Lari dari Rotasi Gerbang
Lantai 1 Menara bukan lagi sekadar ruang latihan. Di mata Kaelen, dinding-dinding batu itu berdenyut dengan pola cahaya yang tidak terlihat oleh murid lain—sebuah mesin pemanenan energi raksasa yang sedang berotasi. Tiga menit. Hanya itu waktu yang tersisa sebelum gerbang utama disegel permanen. Di sekelilingnya, udara bergetar hebat. Gravitasi di zona ini tidak lagi stabil; lantai di bawah kakinya melengkung seperti permukaan air yang diaduk.
Kaelen merasakan kain penyerap energi pemberian Mira di balik jubahnya mulai terasa panas, tanda bahwa ia telah menyerap terlalu banyak sisa energi yang seharusnya dipanen oleh Menara. Jika ia tidak segera keluar, sensor akademi akan mendeteksi anomali ini dan melabelinya sebagai kriminal Menara. 10% sisa masa hidupnya terbakar habis sebagai biaya aktivasi sistem saat ia memicu fragmen memori untuk memanipulasi gravitasi di depannya. Tubuhnya terlempar melintasi celah yang hancur, mendarat dengan keras di sisi lain. Napasnya tersengal, namun ia tidak punya waktu untuk beristirahat.
Dinding koridor transisi bergetar, mengeluarkan suara dentuman logam yang ritmis. Di depannya, dua penjaga otomatis berbentuk laba-laba mekanis dengan bilah laser merah berpendar menutup akses utama. Sensor akademi telah menandai Kaelen sebagai 'sampah' yang tertinggal. Timer penyamaran di sudut pandang Kaelen berdetak: 00:02:14. Kain penyerap energi itu mulai robek di bagian ujungnya, membiarkan sedikit energi Tier 1 miliknya bocor.
Ia tidak bisa melawan frontal. Kaelen mengambil segenggam debu logam dari lantai dan melemparkannya ke arah sensor optik penjaga di sisi kiri. Saat mesin itu berputar, Kaelen memicu gravitasi mikro tepat di bawah kaki penjaga tersebut, membuatnya kehilangan keseimbangan dan menabrak rekan mesinnya sendiri. Kaelen melesat melewati mereka, namun kain penyamarannya hancur total, memicu lonjakan alarm di seluruh koridor.
Di ambang gerbang yang mulai menyempit, Kaelen melihat sebuah fragmen inti energi—sisa dari mesin pemanen yang baru saja ia hancurkan—berdenyut liar. Itu adalah sumber daya yang cukup untuk menaikkan Tier-nya, namun posisinya berada sepuluh meter di sisi yang salah. Timer menunjukkan 00:00:12. Jika ia mengambilnya, ia akan terjebak. Kaelen menerjang ke arah inti itu, menyambarnya, dan melompat tepat saat gerbang logam berdebum menutup rapat di belakangnya. Suara dentuman itu memekakkan telinga, mengunci dunia di dalam Menara.
Kaelen mendarat di Plaza Utama Akademi, debu sisa gerbang menempel di seragamnya. Keheningan plaza pecah saat Aris berdiri di depan air mancur kristal, menatapnya dengan dingin.
"Peringkat 312," suara Aris menggema, penuh penghinaan. "Kau terlambat untuk sesi latihan, atau mungkin, kau baru saja mencuri sesuatu dari lantai yang seharusnya tidak kau masuki?"
Jantung Kaelen berdegup kencang; sensor akademi mulai mendeteksi anomali energi di tubuhnya. Aris memanipulasi rotasi gerbang untuk menjebaknya, dan kini, di depan semua orang, Aris melangkah maju.
"Aku menantangmu duel resmi besok pagi. Jika kau menolak, kau dikeluarkan dari akademi karena pelanggaran zona terlarang. Jika kau menerima, kita lihat seberapa jauh sampah sepertimu bisa bertahan."
Kaelen menatap Aris, menyadari bahwa duel ini adalah jebakan untuk mengungkap kekuatannya. Namun, ia tidak punya pilihan lain.