Fragmen yang Memanggil
Angka di sudut penglihatan Raka berkedip merah: 04:50. Di bawahnya, notifikasi sistem meluap seperti luka yang terbuka: Fragmen hukum lantai mati terdeteksi. Sinkronisasi tidak stabil. Kerusakan saraf: 42%.
Raka meringkuk di balik kios sesajen, napasnya tersengal. Bau dupa gosong dan amis ikan kering menusuk hidung, namun rasa sakit di pangkal tengkoraknya jauh lebih tajam. Setiap detak jantung terasa seperti jarum yang menusuk saraf. Ia baru saja memenangkan audit publik, namun kemenangan itu adalah racun; sistemnya kini dipaksa menelan fragmen hukum yang seharusnya sudah dihapus dari menara.
"Jangan bergerak," bisik Nenek Tira. Tangan keriputnya menarik kain merah tua, menutupi pendar cahaya sistem yang bocor dari balik pakaian Raka. "Pengawas menara sedang menyisir pasar. Mereka mencium bau anomali pada Tier 1 baru ini."
"Aku tidak bisa berhenti sekarang," desis Raka. Ia menekan telapak tangan ke lantai kayu yang lembap. "Sistem ini... dia mencoba menyusun ulang dirinya sendiri."
"Itu bukan sekadar penyusunan, Nak. Itu adalah pencurian hak akses," sahut Nenek Tira, matanya menyipit menatap Raka. "Kau memegang kunci yang bisa membuka pintu-pintu yang sudah disegel elit. Jika kau tidak bisa mengendalikannya dalam empat menit, fragmen itu akan membakar otakmu sebelum kau sempat melangkah ke lantai berikutnya."
04:00. Gerbang rotasi bergetar, suaranya seperti dentuman lonceng besi yang memanggil para pendaki. Di depan papan nilai publik, Bima Wisesa berdiri dengan wajah pucat yang dipaksakan tenang. Ia menunjuk Raka dengan jari gemetar.
"Penantang Tier 1?" teriak Bima, suaranya memecah kebisingan pasar. "Lihat sendiri! Sistemnya tidak stabil! Dia hanya sampah yang beruntung mencuri modul inti!"
Kerumunan pasar, yang tadinya terdiam, mulai berbisik. Sari Jala muncul dari balik kerumunan, matanya tajam menilai papan harga yang mulai berkedip liar. Ia tahu nilai Raka bukan pada bakat, melainkan pada anomali yang ia bawa. Sari segera memblokir jalan pengawas menara yang mendekat, menciptakan tirai manusia yang melindungi Raka.
03:30. Raka memejamkan mata. Ia tidak melawan arus data yang masuk; ia membiarkannya mengalir ke dalam sistem rusaknya. Fragmen hukum lantai mati itu beresonansi dengan papan harga pasar. Tiba-tiba, papan kayu kusam itu bersinar terang, mengubah status Raka dari 'Tidak Terukur' menjadi 'Tier 1 - Akses Terverifikasi'.
Angka itu bukan sekadar status. Itu adalah pengakuan paksa dari sistem menara terhadap hukum yang seharusnya sudah mati.
Menara adalah penjara, bisik Suara Menara Pecah di benaknya. Dan kau adalah kunci yang dicari.
Gelombang balik menghantam Raka. Sarafnya menjerit, namun ia berhasil mengunci fragmen tersebut. Ia berdiri, kakinya gemetar namun kokoh. Bima Wisesa terbelalak saat melihat papan harga itu mengunci status Raka. Raka menatap rivalnya, lalu menatap gerbang rotasi yang mulai terbuka. Ia bukan lagi barang sisa yang bisa ditawar; ia adalah ancaman yang baru saja membuka pintu menuju lantai yang seharusnya tidak bisa ia jangkau.
02:00. Raka melangkah maju. Ia tahu, setiap langkah ke depan adalah harga yang harus dibayar dengan sarafnya, namun di depan sana, lantai baru menanti untuk dirampas.