Novel

Chapter 11: Kebangkitan Sang Pecundang

Kaelen terdesak oleh pasukan Aris di lantai terlarang dan terpaksa melakukan konversi sisa umur secara ekstrem untuk mencapai Tier 3, yang memungkinkannya melarikan diri ke lantai yang lebih tinggi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kebangkitan Sang Pecundang

Cahaya biru dari artefak kuno di genggaman Kaelen berdenyut, menyakitkan mata. Di sekelilingnya, dinding-dinding lantai terlarang mulai meretap, memuntahkan sisa-sisa debu memori dari peradaban yang telah lama dipanen oleh Menara. Kaelen terengah, keringat dingin membasahi pelipisnya. Sisa masa hidupnya yang terpampang di sudut penglihatan kini menunjukkan angka 70 jam—waktu yang terus menyusut seiring dengan ketidakstabilan sistem Tier 2 miliknya.

"Stabilitas 88 persen," bisik Kaelen, suaranya serak. Jika ia tidak segera menstabilkan energi yang terserap dari artefak, tubuhnya akan hancur sebelum ia sempat mencapai pusat lantai. Di kejauhan, gema langkah kaki yang teratur dan berat memecah keheningan. Aris. Rivalnya itu tidak akan membiarkan Kaelen pergi dengan rahasia yang ia pegang. Pasukan bayaran elit akademi mengepung akses koridor, membuat jalan keluar satu-satunya adalah menembus inti lantai ini.

Kaelen menatap artefak di tangannya. Ia punya dua pilihan: membuangnya dan mencoba melarikan diri dengan sisa kekuatan yang ada, atau menyerap energinya secara paksa dan mempertaruhkan sisa umur untuk mendapatkan otoritas akses. Pilihan pertama adalah kematian di tangan Aris; pilihan kedua adalah perjudian hidup dan mati. "Lima jam," gumam Kaelen, membuat keputusan dingin. Ia memejamkan mata, membiarkan sistem merobek sisa masa hidupnya demi memicu lonjakan stabilitas yang instan.

Dinding koridor Sektor B-7 bergetar, memancarkan cahaya biru neon yang berkedip tidak stabil. Sisa umur Kaelen kini terkunci di angka 69 jam 42 menit. Setiap detak jantungnya terasa seperti pencurian waktu yang nyata. "Kaelen! Jangan bermimpi bisa lari lebih jauh," suara Aris menggema, dingin dan penuh otoritas. Di ujung koridor yang menyempit, Aris muncul bersama tiga pasukan bayaran akademi yang mengenakan zirah tempur lapis baja hitam—siap untuk eksekusi. Kaelen terpojok. Di belakangnya hanya ada dinding batu tua yang tertutup segel kuno.

Ia melirik sistemnya; stabilitas Tier 1 miliknya bergetar di angka 88%. Jika ia dipaksa bertarung sekarang tanpa stabilitas penuh, tubuhnya bisa hancur oleh tekanan energi internal sendiri. "Kamu bukan lagi anomali yang bisa diabaikan," desis Aris, tangannya memegang belati pemutus arus. Kaelen tidak menjawab. Ia memusatkan fokus pada fragmen memori yang ia serap. Di matanya, koridor itu bukan sekadar lorong; itu adalah susunan kode yang retak. Dengan satu sentakan otoritas sistem, Kaelen memicu jebakan lantai yang tersembunyi. Gerbang besi berat jatuh menghantam lantai, memisahkan Aris dari jangkauannya. Namun, Aris sempat melemparkan belatinya, merusak modul navigasi Kaelen dan memaksanya terperosok lebih dalam ke area yang belum terpetakan.

Di ruang inti yang gelap, Kaelen menemukan bahwa Menara bukanlah sistem peringkat, melainkan mesin pengolah kehidupan. Notifikasi merah muncul di udara: [Peringatan: Terobosan Tier 3 memerlukan pengorbanan 20 jam sisa umur. Risiko kegagalan sistemik: Tinggi. Lanjutkan?] Di luar pintu batu yang mulai retak, derap langkah pasukan Aris terdengar semakin dekat. Kaelen tidak punya pilihan. Jika ia diam, ia mati. "Lakukan," tegasnya. Rasa sakit membakar menjalar dari saraf pusatnya saat sistem merombak struktur energinya secara paksa. Kaelen jatuh berlutut, napasnya tersengal saat ia merasakan esensi kehidupannya disedot keluar untuk mengisi celah-celah energi yang retak. Tier 1 yang tadinya labil kini melebur, digantikan oleh kekuatan yang jauh lebih pekat dan berbahaya.

Alarm Menara melengking, memecah kesunyian lantai terlarang dengan frekuensi tajam. Pasukan Aris telah menembus penghalang, mengepung Kaelen di ruang inti yang sempit. "Berhenti, Kaelen!" suara Aris bergema dari ambang pintu yang baru saja jebol. Kaelen berdiri dengan sisa umur yang kini menipis drastis. Ia memicu ledakan energi dari Tier 3 miliknya, menghancurkan lantai di bawahnya dan menciptakan celah untuk melarikan diri. Saat ia menatap ke atas melalui retakan lantai, ia melihat lantai yang jauh lebih tinggi dan lebih gelap, menyadari bahwa pendakiannya baru saja dimulai di neraka yang sesungguhnya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced