Novel

Chapter 3: Papan Peringkat yang Berubah

Raka berhasil menembus gerbang rotasi dan mencatatkan namanya sebagai Tier 1 di papan publik, memicu konfrontasi langsung dengan Bima Wisesa. Raka memenangkan pertukaran serangan singkat dengan memanfaatkan celah sistem, memaksa Bima mundur sementara. Namun, sistem segera memberikan misi baru yang memaksa Raka untuk terus mendaki meski tubuhnya terluka parah.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Papan Peringkat yang Berubah

Raka tersungkur di lantai transisi, paru-parunya terasa seperti disayat beling. Di belakangnya, gerbang rotasi menutup dengan dentuman logam berat—suara yang menandai berakhirnya akses bagi mereka yang tidak terdaftar. Sisa waktu di panel dinding berkedip merah: 04:58.

Nyeri di tulang punggungnya meledak, kawat panas yang menjalar di bawah kulit. Lengan kanannya kejang, jemarinya mencengkeram lantai logam hingga buku jarinya memutih.

[Sinkronisasi tidak stabil. Audit anomali: jalur terlarang tersimpan.]

Suara itu bergetar di kepalanya, dingin dan patah. Raka mendongak, menahan muntah. Di tepi dinding, papan publik menara menyala redup. Namanya terpampang jelas: Raka - Penantang Tier 1. Bukan lagi barang murah, bukan lagi angka hutang. Namun, di baris bawah, garis peringatan merah menyala. Nama Bima Wisesa muncul dengan tanda target aktif. Ia tidak sekadar memburu; ia mengklaim Raka sebagai kesalahan sistem yang harus dihapus.

Kerumunan penantang di alun-alun mulai berbisik. "Tier 1? Dia? Siapa yang membayar auditnya?" bisik seorang gadis dengan lengan penuh pita kontrak. "Kalau dia naik lewat jalur resmi, tak mungkin semurah itu."

Langkah kaki yang terukur memotong keributan. Bima Wisesa muncul dari lorong kios doa, seragam elitnya bersih tanpa noda. Ia berhenti tepat di depan kios Nenek Tira, tempat Raka berusaha bangkit.

"Jadi, ini sampah yang mencuri hak akses lantai satu?" Bima menatap Raka dengan tatapan merendahkan. "Sistem tidak mungkin salah, tapi manusia bisa menipu data. Berikan aksesmu, atau aku akan memaksamu keluar dari sistem secara permanen."

Nenek Tira, yang sedang menata dupa, tidak menoleh. "Jangan mati di lantai dagangku, Bocah. Harga nyawamu belum cukup untuk menutupi debu di lantai ini."

Bima tidak peduli. Ia mengayunkan pedang latihannya, serangan presisi yang dirancang untuk mengunci pergerakan lawan. Raka merasakan Suara Menara Pecah di benaknya. Ia tidak bisa menghindar dengan kekuatan fisik yang tersisa, namun ia bisa melihat alur energi Bima yang terlalu kaku. Dengan satu gerakan paksa yang merobek jaringan sarafnya sendiri, Raka memutar tubuh, membiarkan serangan Bima meleset tipis dan menghantam rak bambu di belakangnya.

Kejutan di wajah Bima adalah kemenangan kecil yang mahal. Raka tidak membalas; ia tahu sistemnya sedang sekarat. Ia hanya memanipulasi celah di antara serangan Bima, membuat elit itu terlihat ceroboh di depan para pedagang pasar. Bima Wisesa mundur selangkah, napasnya tertahan, menyadari bahwa Raka bukan lagi underdog yang bisa ia remehkan dengan satu ayunan.

"Ini belum selesai," desis Bima, namun ia memilih mundur saat pengawas lantai mulai mendekat.

Begitu Bima menghilang, Raka ambruk kembali. Suara Menara Pecah berdenyut, menampilkan sebuah jalur yang sudah dihapus dari sejarah menara.

[MISSION TERSEMBUNYI: Jalur yang Dihapus Tersisa. Waktu: 04:50. Hadiah: Akses reward tier berikutnya.]

Raka menatap panel itu dengan mata berkabut. Gerbang rotasi mulai bergetar hebat. Ia bisa beristirahat dan membiarkan kesempatan itu hilang, atau ia bisa mendaki lebih dalam dengan tubuh yang hampir hancur. Ia memilih berdiri, tertatih menuju kegelapan jalur yang baru saja terbuka.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced