Puncak yang Tersembunyi
Sisa waktu untuk jalur atas: tiga puluh detik. Gerbang rotasi di belakang Raka bergetar, memancarkan cahaya biru yang meredup—sebuah jam kematian bagi siapa pun yang tertinggal. Raka tersungkur di zona transisi lantai satu, napasnya berbau besi dan sisa memori yang terbakar.
Kerusakan sarafnya menyentuh angka 45 persen. Setiap tarikan napas terasa seperti ribuan jarum yang menusuk sumsum tulang. Ia kehilangan ingatan tentang wajah ibunya, digantikan oleh lubang dingin yang menganga di benaknya. Harga yang harus dibayar untuk menembus gerbang ini.
[Fragmen Hukum Lantai Mati: Sinkronisasi Paksa]
Sistem rusaknya berkedip merah, menuntut kompensasi. Raka memaksakan kehendak, menyalurkan energi tipis ke dinding logam yang basah. Ia tidak lagi bersembunyi; ia memanipulasi realitas lantai ini agar tanda tangannya menghilang dari radar menara. Panel dinding padam. Ia kini menjadi hantu di dalam sistem.
Langkah kaki berat bergema di lorong. Bima Wisesa muncul, rapi dan tanpa cela, diapit dua pemburu sekte. Artefak pelacak di tangan Bima bergetar hebat, jarumnya terkunci pada dada Raka.
"Kau tidak akan keluar dari lantai ini, Raka," suara Bima tenang, penuh otoritas yang dibeli dengan garis keturunan. "Akses atas sudah terkunci. Kau hanya tikus yang terjebak di labirin."
"Tikus?" Raka tertawa, suaranya parau. "Tikus tidak tahu jalan pintas yang sengaja dikubur oleh para elit."
Bima melangkah maju, namun Raka lebih cepat. Ia menempelkan telapak tangan ke dinding, memicu pola yang ia temukan dari fragmen ingatan menara. Lantai bergetar hebat. Sebuah celah vertikal menganga, menyemburkan udara panas berbau ozon. Raka melompat masuk ke dalam kegelapan.
Di bawah sana, ia tidak menemukan ruang ujian. Ia menemukan mesin.
Ruang kontrol itu dipenuhi kabel transparan yang menjalar seperti tentakel, terhubung ke titik-titik cahaya—energi para pendaki yang dipanen. Menara bukan infrastruktur kekuasaan; itu adalah mesin penuai. Raka menatap layar inti yang menampilkan peta menara yang sebenarnya: lantai-lantai yang tak terdaftar, zona stabilisasi yang ternyata adalah pusat pemanenan.
[Anomali Terdeteksi. Protokol Pembersihan Aktif.]
Kabel-kabel di langit-langit meluncur, memburu Raka. Ia menancapkan tangan ke pilar inti, membiarkan sistem rusaknya menyedot arus energi penuai. Rasa sakit yang luar biasa menghantamnya, namun otoritas lantai satu mulai berpindah ke tangannya.
Tier 1. Terverifikasi.
Bima muncul di ambang pintu, wajahnya berubah pucat saat melihat data yang terpampang di layar. "Apa yang kau lakukan?"
"Mengubah aturan main," jawab Raka. Ia menekan perintah unggah. Gelombang data melesat ke papan publik seluruh kota. Di pasar sekte, Sari Jala dan para pedagang menatap papan peringkat yang kini menampilkan kebenaran tentang pemanenan menara.
Bima menebas kabel yang mendekat, matanya berkilat penuh kebencian. "Kau tidak mengerti apa yang kau buka, Raka!"
"Aku baru saja mulai," balas Raka. Ia melangkah menuju pintu akses baru yang terbuka di atas peta. Jalur menuju puncak yang tak pernah tercatat dalam sejarah. Ia melangkah, meninggalkan Bima yang tertegun di tengah ruang kontrol yang hancur.
Di seluruh kota, papan publik berubah serentak. Anak buangan itu telah mengubah aturan naiknya sendiri.