Harga dari Sebuah Anomali
Alarm akademi meraung, membelah keheningan Menara yang terkutuk. Kael memacu kakinya, otot-ototnya menjerit saat ia menembus kabut eter yang kian menebal. Di depannya, dinding realitas mulai retak seperti kaca yang dihantam palu godam—sistem error ini sedang memakan rute pelariannya. "Lima puluh detik!" gumam Kael, napasnya tersengal di antara kepulan debu dimensi.
Tanpa ragu, ia memejamkan mata sejenak, memanggil memori sang pendaki pertama. Bayangan pola geometris muncul di retinanya, menyorot titik lemah pada struktur yang mulai meluruh. Kael tidak berlari lagi; ia menerjang. Ia melompat tepat ke arah celah yang tampak kosong, mengabaikan gravitasi yang mulai berbalik arah. Tanah di bawahnya runtuh menjadi ketiadaan, menyedot sisa-sisa lantai ke dalam kehampaan digital. Kael memutar tubuhnya di udara, tangannya mencengkeram tepi gerbang yang berkedip tak stabil. Waktu semakin tipis, gerbang itu mulai menutup, menyisakan celah sekecil jarum. Sistem mengeluarkan peringatan merah: Stabilitas rute: 5%. Dengan satu teriakan tertahan, ia menendang titik tumpu yang tampak kosong, melontarkan dirinya keluar tepat sebelum realitas di belakangnya terlipat sempurna.
Dinding batu di ujung lorong rahasia bergetar hebat saat Kael terhempas ke lantai akademi. Debu sisa reruntuhan menempel di seragamnya yang compang-camping, namun sensasi di dalam nadinya jauh lebih mendesak. Sebuah aliran energi dingin yang asing menjalar dari sistem—bukan kekuatan yang bisa diukur dengan angka, melainkan memori mentah dari pendaki pertama yang kini terpatri di otaknya. Sistem: Sinkronisasi rute terlarang selesai. Tier: Peningkatan sementara tercapai.
Kael terhuyung, kepalanya serasa dihujam belati. Belum sempat ia menstabilkan napas, notifikasi biru yang dingin muncul di depan matanya. Peringatan: Biaya Progresi. Akses ke fasilitas pemulihan akademi diblokir selama 24 jam. Kompensasi energi yang dipinjam dari struktur lokal. "Sial," desis Kael. Tanpa akses ke kolam pemulihan, luka-luka di tubuhnya akibat rute terlarang tidak akan sembuh secara alami. Ia baru saja mendapatkan kekuatan, namun sistem memaksanya untuk menanggung beban fisik yang nyata sebagai harga dari kenaikan tier tersebut.
Langkah kaki Aris menggema di koridor, memotong napas Kael yang masih memburu. Tanpa basa-basi, sang bintang akademi mencengkeram kerah seragam Kael, menyudutkannya ke dinding beton. Bau ozon dan sisa energi anomali menguar dari jubah Kael—tanda jelas dari zona terlarang. "Kau mencuri artefak dari Sektor 9, Sampah?" desis Aris. Kerumunan siswa mulai melingkar, berbisik melihat sang peringkat bawah yang kini tampak berbeda.
Kael tidak gentar. Matanya yang dingin menatap Aris, membedah setiap ketegangan otot lawannya. "Teknik Sirkulasi Petir milikmu itu cacat, Aris. Titik akumulasi di meridian bahumu terlalu rendah, itulah kenapa tangan kirimu gemetar setiap kali suhu turun." Cengkeraman Aris melonggar seketika. Wajahnya memucat, berganti merah padam saat rahasia teknik elitenya dibongkar di depan publik. Aris mundur selangkah, tatapannya kini berubah menjadi belati tajam yang sarat ancaman mematikan. "Jangan kira kau bisa menyembunyikan kelemahan itu selamanya," bisik Aris, suaranya rendah namun bergetar hebat karena amarah yang tertahan. "Kau baru saja menggali kuburanmu sendiri."
Aris pergi, namun Kael tidak memiliki waktu untuk bernapas. Dinding koridor kembali bergetar. Cahaya biru dingin dari sistem yang tertanam di retinanya berkedip liar, memproyeksikan peringatan merah: [DETEKSI ANOMALI TINGGI: 45 DETIK MENUJU PENUTUPAN AKSES RUTE TERLARANG].
Suara sirine melengking, memecah kesunyian malam. "Siapa di sana?" teriak suara berat dari arah pos penjaga. Instruktor akademi bergerak cepat, sepatu bot mereka menghantam lantai marmer. Kael berlari, mengabaikan otot kakinya yang terasa seperti akan robek. Fokusnya hanya satu: pintu keluar zona aman. Namun, sensor tidak bisa dibohongi. Sebuah laser merah melesat, menyapu tubuhnya. Sesaat kemudian, suara pengumuman akademi menggema di seluruh koridor, memanggil namanya untuk investigasi segera. Kael menyadari kenaikan tier-nya telah mengunci posisinya sebagai anomali yang harus dimusnahkan, tepat saat Menara bergetar hebat, membuka lantai baru yang belum pernah terjamah.