Novel

Chapter 2: Harga dari Sebuah Kenaikan

Kaelen berhasil mengamankan Tier 1 melalui konversi sisa hidupnya, namun tindakan tersebut memicu alarm akademi. Saat ia kembali ke ruang latihan, ia harus menghadapi konfrontasi fisik dengan Aris yang curiga, sementara namanya mulai naik di papan peringkat publik, menarik perhatian yang berbahaya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga dari Sebuah Kenaikan

Sensasi terbakar merambat di sepanjang pembuluh darah Kaelen, seolah-olah logam cair disuntikkan langsung ke jantungnya. Di sudut pandang penglihatannya, angka timer yang tersisa berkedip merah: 00:04:12. Sistem rusaknya bekerja dengan brutal, mengonversi 10% sisa masa hidupnya menjadi energi murni yang memaksa otot-ototnya untuk beradaptasi secara instan.

Kaelen jatuh berlutut, napasnya tersengal. Lantai batu dingin di rute terlarang Menara terasa seperti satu-satunya jangkar di tengah guncangan realitas yang ia alami. Tubuhnya menolak transformasi ini; keringat dingin membanjiri pelipisnya, dan setiap inci kulitnya terasa seperti tersayat ribuan pisau kecil. Namun, di balik rasa sakit yang melumpuhkan, ia merasakan perubahan. Kekuatan yang selama ini absen, yang membuatnya menjadi pecundang di mata akademi, kini mengalir melalui tendonnya. Poin Tier pertamanya akhirnya terpatri dalam sistem: [TIER 1: AWAKENING - TERKUNCI. Efek: Peningkatan refleks dan persepsi spasial.]

Kaelen menahan erangan. Ia tidak punya waktu untuk menikmati kenaikan level ini. Detak jantungnya melambat drastis—sebuah efek samping yang mengerikan dari konversi sistem yang tidak stabil. Ia merasa seperti mesin yang kehabisan bahan bakar, namun dengan transmisi yang baru saja diperkuat secara paksa. BEEP. BEEP. BEEP. Alarm sensor akademi meraung di kejauhan, memecah keheningan lantai yang seharusnya tidak terdeteksi.

"Kalau kau tidak segera bergerak, petugas keamanan akan mengunci rute ini dan menguburmu di dalam beton," bisik sebuah suara dingin dari balik bayang-bayang pilar.

Mira muncul, raut wajahnya setenang air, namun matanya menatap Kaelen dengan urgensi yang nyata. Ia melemparkan sebuah kain penyerap energi ke arah Kaelen. "Gunakan ini untuk membungkus inti energimu. Jika mereka menemukanmu di sini, bukan hanya status muridmu yang dicabut, tapi nyawamu akan dijadikan tumbal untuk menambal kebocoran sistem ini."

Kaelen tidak bertanya. Ia melilitkan kain itu ke pergelangan tangannya, merasakan aliran energi anomali yang ia ciptakan mulai meredup dan terserap ke dalam kain. Dengan sisa tenaga yang ada, ia merangkak keluar dari celah rute terlarang tepat saat pintu gerbang Menara disegel dengan dentuman logam yang memekakkan telinga. Ia berhasil keluar ke ruang latihan umum, terengah-engah, tubuhnya nyaris kolaps di atas lantai marmer yang dingin.

Belum sempat ia mengatur napas, udara di ruang latihan mendadak terasa berat dan berbau ozon tajam.

"Lihat siapa yang mencoba jadi pahlawan," suara Aris memecah kesunyian, penuh ejekan. Aris melangkah masuk, otot-ototnya menegang, matanya menyapu tubuh Kaelen yang tampak pucat dan gemetar. "Masih mencoba memaksakan bakat sampahmu, Kaelen? Kau terlihat seperti bangkai yang hampir busuk."

Aris melesat maju, sebuah tinju kasar terarah tepat ke rahang Kaelen. Di mata orang lain, serangan itu terlalu cepat untuk dihindari, namun bagi Kaelen, dunia seolah melambat. Berkat Tier 1, gerakan Aris terbaca seperti buku terbuka. Dengan langkah gesit yang tidak wajar, Kaelen miring sedikit, membiarkan tinju itu menyambar angin. Aris tertegun, matanya membelalak saat menyadari pukulannya meleset. Kecurigaan tajam mulai membakar pupilnya.

"Sialan, kau menghindar?" geram Aris, otot lengannya menegang saat ia menarik kembali kepalan tangannya. "Kebetulan yang sangat menjijikkan, Sampah."

Kaelen tidak menjawab. Ia merasakan aliran energi hangat yang baru saja terkunci di intinya berdesir tenang, memberikan persepsi ruang yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. Ia menatap Aris dengan dingin, menyadari bahwa setiap detiknya kini adalah pertaruhan.

Tiba-tiba, layar holografik di Aula Utama Akademi bergetar hebat. Nama 'Kaelen' yang selama tiga tahun mendekam di dasar daftar, tiba-tiba melompat naik, melewati puluhan nama siswa berbakat. Angka di samping namanya berpijar merah, menandakan kenaikan tier yang tidak wajar. Notifikasi sistem berkedip di retina Kaelen: [Peringatan: Energi Anomali Terdeteksi. Durasi Penyamaran: 00:02:14].

Aris melirik papan peringkat, lalu kembali menatap Kaelen dengan seringai tipis yang mematikan. "Sistem akademi tidak salah hitung. Kau menggunakan metode terlarang untuk memanipulasi tier, bukan?"

Kaelen tahu bahwa dalam dua menit ke depan, sensor pusat akan mengunci posisinya sepenuhnya. Kekuatan pertama telah didapat, namun jejak energinya kini menjadi suar bagi kehancurannya sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced