Novel

Chapter 8: Tabrakan Kepentingan

Nara mencoba menghentikan Ayla yang nekat menggunakan bukti transaksi ilegal untuk menyerang Damar. Pertengkaran hebat pecah, mengungkapkan bahwa Nara telah memiliki perasaan pada Ayla jauh sebelum kesepakatan mereka, yang justru membuat Ayla merasa terancam oleh perlindungan yang kini terasa seperti jerat emosional.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Tabrakan Kepentingan

Sarapan di penthouse Nara bukan tentang makanan. Itu adalah sesi interogasi yang dibungkus porselen mahal. Di atas meja marmer yang memantulkan langit Jakarta yang kelabu, kopi Nara sudah lama mendingin. Croissant di piringnya tetap utuh, mengeras seiring waktu yang terbuang.

Nara menangkap pergelangan tangan Ayla tepat saat wanita itu meraih kunci apartemen. Sentuhannya dingin, namun cengkeramannya memiliki bobot yang tidak bisa dinegosiasikan.

"Kamu mau ke mana?" Suara Nara rendah, datar, namun otoritas di baliknya menuntut kepatuhan yang biasanya Ayla berikan tanpa sisa.

"Keluar," jawab Ayla singkat. Ia tidak menoleh, meski ia bisa merasakan tatapan Nara yang menelusuri garis bahunya yang menegang.

"Ke Maman Hidayat?"

Ayla akhirnya berbalik. Wajahnya tenang, namun rahangnya mengunci rapat. "Kamu memasang pelacak pada gerakanku sekarang?"

"Aku mencegahmu masuk ke jebakan yang sudah disiapkan Damar. Dia tahu kamu bergerak, Ayla. Kamu tidak seharusnya bermain api sendirian." Nara melepaskan pergelangan tangan Ayla, namun ia tidak menarik diri. "Kamu pikir bukti itu aman di tanganmu?"

Ayla membuka tas tangannya, mengeluarkan amplop cokelat tipis—hasil dari pertemuan rahasianya dengan Maman—dan meletakkannya di meja, tepat di antara gelas air dan sendok teh. "Aku sudah punya bukti transaksi itu, Nara. Bukti bahwa Damar menggunakan namaku sebagai tameng untuk transaksi ilegal yang melibatkan jaringan bisnis keluargamu. Aku tidak butuh izinmu untuk melawan balik."

Nara terdiam. Matanya memicing, beralih dari amplop itu ke wajah Ayla. Ketegangan di antara mereka bukan lagi sekadar sandiwara tunangan palsu; itu adalah benturan dua ego yang sama-sama terluka.

"Kamu tidak mengerti," suara Nara kini lebih tajam, sarat akan peringatan. "Kalau Damar tahu kamu memegang salinan itu, dia tidak akan diam. Dia akan menghancurkanmu sebelum kamu sempat membuka mulut."

"Justru itu masalahnya," Ayla melangkah maju, memangkas jarak di meja sarapan. "Kamu ingin melindungiku dengan cara mengurungku, memindahkan asetku, dan menyimpanku di tempat aman agar namamu tetap bersih. Tapi aku bukan aksesori yang bisa kamu atur penempatannya di papan caturmu, Nara."

Nara mengeluarkan ponselnya, menunjukkan pesan anonim yang masuk beberapa menit lalu: Jangan biarkan Ayla bicara dengan Maman lagi.

"Itu ancaman nyata," Nara menegaskan. "Perlindunganku mungkin terasa seperti penjara, tapi itu satu-satunya hal yang menjagamu tetap hidup saat ini. Kamu pikir ini mainan?"

Ayla menatap layar ponsel itu, lalu kembali ke mata Nara. "Aku tidak pernah menganggap ini mainan. Justru karena ini nyata, aku tidak bisa diam saja menunggu keputusanmu. Aku sudah lelah menjadi korban yang hanya bisa menerima perlindungan. Aku ingin menjadi pihak yang memegang kendali."

Nara menatap Ayla lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat wanita yang ia selamatkan dari kehancuran pasca-perceraian, melainkan seseorang yang siap membakar segalanya untuk mendapatkan martabatnya kembali. Perlahan, Nara menutup map tipis itu dengan dua jari.

"Aku tidak jatuh cinta pada kesepakatan ini, Ayla. Aku sudah memperhatikanmu jauh sebelum pertunangan ini dimulai. Dan itulah kenapa aku tidak bisa membiarkanmu mengambil risiko ini sendirian."

Pengakuan itu menggantung di udara, mengubah suasana ruangan secara drastis. Ayla tertegun. Ia tahu Nara melindunginya, namun ia mengira itu murni karena kepentingan bisnis atau reputasi keluarga Adiwijaya. Kejujuran Nara membuat pertahanan Ayla goyah, namun justru membuatnya lebih waspada. Jika Nara memiliki perasaan, maka perlindungannya tidak lagi netral. Itu adalah jerat yang jauh lebih dalam.

"Kalau begitu, jangan lindungi aku," Ayla berbisik, suaranya bergetar namun tegas. "Jadilah sekutuku. Berhenti memutuskan segalanya untukku."

Nara tidak menjawab. Ia hanya menatap Ayla dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah campuran antara frustrasi dan kekaguman yang enggan ia akui.

Di lift privat yang membawa mereka turun menuju mobil, keheningan terasa mencekik. Ayla menggenggam map hitamnya dengan erat. Malam ini adalah makan malam keluarga Adiwijaya, panggung di mana mereka harus tampil sebagai pasangan yang serasi. Namun, saat pintu lift terbuka dan cahaya lobi menyambut, Ayla tahu bahwa sandiwara ini telah berakhir. Ia tidak akan lagi menjadi tunangan palsu yang patuh. Ia akan masuk ke ruangan itu sebagai wanita yang memegang senjata, siap untuk meledakkan rahasia yang akan mengubah segalanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced