Novel

Chapter 9: Jebakan Terbuka

Ayla menghadapi jebakan Damar di acara gala amal dengan mengungkap transaksi ilegal Damar di depan publik. Nara memilih untuk berdiri di sisi Ayla secara terbuka, mengubah dinamika hubungan mereka dari sekadar kontrak menjadi aliansi yang nyata.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Jebakan Terbuka

Notifikasi itu membangunkan Ayla sebelum alarm sempat berbunyi. Layar ponselnya menyala satu demi satu di atas meja samping tempat tidur, menampilkan noda digital yang menyebar cepat: potongan video dari acara semalam, tangkapan layar komentar, dan judul-judul akun gosip yang menyebut namanya dengan nada yang sengaja dibuat kotor. “Tunangan palsu? Mantan dibayar buat tampil?”

Ayla duduk tegak, jari-jarinya dingin saat membuka salah satu video. Wajah Damar memenuhi layar—rapi, tenang, dengan senyum yang terlalu bersih untuk seseorang yang sedang menyeret nama orang lain ke lumpur. Cuplikan itu diambil dari sudut yang sengaja dekat, cukup jelas untuk memperlihatkan ekspresi Damar saat mengatakan, “Kalau kalian lihat dari dekat, kalian akan tahu sendiri. Itu hanya panggung.”

Di ruang makan penthouse Nara, meja sarapan tampak lebih dingin daripada ruang sidang yang pernah mempermalukannya dulu. Porselen putih, kopi hitam, dan roti yang belum disentuh. Nara berdiri di sisi jendela kaca, jasnya belum lengkap, lengan kemejanya digulung sampai siku. Dari balik kaca, gedung-gedung tinggi memantulkan langit pucat kota.

“Mereka sudah mulai, Nara,” suara Ayla memecah sunyi, datar namun tajam. “Damar tidak lagi bermain di balik layar. Dia menyeretmu ke dalam narasi sandiwara ini.”

Nara berbalik, matanya menatap Ayla dengan intensitas yang tidak lagi tersembunyi. “Aku bisa menghentikan mereka dalam satu jam. Aku punya tim yang bisa menghapus ini semua.”

“Dengan menghapusku juga?” Ayla berdiri, menantang jarak di antara mereka. “Aku tidak butuh perlindungan yang membuatku tampak seperti boneka pajangan. Jika kita akan menghadapi malam ini, aku menuntut posisi sebagai sekutu, bukan aset yang perlu diselamatkan dari rumor.”

Nara terdiam, rahangnya mengeras. Ia melangkah mendekat, namun berhenti tepat di ambang batas kenyamanan Ayla. “Ini bukan tentang boneka, Ayla. Ini tentang risiko yang bisa menghancurkanmu lebih cepat daripada yang bisa kubangun kembali.”

“Maka biarkan aku yang memegang kendali atas kehancuranku sendiri,” balas Ayla.

Saskia mengirim pesan singkat saat Ayla sedang dalam perjalanan menuju gedung gala amal: Sponsor utama gala ini, Pak Arman Ghozali, adalah mitra perusahaan cangkang Damar. Semua bukti transaksi ada di tanganmu sekarang. Jika kamu mau meledakkannya, malam ini saatnya.

Di ruang ganti privat gedung gala, Ayla menatap cermin. Ia bukan lagi perempuan yang menangis di ruang sidang. Ia adalah perempuan yang membawa bukti transaksi ilegal Damar di dalam tasnya, sebuah senjata yang bisa menghancurkan reputasi pria itu selamanya. Nara masuk ke ruangan, setelannya gelap dan sempurna, namun ada gurat kelelahan yang nyata di matanya.

“Damar sudah di dalam,” bisik Nara. “Dia tersenyum seolah dia yang paling berhak atas simpati publik.”

“Bagus,” sahut Ayla, mengoleskan lipstik dengan tangan yang stabil. “Semakin tinggi dia berdiri, semakin keras dia jatuh.”

Saat acara dimulai, ballroom itu dipenuhi oleh mata-mata sosial yang lebih tajam dari kamera. Damar bergerak di antara tamu dengan sopan santun yang dibuat-buat. Ketika ia mendekati meja mereka, suasananya berubah menjadi interogasi halus. “Nara, Ayla,” sapa Damar dengan nada kasihan yang palsu. “Kalian tampak... berjuang keras malam ini.”

Nara menahan diri, tangannya mengepal di balik saku. Ayla menyadari bahwa Nara sedang menimbang antara reputasi bisnisnya dan keselamatan Ayla. Namun, Ayla tidak lagi menunggu. Ia mengambil mikrofon yang seharusnya hanya digunakan untuk sambutan sponsor.

“Malam ini, kita bicara tentang amal,” suara Ayla menggema di seluruh ballroom, dingin dan jelas. “Tapi mungkin kita juga harus bicara tentang dana yang mengalir ke acara ini. Dana yang berasal dari transaksi fiktif atas nama saya.”

Ruangan mendadak hening. Damar tersenyum tipis, yakin ia bisa membalikkan keadaan. “Ayla, jangan membuat keributan. Semua orang tahu pertunangan kalian hanyalah sandiwara bisnis.”

Napas para tamu tertahan. Ini adalah jebakan yang disiapkan Damar: mengungkap kepalsuan hubungan mereka untuk mempermalukan Nara dan Ayla sekaligus.

“Pertunangan kami palsu?” Ayla menatap Damar, lalu beralih ke Nara. Ia membutuhkan jawaban. Ia membutuhkan pengakuan yang nyata, bukan sekadar perlindungan kontraktual.

Nara terdiam sejenak, tatapannya terkunci pada Ayla. Ruangan menunggu. Detik terasa seperti jam. Nara akhirnya melangkah maju, memotong jarak di antara mereka, dan meraih tangan Ayla di depan semua orang. Sentuhannya bukan lagi perlindungan, melainkan pengakuan yang membuat ruangan tahu bahwa apa yang mereka lihat bukan lagi sandiwara biasa. Nara menatap Damar dengan dingin, “Pertunangan kami mungkin dimulai dari kesepakatan, Damar. Tapi apa yang kamu lakukan pada aset Ayla adalah kejahatan. Dan aku tidak akan membiarkanmu keluar dari ruangan ini tanpa membayarnya.”

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced