Novel

Chapter 8: Perang Harga dan Reputasi

Raka membuktikan status Tier 1-nya di depan publik pasar sekte melalui demonstrasi kekuatan modul inti, membalikkan opini pasar dan mempermalukan Bima Wisesa. Di tengah ancaman Bima dan kerusakan saraf yang memburuk, Raka memimpin para penyintas menembus rute anomali sebelum gerbang rotasi tertutup sepenuhnya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Perang Harga dan Reputasi

Sisa waktu gerbang rotasi: 120 detik. Papan harga di pusat pasar sekte bergetar, memancarkan cahaya biru pucat yang dingin. Di bawah nama Raka, deretan angka baru muncul dengan ritme yang menyakitkan: Harga beli turun, risiko naik, aset tidak stabil.

Rumor Bima Wisesa menyebar lebih cepat daripada bau garam yang terbawa angin laut. Dia berdiri di tengah jalur batu, jubah putihnya yang bersih menjadi kontras tajam dengan kerumunan pasar yang berdebu. “Dia bukan naik,” suara Bima membelah keributan, tenang dan menghina. “Dia mencuri akses. Kekuatan seperti itu tidak lahir dari dasar. Ada yang diambil dari menara, ada yang dipakai tanpa hak.”

Raka merasakan sensasi seperti jarum halus yang menusuk saraf lehernya. Kerusakan saraf 42% bukan sekadar angka di sistem; itu adalah rasa sakit yang menjalar setiap kali ia mencoba menstabilkan napas. Namun, di balik rasa sakit itu, fragmen hukum lantai mati berdenyut, memberinya akses ke celah yang tidak bisa dilihat orang lain.

“Kalau memang milikmu, buktikan di depan semua orang,” tantang Bima, senyum tipisnya merendahkan. “Atau turun dan akui kau cuma memungut sisa.”

Sari Jala, yang berdiri di tepi lingkaran, tidak menunggu. Ia membentangkan papan taruhan lipatnya, menunjuk daftar hutang Raka yang kini berkedip dengan status baru: Aset Spekulatif. “Taruhan pada Raka dibuka. Tiga banding satu!” teriaknya. Pasar sekte yang tadinya ragu seketika riuh. Bagi mereka, reputasi adalah mata uang, dan saat ini, Raka adalah komoditas yang paling berisiko sekaligus paling menggiurkan.

Raka melangkah ke tengah arena. Ia tidak membalas dengan kata-kata, melainkan dengan memicu modul inti yang ia curi dari rute anomali. Saat ia mengalirkan energi, papan harga di atas arena bergetar hebat. Angka “Tier 1” yang tadinya diragukan kini terkunci dengan warna emas solid. Papan itu memaksakan pengakuan: Penantang Tier 1 Terverifikasi.

Bima Wisesa terhuyung mundur, wajahnya pucat. Legitimasi yang ia bangun dengan darah dan garis keturunan sekte baru saja dipatahkan oleh seorang penyintas yang seharusnya sudah mati. Namun, Bima tidak menyerah. Ia memberi isyarat pada murid-muridnya untuk memblokir jalur keluar. “Dia curang! Sistem itu rusak, dia memanipulasi data menara!”

Sirene gerbang rotasi berubah nada, melengking tinggi. ROTASI AKHIR: 00:01:15.

“Waktu habis, Bima,” ujar Raka dingin. Ia tidak lagi peduli pada tuduhan pencurian itu. Ia menatap para penyintas lain yang masih terpaku di belakangnya. “Siapa yang ingin naik, ikuti aku. Kita tidak akan menunggu mereka menutup pintu.”

Dengan satu dorongan energi yang menyakitkan sarafnya, Raka menghantamkan tinjunya ke mekanisme gerbang. Sistem merespons dengan kilatan cahaya yang menyilaukan. Rute anomali terbuka—sebuah celah sempit yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang memegang fragmen hukum lantai mati.

Raka melangkah masuk, meninggalkan Bima yang berteriak murka di belakang. Saat kakinya menyentuh lantai transisi, notifikasi sistem berkedip: Kerusakan saraf meningkat: 45%. Akses lantai atas terbuka. Estimasi waktu penutupan: 30 detik. Di belakangnya, gerbang rotasi mulai menyusut, namun di depannya, tangga menuju lantai satu terbentang, menanti untuk ditaklukkan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced