Ujian di Ambang Pintu
Lampu-lampu kios pasar sekte berkedip, memantulkan cahaya kuning di atas genangan air laut yang merembes ke lantai kayu. Di tengah kerumunan yang menahan napas, papan audit menara menyala dengan warna merah menyakitkan: Raka - Penantang Tier 1 - Status: Belum Sah. Hitung mundur gerbang rotasi di sudut papan berdetak: 04:49.
Setiap detiknya terasa seperti jarum yang menusuk jaringan saraf Raka. Rasa sakit dari sinkronisasi sistem yang dipaksakan merambat dari tulang belakang, membuat tangannya gemetar hebat saat ia mencengkeram meja kayu milik Sari Jala.
"Nama tercatat, tapi asal-usulnya bau sampah pasar," suara Penguji Menara memecah keheningan. Pria itu menggeser token audit berlapis tembaga, matanya menatap Raka dengan jijik. "Orang dari bawah sering memalsukan lompatan tier. Letakkan modul inti itu di meja audit. Jika menara membaca asalnya sebagai barang curian, kamu akan langsung dibuang ke tingkat budak permanen."
Bima Wisesa berdiri di barisan depan, menyilangkan tangan dengan senyum tipis yang meremehkan. "Biarkan dia jatuh, Pak. Dia hanya parasit yang merusak integritas lantai."
Raka merasakan sistem rusaknya menggeliat. Suara Menara Pecah tidak memberikan instruksi, hanya tarikan energi kasar yang menyiksa. Sari Jala, yang berdiri di sampingnya, tidak bergerak untuk membantu. Ia hanya mengamati, menghitung nilai Raka sebagai aset yang bisa ia jual atau buang.
"Aku tidak memalsukan apa pun," desis Raka. Ia tidak menyerahkan modul itu. Sebaliknya, ia menekan modul inti tersebut ke panel audit dengan seluruh sisa tenaganya.
Bzzzt!
Percikan listrik statis meledak. Papan publik di belakang mereka berdengung keras, mengubah status Raka menjadi Tier 1: Terverifikasi. Kerumunan tersentak. Angka itu tidak hilang. Namun, harga dari kemenangan itu langsung terasa; Raka terhuyung, pandangannya kabur, dan rasa mati rasa mulai menjalar dari ujung jarinya hingga ke bahu.
"Tier 1?" Penguji Menara menatap panel yang kini berpendar emas pucat—warna hukum lantai yang seharusnya sudah musnah. "Ini anomali. Sistem tidak mengenali data ini sebagai data standar. Kamu menggunakan warisan lantai yang dihapus?"
"Sistem tidak menolak," Raka memaksakan kata-katanya keluar meski napasnya tersengal. "Sistem hanya tidak mengenali data dari lantai mati. Periksa lagi. Itu bukan curian, itu kunci akses."
Bima Wisesa maju selangkah, wajahnya kehilangan ketenangannya saat melihat papan publik tidak berubah kembali. "Dia curang! Itu data ilegal!"
Namun, Penguji Menara terdiam, terpaku pada data emas yang mengalir di panel. Sari Jala menatap Raka dengan mata yang kini dipenuhi kalkulasi dingin—ia tahu Raka baru saja memenangkan setengah langkah yang mustahil. Raka berhasil tetap berdiri, tetapi ia tahu tubuhnya berada di ambang kehancuran.
Saat ia menahan diri agar tidak ambruk, fragmen menara menempel lebih dalam ke sistemnya, membisikkan satu petunjuk: Hukum lantai yang masih aktif di balik gerbang rotasi bisa dicuri.
Raka menang secara publik, tetapi ia tahu ini hanyalah awal. Lantai mati itu bukan sekadar tempat—itu adalah senjata yang kini tertanam di sistemnya, menunggu untuk direbut dari tangan para elit yang mulai panik.