Harga Sebuah Kebenaran
Alarm menara meraung, suara logam beradu dengan frekuensi tinggi yang menusuk gendang telinga. Raka terhuyung, bahunya membentur dinding dingin lantai transisi. Di depannya, layar sistem berkedip merah—peringatan Buronan Kelas 3 terpampang jelas, memancarkan koordinat lokasinya ke setiap mata yang terhubung ke jaringan menara. Kerusakan saraf di lengan kanan Raka mencapai 45%. Setiap kali ia mencoba memanipulasi fragmen hukum lantai mati yang tertanam di sistemnya, rasa sakit seperti ribuan jarum panas merambat naik hingga ke pangkal tengkorak.
"Raka! Kita tidak bisa diam di sini!" teriak salah satu penyintas, napasnya tersengal. Mereka gemetar, menatap Raka seolah ia adalah bom waktu yang siap meledak. Raka tidak punya waktu untuk menjelaskan bahwa setiap detak jantungnya kini adalah data yang diburu oleh Bima Wisesa. Ia memaksakan jari-jarinya yang kaku untuk mengetik di udara, meretas lapisan enkripsi yang tersisa di area transisi. Ia memanggil Fragmen Hukum Lantai Mati. Sistem rusaknya berdenyut, mengonsumsi sisa energi dari modul inti. Saat jejak digitalnya perlahan memudar dari radar, Raka merasakan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar stamina yang terkuras; potongan memori masa kecilnya tentang rumah yang hangat hilang selamanya, terhapus sebagai biaya akses untuk menghilang dari deteksi menara.
Ia membawa kelompoknya menyelinap ke gudang bawah tanah pasar sekte yang lembap, berbau garam dan karung gabah. Di sudut lorong, papan kecil menyala: Sisa waktu akses lantai atas: 30 detik. Pintu besi terbuka tanpa bunyi. Nenek Tira masuk dengan lampu minyak, diikuti Sari Jala yang menatap Raka seperti menghitung harga sebuah bangkai.
"Kau bikin menara panik," kata Sari, suaranya tenang namun mematikan. "Papan publik berubah. Buronan Kelas 3. Siapa saja boleh memburu kepalamu tanpa izin tambahan."
"Aku tidak punya waktu untuk ditawar," balas Raka, menahan nyeri yang membuat ujung jarinya mati rasa. Ia tidak menyerahkan modul inti. Sebaliknya, ia memproyeksikan data anomali yang ia curi dari gerbang. "Aku bukan barang dagangan. Aku adalah kunci yang baru saja membuka rute yang bahkan tidak kalian ketahui ada. Jika aku mati di sini, rute ini terkunci selamanya. Pilih: bantu aku naik, atau biarkan Bima Wisesa meratakan pasar ini karena aku bersembunyi di sini."
Nenek Tira menatap tajam, lalu menghela napas panjang. "Anak muda, kau baru saja menukar masa depanmu dengan keberanian bodoh. Tapi, setidaknya kau punya nyali." Ia memberikan ultimatum, "Gerbang lantai satu akan dikunci permanen oleh Bima dalam hitungan detik. Naik sekarang, atau kau akan hilang dari papan selamanya."
Raka berlari keluar, menembus debu lorong menuju gerbang lantai satu. Di sana, Bima Wisesa berdiri, tangannya menempel pada panel kunci. "Status buronanmu aktif, Raka. Kalau kau masuk, kau memaksa menara menganggap seluruh rute ini ilegal!"
"Bagus," desis Raka. Ia tidak lagi peduli pada statusnya. Sarafnya berteriak di angka 45% kerusakan, namun ia menggunakan sisa daya sistem rusaknya untuk mengubah status 'Buronan' menjadi 'Kunci Akses'. Gerbang bergetar hebat, memaksa mekanisme menara terbuka karena sistem tidak bisa membedakan antara ancaman dan otoritas yang ia curi. Cahaya putih menyilaukan menelan Raka saat ia melompat masuk, meninggalkan Bima yang murka di belakang. Di lantai baru yang tak terpetakan, Raka menyadari satu hal: menara bukan sekadar tempat ujian, melainkan mesin pemanen pendaki—dan sistem rusaknya adalah celah yang mereka takuti.