Novel

Chapter 7: Saksi Bisu dari Masa Lalu

Ayla berhasil mendapatkan bukti transaksi ilegal Damar melalui saksi kunci Maman Hidayat, namun ia harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi dari Nara. Pertemuan ini mengungkap bahwa Damar menggunakan Ayla sebagai tameng dalam transaksi yang melibatkan jaringan bisnis Adiwijaya, menempatkan Ayla dalam posisi yang lebih berbahaya sekaligus memberinya leverage baru.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Saksi Bisu dari Masa Lalu

Suara denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen di meja sarapan penthouse Nara terdengar seperti tembakan di tengah keheningan yang mencekam. Ayla menatap pantulan dirinya di permukaan kopi yang hitam, berusaha menjaga napasnya tetap teratur. Di bawah meja, ponselnya bergetar—getaran yang terasa seperti peringatan dari dunia luar yang mencoba merangsek masuk.

Datang sendiri besok sore. Jangan bawa Nara. Kalau kau ingin nama Ayla Prameswari tetap utuh, jangan pura-pura masih dilindungi.

Layar itu meredup, menyisakan bayangan wajah Ayla yang pucat. Ia menyelipkan ponsel ke bawah napkin tepat saat Nara meletakkan tabletnya. Pria itu mengenakan setelan yang sempurna, namun matanya—dingin dan tajam—seolah bisa menembus lapisan ketenangan yang Ayla bangun dengan susah payah.

“Kau tidak menyentuh sarapanmu,” ujar Nara. Suaranya rendah, tanpa nada tanya, lebih seperti observasi atas sebuah aset yang mulai kehilangan efisiensi.

“Aku hanya sedang memikirkan jadwal hari ini,” jawab Ayla, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang. “Ada beberapa urusan pribadi yang harus kuselesaikan.”

Nara menatapnya cukup lama, sebuah jeda yang membuat udara di ruangan itu terasa menipis. “Urusan pribadi atau urusan Damar?”

“Damar sudah bukan urusanku lagi, Nara. Kau sendiri yang memastikan itu dengan bukti-bukti yang kau berikan.”

Nara menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tidak mencapai matanya. “Bagus. Karena aku tidak suka membuang sumber daya untuk masalah yang sudah selesai.”

Begitu Nara melangkah keluar, Saskia yang sejak tadi diam di sudut ruangan segera mendekat. Ia tidak membuang waktu dengan basa-basi. “Maman Hidayat setuju bicara. Tapi dia menuntut syarat mutlak: kau harus datang sendirian. Tanpa pengawal, tanpa Nara, tanpa bayang-bayang Adiwijaya.”

Ayla menatap Saskia, menyadari bahwa ini adalah celah yang ia butuhkan. “Dia tahu apa?”

“Dia tahu bagaimana Damar memanipulasi asetmu melalui perusahaan cangkang yang bersinggungan dengan jaringan bisnis Adiwijaya. Jika kau ingin menghancurkan Damar sepenuhnya tanpa harus terus-menerus berutang budi pada Nara, ini adalah kuncinya.”

Sore berikutnya, Ayla berdiri di depan sebuah kafe tua di pinggiran kota. Ia meninggalkan ponselnya di dalam taksi, memastikan tidak ada pelacak yang bisa mengikutinya. Di dalam, Maman Hidayat sudah menunggunya dengan tangan gemetar di atas sebuah map cokelat.

“Damar tidak hanya mencuri uangmu, Nona,” bisik Maman, matanya menyapu sekeliling dengan paranoid. “Dia menggunakan namamu untuk menutupi transaksi ilegal yang melibatkan keluarga Adiwijaya. Dia tahu Nara akan mencium baunya, jadi dia menjadikanmu tameng. Jika Nara tahu kau terlibat dalam transaksi ini, dia tidak akan melindungimu—dia akan membuangmu.”

Ayla membuka map itu. Deretan angka dan tanda tangan palsu yang tertera di sana adalah bukti nyata pengkhianatan Damar yang jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Ini bukan sekadar perceraian; ini adalah sabotase sistematis atas martabatnya.

Saat Ayla melangkah keluar dari kafe, ia merasa dunianya telah berubah. Ia kini memiliki senjata, namun senjata itu menuntut harga yang mahal: ia harus bergerak di luar kendali Nara. Saat ia kembali ke penthouse, Nara sudah berdiri di dekat jendela besar, menatap cakrawala kota dengan punggung yang kaku.

“Kau pergi menemui seseorang,” suara Nara memecah keheningan. Ia tidak berbalik. “Dan kau mematikan ponselmu.”

“Aku sedang mencari kebenaran yang tidak kau berikan padaku,” sahut Ayla, suaranya kini lebih keras, lebih berani. “Aku bukan bidak yang bisa kau gerakkan sesuka hatimu, Nara.”

Nara berbalik, matanya berkilat dengan kemarahan yang tertahan. “Kau tidak tahu apa yang kau hadapi, Ayla. Dunia ini tidak seaman yang kau kira.”

“Dan kau tidak se-dingin yang kau tunjukkan,” balas Ayla, menatap mata pria itu tanpa berkedip. “Kau melindungiku bukan karena kau peduli, tapi karena kau ingin mengendalikan narasi ini. Tapi mulai hari ini, aku yang akan memegang kendalinya.”

Saat itu juga, ponsel Ayla di dalam tasnya bergetar panjang. Pesan baru muncul, dan kali ini, ia tahu bahwa pilihannya untuk melawan akan membawa konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekadar perceraian.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced