Novel

Chapter 9: Gerbang Rotasi Terakhir

Raka berhasil memimpin kelompok penyintas menembus gerbang rotasi lantai atas dengan meretas mekanisme gerbang menggunakan fragmen hukum lantai mati, namun tindakannya memicu status buronan Kelas 3 dari menara.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Gerbang Rotasi Terakhir

Sisa waktu: 30 detik. Angka itu berkedip merah di sudut pandang retina Raka, berdenyut seirama dengan rasa sakit yang merambat di sepanjang tulang belakangnya. Kerusakan saraf kini mencapai 45%. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca, namun Raka tidak punya ruang untuk tumbang.

Di depannya, gerbang rotasi lantai atas berderit, memancarkan cahaya biru yang tidak stabil. Di belakangnya, tujuh penyintas yang ia pungut dari pasar sekte—orang-orang buangan yang dianggap sebagai 'aset gagal'—berdesakan dengan napas tertahan. Mereka adalah taruhan Raka; jika mereka tidak masuk sekarang, mereka akan menjadi tumbal rotasi berikutnya.

"Berhenti di situ, Raka."

Suara Bima Wisesa membelah kerumunan. Elit menara itu melangkah maju, jubahnya bersih tanpa noda, kontras dengan kondisi Raka yang compang-camping. Namun, mata Bima tidak lagi memancarkan kesombongan yang tenang; ada kepanikan yang tertahan di sana. Ia baru saja dipermalukan di pasar, dan ia tidak akan membiarkan Raka menaiki tangga hierarki menara dengan membawa kemenangan itu.

"Status Tier 1-mu hanyalah cacat sistem," desis Bima. Ia mengacungkan segel otoritas elitnya. Garis-garis energi merah mulai menjalar ke mekanisme gerbang, mempercepat penutupan celah secara paksa. "Aku akan mengoreksinya di sini."

Sistem Raka menjeritkan peringatan: Integrasi Fragmen Hukum Lantai Mati terganggu. Risiko kegagalan sistematis: 60%.

Raka tidak membalas dengan otot. Ia membiarkan rasa sakit di sarafnya memuncak, menggunakan lonjakan adrenalin itu untuk memicu fragmen hukum lantai mati yang ia curi. Ia tidak menyerang Bima; ia menyerang infrastruktur gerbang. Ia menanamkan fragmen tersebut ke dalam alur data gerbang, memaksa celah yang seharusnya menutup justru melebar.

"Lari!" teriak Raka.

Kelompok penyintas itu bergerak, menyelinap melalui celah sempit yang berdesing panas. Saat dua orang terakhir berhasil masuk ke area transisi, Nenek Tira muncul dari balik bayang-bayang rangka kabel doa pasar. Ia tidak membantu, hanya menatap Raka dengan tatapan yang membedah.

"Kau meretas hukum menara, bocah," bisik Nenek Tira, suaranya dingin namun jelas di tengah kekacauan. "Kau akan kehilangan namamu sebelum kau kehilangan kakimu. Ini ultimatum terakhir: naik sekarang, atau hilang dari papan selamanya."

Raka tidak menjawab. Ia memaksa tubuhnya melompat masuk tepat saat Bima Wisesa menghantamkan serangan energi ke arah gerbang. BOOM. Feedback sistem menghantam Bima hingga terpental, sementara Raka jatuh tersungkur di lantai logam dingin di sisi lain gerbang. Gerbang rotasi tertutup rapat, memutus akses kembali ke pasar sekte.

Keheningan mencekam menyelimuti lantai transisi. Di retina Raka, papan publik menara memperbarui statusnya. Namanya kini bukan lagi sekadar penantang, melainkan buronan: Identitas terdeteksi oleh Menara: Subjek Buronan Kelas 3.

Salah satu penyintas menatap papan publik dengan ngeri. "Raka... namamu. Itu bukan harga pasar lagi. Itu harga buronan."

Raka bangkit dengan tertatih, menahan sisa rasa sakit yang merambat di sarafnya. Ia tahu Bima tidak akan berhenti di sini. Di lantai transisi ini, mereka terjebak, dan satu-satunya jalan keluar adalah naik lebih tinggi atau mati sebagai buronan. Menara mulai bergetar, membuka rute menuju lantai satu yang jauh lebih mematikan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced