Tawar-Menawar dengan Nasib
Lutut Raka bergetar, menahan beban tubuhnya yang kini terasa seperti tumpukan besi berkarat. Setiap detak jantung mengirimkan sengatan listrik ke saraf tulang belakang—biaya nyata dari sinkronisasi sistem yang dipaksakan. Di atas kios pasar sekte, papan harga digital berkedip merah, menampilkan namanya dengan kejam: RAKA — Tier 1 CACAT — Hutang: 37 keping — Nilai Tawar: Rendah.
Sari Jala, pedagang yang selama ini memandang Raka sebagai aset gagal, duduk tenang di balik meja kayu yang berbau garam laut dan sisa minyak lampu. Ia tidak menoleh saat Raka mendekat, jemarinya lincah memilah daftar hutang.
"Kau terlambat, Raka. Dan tubuhmu... kau tampak seperti barang rongsokan yang akan hancur sebelum sampai ke gerbang," ujar Sari datar. Ia menggeser papan kecil ke depan Raka: Beli cepat. Harga rendah. Kondisi luka. Risiko tinggi.
Sari ingin membelinya murah sebelum dunia menyadari potensi Raka. Raka tahu itu. Ia tidak menawar harga pasokan. Sebaliknya, ia mengeluarkan modul inti yang ia peroleh dari jalur terlarang. Benda itu memancarkan sisa energi murni menara, membuat udara di sekitar meja mereka berdesir.
"Ini bukan barang sisa untuk kau beli murah, Sari," suara Raka serak, namun matanya tajam. Ia menghantamkan modul itu ke meja. "Ini adalah kunci rute anomali yang akan menutup akses permanen bagi sekte lain dalam empat menit ke depan. Jika kau ingin memonopoli jalur ini, kau butuh aku sebagai pemandu, bukan sebagai budak hutang."
Sari Jala terdiam. Kalkulasi di wajahnya berubah; ketamakan yang terukur menggantikan penghinaan. Di balik kios, Nenek Tira yang selama ini hanya mengamati, membuka map arsip tua dengan tangan gemetar. "Jika kau tahu rute itu," bisik Nenek Tira, "kau bukan lagi budak hutang. Kau adalah variabel yang bisa meruntuhkan harga pasar."
Sebelum Sari sempat menjawab, derap langkah ritmis memecah kebisingan pasar. Bima Wisesa muncul di tikungan, aura tekanannya menekan udara hingga terasa berat. Bima melirik modul inti di meja, lalu ke Raka dengan tatapan yang berubah dari minat menjadi perburuan.
"Data sampah dari lantai yang dihapus tidak akan melindungimu, Raka," ancam Bima. "Sistem tidak akan membiarkan parasit sepertimu memegang legitimasi lantai."
"Sistem tidak peduli pada opinimu, Bima," jawab Raka, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia memaksakan tubuhnya berdiri tegak, menahan rasa sakit di sarafnya yang seolah robek. "Sistem hanya peduli pada hasil."
Tiba-tiba, udara di sekitar mereka bergetar. Proyeksi cahaya pengawas menara muncul tanpa wajah, menuntut verifikasi fisik. Sebuah ujian mendadak. Raka harus membuktikan legitimasi Tier 1-nya dengan memecahkan segel energi yang dipasang di tengah pasar. Ini adalah audit publik. Jika ia gagal, akses lantainya akan dicabut secara permanen.
Raka mengaktifkan sistem rusaknya. Rasa sakit di sarafnya meledak, namun di depan matanya, bar progres sistem naik dengan liar. Ia menatap Bima, lalu ke arah gerbang yang mulai meredup. Ia tidak punya pilihan selain menang di depan mata semua orang. Saat segel energi mulai retak di bawah sentuhan tangannya, Raka tahu: ia baru saja menukar nyawanya dengan akses ke lantai yang lebih tinggi, dan Bima Wisesa tidak akan membiarkannya pergi hidup-hidup.