem di sudut pandangannya berkedip merah: [Akses Pemulihan: Terkunci (21:00:00 tersisa)]. Ia baru saja lolos dari maut, namun di ujung koridor, bayangan Aris memanjang, memutus jalan keluarnya.
"Terlalu cepat untuk seseorang yang seharusnya sudah dideportasi, Kael," suara Aris tajam, sarat akan otoritas yang dipaksakan. Ia melangkah keluar dari kegelapan, memutar kristal perekam di jemarinya. Cahaya biru redup dari alat itu memantulkan rekaman Kael yang keluar dari rute ilegal Lantai 10. "Dewan tidak perlu tahu banyak. Cukup satu bukti ini, dan masa depanmu di Menara berakhir."
Kael merasakan lubang menganga di ingatannya—biaya yang ia bayar untuk membuka gerbang. Ia tidak punya energi untuk berdebat, apalagi bertarung. "Simpan kristal itu, Aris," ujar Kael datar. "Jika kau menyerahkannya, kau mengakui bahwa rute yang kau jaga selama ini memiliki celah yang bahkan tidak bisa kau pahami. Kau ingin menjadi elit, atau hanya penjaga gerbang yang gagal?"
Sebelum Aris sempat membalas, guncangan hebat menghantam Menara. Struktur koridor berderak; pilar marmer di atas mereka retak dan runtuh. Aris kehilangan keseimbangan, kakinya terjepit reruntuhan beton yang berat. Wajah angkuhnya berubah pucat pasi saat ia menyadari posisinya kini di bawah Kael.
"Bantu aku," desis Aris, harga dirinya hancur. "Kael, tarik aku keluar. Aku akan menghapus rekaman ini."
Sistem Kael bergetar. [Data anomali penjaga gerbang terdeteksi pada luka Aris. Penyerapan data dimungkinkan. Risiko: Pengurasan energi total.]
Kael menatap rivalnya. Membiarkannya mati adalah pilihan termudah, namun data di dalam luka Aris adalah kunci untuk memahami hierarki Lantai 10 yang baru saja ia tembus. Kael mengulurkan tangan, menyalurkan sisa energinya untuk mengangkat reruntuhan. Saat kontak fisik terjadi, sistem Kael menyedot residu energi dari tubuh Aris secara paksa. Informasi tentang struktur lantai terlarang membanjiri otaknya, namun Kael ambruk, energinya terkuras hingga titik nadir.
Keesokan harinya, di aula utama, Kael kembali dengan tatapan kosong. Aris berdiri di sana, lukanya telah pulih, namun kebencian di matanya lebih dalam dari sebelumnya. Saat layar peringkat real-time diperbarui, posisi Aris bergeser turun. Ia menatap Kael dengan kebencian murni, menyadari bahwa posisinya di puncak mulai terancam oleh anomali yang dibawa Kael.
Sena muncul dari balik bayang-bayang, matanya tajam mengamati aura hitam yang samar di lengan Kael. "Kau bermain dengan api, Kael. Artefak yang kau bawa dari inti penjaga gerbang itu bukan sekadar kunci. Itu adalah bom waktu yang sedang merobek antarmuka sistemmu dari dalam."
Kael tidak menjawab. Di sakunya, artefak itu berdenyut liar, memancarkan energi yang mulai mengacaukan antarmuka sistemnya, mengubah setiap baris data menjadi statis merah yang menyakitkan.