Novel

Chapter 6: Kompensasi yang Tak Terduga

Ayla berhasil memulihkan asetnya dengan mengancam Damar menggunakan bukti dari Nara. Sebagai imbalan atas perlindungan dan status yang diberikan Nara, Ayla harus menghadapi interogasi keluarga Adiwijaya di makan malam resmi. Ayla berhasil mempertahankan martabatnya, namun sebuah pesan ancaman anonim muncul, memintanya datang sendirian dan menjauh dari Nara.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kompensasi yang Tak Terduga

Bau ruang arsip bank itu selalu sama: perpaduan antara kertas tua, pendingin ruangan yang terlalu dingin, dan arogansi birokrasi. Ayla Prameswari duduk tegak, menatap administrator bank yang tampak gelisah di balik meja mahoni.

“Dana perwalian Anda sudah aktif kembali, Bu Ayla,” ujar pria itu, suaranya tertahan. “Namun, pihak Damar Santika mengajukan keberatan formal atas aset investasi terkait transaksi lintas entitas. Mereka mengklaim ada sengketa kepemilikan.”

Ayla tidak berkedip. Ia mengeluarkan map tipis dari tasnya, meletakkan salinan bukti transaksi ilegal yang diberikan Nara padanya. Dokumen itu bukan sekadar kertas; itu adalah surat kematian bagi reputasi Damar.

“Katakan pada Damar,” suara Ayla tenang, tajam seperti kaca, “bahwa jika dia berani menahan satu sen lagi, dokumen ini akan sampai ke meja auditor eksternal besok pagi. Saya tidak sedang bernegosiasi. Saya sedang menagih apa yang menjadi hak saya.”

Saat ia melangkah keluar, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Nara: Makan malam keluarga Adiwijaya. Pukul tujuh. Gunakan perhiasan yang kuberikan.

Di penthouse, suasana terasa lebih menekan. Nara berdiri di ambang pintu kamar rias, menatap Ayla yang sedang mematut diri di cermin. Di atas meja, sebuah kotak beludru hitam terbuka, memamerkan kalung emas putih dengan batu champagne yang memantulkan cahaya dengan angkuh.

“Transfernya masuk jam enam lewat sepuluh,” ujar Nara pelan, suaranya rendah. “Damar sudah tidak punya akses lagi.”

Ayla mengenakan kalung itu, merasakan dingin logam menyentuh kulitnya. “Kau membelikanku status, Nara. Bukan sekadar perhiasan.”

Nara mendekat, jemarinya menyentuh tengkuk Ayla untuk mengunci kalung itu. Sentuhan itu bukan romansa; itu adalah penegasan kepemilikan. “Aku membelikanmu perlindungan yang tidak bisa diabaikan oleh siapa pun di meja makan nanti. Di sana, kau bukan lagi mantan istri yang dicemooh. Kau adalah pilihanku. Dan itu membuat mereka harus berhati-hati saat menatapmu.”

Setengah jam kemudian, mereka berada di ruang makan keluarga Adiwijaya. Suasana di sana lebih dingin dari ruang pengadilan. Bibi Nara, seorang wanita dengan tatapan yang mampu membedah riwayat hidup seseorang, meletakkan sendoknya dengan denting porselen yang nyaring.

“Jadi, Ayla,” suaranya halus namun mematikan. “Sebelum pertunangan ini, apa sebenarnya yang kau kerjakan? Kami mendengar banyak versi tentang kehidupan pribadimu.”

Ayla merasakan jemari Nara di bawah meja, menekan pergelangan tangannya—sebuah peringatan sekaligus dukungan. Ia tidak menunduk. Ia menatap bibi Nara tepat di mata.

“Saya mengelola aset keluarga, dan setelah perceraian, saya belajar satu hal penting,” jawab Ayla dengan senyum tipis. “Nama baik bisa hilang lebih cepat daripada saldo tabungan, dan orang yang paling ramah di meja makan biasanya adalah orang yang paling ingin tahu seberapa banyak yang bisa mereka ambil dari saya.”

Ruangan itu hening. Nara di sampingnya justru menyesap anggurnya, tampak menikmati pertunjukan itu. Ia tidak membela Ayla; ia membiarkan Ayla menunjukkan taringnya sendiri.

Saat mereka berjalan menuju mobil setelah makan malam, ponsel Ayla bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar: Kalau kamu masih mau nama keluargamu bersih, datang sendiri besok sore. Jangan bawa Adiwijaya.

Nara memperhatikan perubahan ekspresi Ayla. “Ada masalah?”

Ayla menyembunyikan ponselnya. Ia menatap Nara, menyadari bahwa meski pria ini memberinya perlindungan, ia juga sedang menarik Ayla ke dalam medan perang yang lebih berbahaya. “Bukan apa-apa. Hanya urusan lama yang belum selesai.”

Nara membuka pintu mobil untuknya, menatap Ayla dengan intensitas yang membuat Ayla sadar bahwa kompensasi emosional ini—perlindungan, status, dan kekuasaan—memiliki harga yang mungkin tidak akan pernah bisa ia bayar kembali.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced