Rotasi yang Mematikan
Lampu neon di lorong Sektor Bawah berkedip liar, memuntahkan cahaya biru pucat yang dingin. Kael berlari, napasnya memburu, sementara gema langkah kaki berat tim keamanan dewan akademi menghantam dinding logam di belakangnya.
[TIMER: 00:58]
Angka itu berdenyut merah di sudut pandang Kael, seirama dengan detak jantungnya yang kencang. Di ujung lorong, gerbang menuju Lantai 10 berdiri kokoh, tertutup rapat dengan segel energi yang mulai memudar. Jika ia tidak masuk sebelum hitungan itu mencapai nol, akses rute tersebut akan terkunci permanen.
"Berhenti, Kael! Kamu tidak punya izin akses ke zona terbatas!" seru suara komandan tim keamanan. Sebuah proyektil energi melesat, menghantam dinding tepat di samping kepala Kael, memercikkan bunga api listrik.
Tanpa akses pemulihan, setiap langkah terasa seperti menembus kaca tajam. Namun, ingatannya—potongan memori pendaki pertama—memberikan pola yang tidak terlihat oleh siapa pun. Saat ia mencapai panel kontrol gerbang yang tampak mati, Kael tidak mencoba meretasnya dengan metode akademi standar; ia menempelkan telapak tangannya pada titik retakan yang hanya bisa dilihat oleh sistem rusaknya. Dengan satu hentakan energi, pintu itu bergeser. Kael melompat masuk tepat saat hitungan mencapai nol, meninggalkan para penjaga yang terpaku di depan gerbang yang kini tertutup rapat.
Lantai sepuluh menyambutnya dengan keheningan yang menyesakkan. Udara di sini terasa tipis, berbau logam berkarat.
[PERINGATAN: Akses Pemulihan Diblokir. Sisa Waktu: 21 Jam.] [HUKUM LANTAI 10: Hanya yang meneteskan darah pendaki pertama yang bisa melintas.]
Kael mengumpat pelan. Darah pendaki pertama bukan sekadar cairan biologis, melainkan metafora untuk memori. Sistem memproyeksikan dua jalur: mempertahankan ingatan masa kecilnya tentang rumah yang hangat atau mengorbankan memori itu sebagai kunci untuk membuka rute tersembunyi. Kael memejamkan mata, membiarkan sistem menyedot memori tersebut. Rasa hampa yang dingin menjalar di otaknya, namun rute di depannya terbuka lebar.
Lantai 10 bergetar hebat. Di ujung lorong, sebuah entitas berbentuk humanoid dengan tekstur kulit berbatu obsidian berdiri tegak. Penjaga gerbang ini tidak mengaum; ia meniru postur Kael, menyesuaikan panjang langkahnya dengan presisi yang mengerikan.
Peringatan Sistem: Penjaga mengadaptasi pola pergerakan pengguna.
Kael mengayunkan belati akademi, namun monster itu menangkisnya dengan kecepatan dua kali lipat. Setiap teknik yang Kael ambil dari memori pendaki pertama seolah terbaca. Kael menyadari kejanggalan itu: monster ini bereaksi terhadap pendar energi dari sistemnya. Ia mematikan sinkronisasi sistem, membiarkan tubuhnya bergerak berdasarkan insting murni. Saat sistem mati, monster itu tampak bingung selama sepersekian detik. Namun, itu hanya awal; tubuh monster tersebut mulai terdistorsi, bermutasi menjadi bentuk mengerikan yang tidak tercatat di database mana pun.
Kael terhuyung keluar dari zona terlarang saat gerbang rotasi perlahan menyatu kembali. Sepuluh meter di depannya, Aris berdiri dengan seragam akademi yang sempurna. Mata Aris menyipit, memindai debu dan sisa energi anomali pada tubuh Kael.
"Kau seharusnya sudah dikeluarkan, Kael," ujar Aris dingin, tangannya mulai berpijar dengan aura peringkat tinggi. "Tapi kau muncul dari zona yang bahkan dewan tidak berani sentuh. Apa yang kau curi di sana?"
Kael menatap balik, matanya dingin, tanpa rasa takut. Ia tahu posisinya di peringkat mulai goyah, dan kebencian murni di mata Aris adalah bukti bahwa ia telah melampaui batas yang ditetapkan sistem akademi.