Novel

Chapter 10: Harga dari Sebuah Kebenaran

Ayla berhasil memaksa keluarga Adiwijaya untuk menerima posisinya sebagai sekutu setelah mengungkap bukti transaksi ilegal Damar yang melibatkan jaringan bisnis mereka. Namun, kemenangan ini memicu tuntutan keluarga agar Nara mengakhiri pertunangan mereka, memaksa keduanya untuk menghadapi kenyataan bahwa hubungan mereka kini telah melampaui kontrak.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga dari Sebuah Kebenaran

Layar ponsel Ayla tidak lagi menampilkan gosip, melainkan daftar panjang keruntuhan. Pukul delapan pagi, portal berita ekonomi utama menurunkan tajuk utama: Skandal Santika: Aliran Dana Ilegal Terdeteksi di Jaringan Adiwijaya.

Di meja sarapan penthouse yang terasa lebih dingin daripada ruang sidang, Ayla menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Sisa hujan tropis semalam masih menempel, menciptakan distorsi pada pemandangan kota yang kini tampak asing. Di seberangnya, Nara duduk dengan kemeja hitam yang belum dikancing sempurna. Tidak ada sisa kemesraan dari gala amal semalam. Hanya ada ketegangan yang terukur.

Nara meletakkan ponselnya, layar menghadap ke bawah. "Keluarga sudah memanggil. Mereka ingin penjelasan mengenai keterlibatan jaringan bisnis kita dalam skandal Damar. Mereka tidak peduli pada kebenaran, Ayla. Mereka hanya peduli pada siapa yang harus dikorbankan agar saham tidak anjlok."

"Bukan penjelasan," potong Ayla, suaranya datar namun tajam. Ia menggeser map hitam di atas meja. "Ini adalah bukti transaksi ilegal Damar yang menggunakan nama perusahaanmu sebagai tameng. Jika mereka ingin mengorbankanku, mereka harus siap melihat Damar bernyanyi tentang siapa saja di keluarga Adiwijaya yang memfasilitasi aliran dana itu selama ini."

Nara menatap map itu, lalu menatap Ayla. Ada kilatan apresiasi di matanya yang dingin, sebuah pengakuan bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan korban, melainkan sekutu yang berbahaya.

*

Ruang makan keluarga Adiwijaya malam itu adalah definisi dari tekanan yang disamarkan dengan kesantunan. Perak berkilat, sup bening yang mengepul tanpa aroma, dan setiap denting sendok terdengar seperti vonis. Ibu Nara, Ratih Adiwijaya, meletakkan serbetnya dengan presisi yang menyakitkan.

"Kita tidak akan berputar-putar," ujar Ratih. "Nara, pilih: keluarga, atau perempuan yang baru saja menyeret kita ke dalam skandal ini?"

Ayla tidak menunduk. Ia menaruh ponselnya di atas meja, layar menghadap atas, seperti orang yang datang dengan saksi, bukan permohonan. "Jika Ibu menganggap saya ancaman, silakan. Tapi saya datang membawa bukti transaksi ilegal Damar. Jika saya disingkirkan, Damar akan membongkar siapa saja yang memfasilitasi aliran dananya di sini. Saya tidak datang untuk meminta perlindungan, saya datang untuk memastikan kita semua tidak tenggelam."

Nara tidak memotong. Ia justru mendorong map tipis ke tengah meja. "Semua bukti ada di sini. Jika kalian ingin stabilitas, maka kita harus membuang Damar sekarang juga. Ayla memegang kunci untuk memastikan dia tidak bisa menarik kita jatuh bersamanya."

Keheningan menyelimuti ruangan. Paman tertua Nara menatap Ayla dengan kalkulasi predator. "Kau sudah menghitung posisimu, Nona Prameswari?"

"Saya tahu harga yang harus dibayar untuk sebuah kebenaran," jawab Ayla tegas. Ia tidak lagi mencari persetujuan; ia sedang menegosiasikan kelangsungan hidupnya.

*

Kembali ke penthouse, kemenangan itu terasa hampa. Damar resmi ditahan, namun Ayla merasa seperti seseorang yang baru saja kehilangan tujuan hidupnya setelah sekian lama fokus pada balas dendam. Nara berdiri di dekat bar, dasinya sudah longgar, menatap kota yang gemerlap di bawah mereka.

"Mereka menuntut kita mengakhiri ini," ucap Nara tiba-tiba. "Keluarga menuntut pertunangan ini dibatalkan secara resmi setelah kasus Damar selesai. Mereka ingin memutus kaitan antara namamu dan Adiwijaya."

Ayla menatap punggung Nara, merasakan sesak yang tak terduga. Perlindungan yang selama ini ia anggap sebagai transaksi, kini terasa jauh lebih personal. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?"

Nara berbalik, melangkah mendekat, mengabaikan jarak profesional yang selama ini mereka jaga. "Aku tidak peduli lagi dengan kontrak itu. Tapi aku harus tahu, Ayla... apakah kau masih ingin berada di sini jika tidak ada lagi alasan untuk saling melindungi?"

Ayla menatap mata pria itu, melihat kerentanan yang belum pernah ia tunjukkan. Ia menutup jarak satu langkah, menatap Nara tanpa mengalah. "Jika kau ingin aku tetap di sini, maka jangan beri aku perlindungan. Beri aku kejujuran mutlak. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kontrak. Hanya kita."

Nara terdiam, menatap Ayla dengan intensitas yang membuat napas Ayla tertahan. Ini bukan lagi tentang status, bukan tentang balas dendam. Ini tentang pilihan yang jauh lebih berbahaya dari sekadar cinta.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced