Panggung Ujian Publik
Alarm akademi meraung, membelah udara ruang latihan bawah tanah dengan frekuensi yang menyakitkan telinga. Di sudut pandang Kaelen, angka merah berkedip: 00:02:14. Itu adalah sisa waktu sebelum sensor keamanan mengunci pintu dan memindai residu energi Tier 1 yang baru saja ia paksa muncul.
Kaelen mencengkeram kain penyerap energi pemberian Mira. Kain itu terasa dingin, menyerap sisa-sisa energi yang bocor dari pori-porinya. Sisa masa hidupnya—kini berkurang 10%—terasa seperti beban fisik yang menekan paru-parunya. Saat ia mencapai ambang pintu, sensor di atas gerbang berputar, memindai koridor dengan cahaya biru tajam. Kaelen mematung di balik pilar, menahan napas sampai cahaya itu bergeser, lalu melesat keluar ke koridor utama tepat saat pintu di belakangnya terkunci permanen.
Namun, kebebasan itu hanya ilusi. Langkah kaki berat bergema di marmer. Aris muncul, dikelilingi aura otoritas yang membuatnya tampak seperti raja di antara para pion. Matanya tertuju pada papan peringkat publik di dinding utama—nama Kaelen baru saja melompat sepuluh posisi ke atas.
Aris mendekat, jemarinya memancarkan percikan listrik statis. "Papan itu rusak, atau kau mencuri relik dari gudang bawah tanah?" tanya Aris, suaranya rendah dan penuh penghinaan. Ia mendorong bahu Kaelen dengan kasar. Kaelen menahan diri. Jika ia membalas dengan kekuatan Tier 1-nya sekarang, sensor akademi akan mengunci posisinya dalam hitungan detik. Aris pergi dengan tawa meremehkan, mengira Kaelen hanyalah pecundang yang beruntung, namun Kaelen kini memiliki data taktis atas pola serangan rivalnya itu.
Di Arena Utama, suasana menjadi riuh. Ribuan siswa berkumpul saat papan peringkat raksasa bergetar. Nama 'Kaelen' yang selama tiga tahun mendekam di posisi buncit—peringkat 450—kini bertengger di posisi 312.
"Mustahil!" seru seseorang di kerumunan.
Aris, yang berdiri di panggung kehormatan, menoleh dengan tatapan tajam. Ia tidak bisa membiarkan noda pada reputasinya ini berlanjut. Aris secara terbuka menantang Kaelen untuk duel di tengah arena, sebuah jebakan sosial yang tidak bisa dihindari. Kaelen melangkah masuk, merasakan tatapan menghakimi dari para elit akademi.
Saat duel dimulai, Aris menerjang dengan kecepatan tinggi. Kaelen tidak melawan dengan kekuatan penuh, melainkan menggunakan rute tersembunyi yang hanya terlihat oleh sistem rusaknya untuk mengantisipasi setiap gerakan Aris. Namun, kemenangan tipis itu justru memicu bencana baru.
Sebuah notifikasi merah menyala di retina Kaelen: [Peringatan: Kenaikan Peringkat memicu Sinkronisasi Lantai Baru. Rute Terlarang terbuka. Risiko: Kematian permanen. Waktu tersisa: 00:03:00].
Lantai arena di bawah kakinya retak, memancarkan cahaya biru pucat yang hanya bisa dilihatnya. Kaelen menyadari dengan ngeri bahwa arena ini bukan sekadar tempat ujian, melainkan umpan sistem untuk memanen energi siswa. Ia bukan hanya harus mengalahkan Aris, tetapi harus bertahan dari jebakan Menara yang baru saja ia picu. Di balik retakan lantai, ia melihat fragmen memori yang berdenyut—sebuah peringatan kuno yang menunjukkan bahwa lantai ini adalah jebakan maut yang disamarkan sebagai ujian.