Sisa Waktu: 00:05:00
Cahaya biru pucat dari papan peringkat kristal di Aula Utama Akademi memancarkan sorot dingin ke wajah Kaelen. Di baris paling bawah, nama 'Kaelen' berkedip merah—sebuah penanda administratif yang berarti satu hal: deportasi permanen dari Menara.
"Peringkat 492. Tidak ada kenaikan tier selama satu semester," suara berat Instruktur Hektor memecah keheningan aula. Ia berdiri di belakang Kaelen, bayangannya menutupi papan peringkat seolah ingin menghapus keberadaan pemuda itu sepenuhnya. "Kaelen, kebijakan akademi tidak mengenal belas kasihan bagi parasit yang menyia-nyiakan sumber daya. Keluar dari gerbang utama dalam sepuluh menit, atau penjaga akan menyeretmu keluar."
Kaelen mengepalkan tinju hingga buku jarinya memutih. Debat tidak akan mengubah fakta. Keluarganya tewas karena kemiskinan setelah kakeknya kehilangan akses ke Menara, dan kini, sejarah itu berulang di depan matanya. Ia tidak punya tempat untuk kembali.
"Saya masih punya waktu sebelum rotasi gerbang lantai satu ditutup," sahut Kaelen, suaranya datar namun penuh tekanan. "Sesuai hukum akademi, siswa berhak melakukan satu upaya pembuktian terakhir sebelum pengusiran resmi."
Hektor tertawa sinis, suara itu menggema di lorong yang kosong. "Lantai satu? Kau bahkan tidak bisa menembus slime tingkat rendah di sana. Silakan, habiskan sisa hidupmu di lantai bawah. Itu tidak akan mengubah nasibmu."
Kaelen tidak membuang waktu. Ia berlari menuju ruang latihan bawah tanah, tempat pembuangan bagi siswa yang dianggap gagal. Bau apak beton basah dan debu besi memenuhi paru-parunya. Di dinding, papan hologram berkedip lemah, menampilkan daftar nama yang terkunci statis. Nama Kaelen berada di urutan paling bawah, tertimbun di bawah bayang-bayang elit seperti Aris yang namanya bersinar terang di puncak.
Lima menit lagi, atau kau keluar dari akademi selamanya.
Kaelen menatap tangannya yang gemetar. Tiba-tiba, pandangannya kabur. Antarmuka sistem yang biasanya stabil dan membosankan mendadak berubah. Garis-garis kode berwarna merah darah merayap di retinanya, melahap teks standar akademi.
[Peringatan: Sistem Terdeteksi Rusak. Sinkronisasi dengan Sisa Waktu Hidup: Aktif.]
Sebuah angka muncul melayang di depan matanya: 00:05:00. Kaelen mencengkeram dadanya. Angka itu bukan sekadar pengatur waktu misi; itu adalah detak jantungnya sendiri yang dikonversi menjadi energi. Sistem ini tidak memberinya kekuatan cuma-cuma. Ia memakan waktu sisa hidupnya sebagai bahan bakar untuk membuka akses ke rute terlarang yang selama ini diabaikan oleh sensor akademi.
Dinding batu di hadapannya mulai bergetar. Kaelen menempelkan telapak tangannya pada permukaan kasar yang dingin, merasakan getaran aneh yang menjalar ke sarafnya.
[PERINGATAN: Konversi energi akan memangkas 10% sisa masa hidup. Melanjutkan?]
Kaelen menelan ludah. Ia tidak memikirkan masa depan yang panjang; ia hanya memikirkan hari esok. "Lanjutkan."
Rasa sakit yang tajam menghantam dadanya, seolah-olah ada pisau es yang menusuk paru-parunya. Namun, detik berikutnya, dunia di sekitarnya berubah. Dinding yang tadinya tampak padat kini menunjukkan retakan bercahaya kebiruan—sebuah rute tersembunyi yang tertanam dalam memori Menara. Kaelen menghantamkan bahunya ke titik lemah di dinding itu, menembus ilusi yang tak pernah disadari para elit.
Ia melangkah masuk ke dalam kegelapan lantai terlarang. Namun, tepat saat ia mencapai fragmen kekuatan pertama, alarm sensor akademi melengking nyaring. Jejak energinya telah terdeteksi. Kaelen menatap timer yang menunjukkan 00:05:00—waktu yang tersisa untuk melarikan diri sebelum Aris tiba di ruang latihan untuk menginvestigasi gangguan tersebut.