Retakan pada Topeng
Layar ponsel Ayla di atas meja marmer penthouse itu menampilkan notifikasi yang terasa seperti tamparan dingin: Akses dana perwalian ditangguhkan sementara.
Ayla tidak berkedip. Ia menatap deretan angka yang kini terkunci rapat, seolah menolak percaya bahwa Damar akan berani melakukan langkah sekasar ini di depan publik. Di seberang meja, Nara meletakkan cangkir kopinya dengan presisi yang tenang. Pria itu tidak perlu melihat layar untuk membaca perubahan suhu di ruangan itu.
“Siapa?” tanya Nara. Suaranya rendah, tanpa basa-basi.
“Damar,” jawab Ayla. Nama itu jatuh di antara mereka, tajam dan pahit. “Dia membekukan rekening perwalianku. Menggunakan surat kuasa lama yang dia modifikasi untuk verifikasi bank.”
Nara tidak terkejut. Ia justru meraih ponsel kedua yang tergeletak di samping serbet lipatnya, lalu menekan sebuah nomor dengan gerakan yang efisien. “Dia panik,” gumam Nara, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Ayla. “Dia mulai menyadari bahwa narasi yang dia bangun di media mulai runtuh, jadi dia mencoba memutus napas finansialmu.”
Nara berbicara singkat dengan seseorang di ujung telepon, bahasanya dingin dan penuh perintah hukum yang tidak bisa dibantah. Saat ia menutup telepon, ia menatap Ayla dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan empati, melainkan kalkulasi yang berbahaya. “Rekening itu akan terbuka dalam dua jam. Tapi Ayla, ini bukan lagi tentang uang. Ini tentang siapa yang memegang kendali atas sejarahmu.”
Beberapa jam kemudian, di lobi hotel tempat acara amal berlangsung, suasana terasa jauh lebih mencekam. Berita pertunangan mereka sudah mulai beredar, dan Damar—yang hadir dengan senyum yang tampak terlalu sempurna—sengaja melintas di dekat mereka, memberikan anggukan yang sarat dengan ancaman terselubung.
“Kau terlihat tegang,” bisik Nara di telinga Ayla saat mereka berjalan menuju mobil. Nafasnya terasa hangat, namun sikapnya seperti benteng. “Ingat, di depan mereka, kau bukan lagi mantan istri yang dicampakkan. Kau adalah pilihanku.”
“Dan apa bedanya?” balas Ayla, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku hanya bertukar penindas, Nara.”
Nara berhenti melangkah. Ia mencengkeram lengan Ayla—tidak keras, namun cukup untuk menghentikan langkahnya. “Aku tidak menindasmu, Ayla. Aku membelimu dari ancaman Damar dengan harga yang sangat mahal. Dan aku tidak menerima barang rusak.”
Di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan kota, Nara membuka map hitam yang sejak tadi ia bawa. Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan sebuah drive kecil, meletakkannya di antara mereka. “Ini adalah bukti transaksi aset Prameswari yang dia jual ke pesaingku. Jika kau mau, kita bisa menghancurkannya malam ini. Tapi ingat, setiap langkah yang kau ambil denganku akan menyeretmu lebih dalam ke dalam urusan keluarga Adiwijaya.”
Ayla menatap dokumen itu. Ia menyadari bahwa ini adalah leverage yang selama ini ia cari, namun harganya adalah keterikatan permanen pada pria di sampingnya. Saat ia hendak menyentuh dokumen itu, ponsel Nara berdering. Suara ibunya terdengar dari speaker mobil, menuntut kehadiran mereka di makan malam keluarga malam ini.
“Mereka ingin tahu mengapa namamu ada di setiap agenda bisnis kita,” Nara berkata setelah menutup telepon, menatap Ayla dengan intensitas yang membuat napas Ayla tertahan. “Malam ini, kau akan hadir bukan sebagai tunangan kontrak, tapi sebagai seseorang yang aku pilih di depan mereka. Kau siap untuk itu, Ayla?”
Ayla menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang gelap. Ia tidak lagi terlihat seperti korban. Ia adalah bagian dari permainan ini sekarang. Namun, saat notifikasi bank muncul kembali—menandakan rekeningnya telah dibuka kembali atas instruksi Nara yang kasar—ia menyadari satu hal: perlindungan ini memiliki harga yang mungkin tidak akan pernah bisa ia bayar kembali.