Sandiwara yang Terlalu Nyata
Pukul tujuh lewat dua belas. Notifikasi bank itu muncul di layar ponsel Ayla tepat saat ia menyelipkan anting mutiara terakhir. Satu kalimat singkat: Akses sementara ke dana atas nama bersama ditahan sampai verifikasi lanjutan. Angka-angka itu tidak berubah meski ia membacanya tiga kali. Dingin merayap dari perut ke dada.
“Masalah?” Suara Nara datang dari ambang pintu, rendah dan terukur.
Ayla tidak menoleh. Jari-jarinya tetap tenang mengatur rambut. “Verifikasi bank. Dibekukan.”
Nara melangkah masuk. Jas gelapnya pas di tubuh, dasi hitamnya lurus sempurna. Matanya turun ke layar ponsel Ayla, membaca lebih cepat daripada yang ia pura-pura. “Bukan bank. Ini tangan Damar. Dia tidak perlu menyentuh uangmu langsung untuk membuatnya beku. Dia tahu jalurnya.”
“Kau bilang perlindunganmu mahal,” Ayla mematikan layar dengan gerakan tajam. “Ini baru permulaan. Damar sedang menguji seberapa cepat kau goyah di depan kamera.”
“Aku tidak mundur,” potong Ayla. “Aku hanya ingin tahu berapa lama lagi aku harus berpura-pura bahwa sentuhanmu hanya sandiwara.”
Nara tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sekali. “Kita punya tujuh menit. Tangan kananmu di lengan kiri saya. Jangan terlalu tinggi. Kalau kamera menangkap cincin dulu, mereka akan tanya tanggal. Kalau wajahmu dulu, mereka akan tanya Damar.”
Mobil melaju di tengah lalu lintas Jakarta yang padat. Di dalam kabin, Nara tidak memberi ruang untuk bernapas. Ia menggeser tablet di pangkuannya, menampilkan profil wartawan yang akan hadir. Setiap instruksinya adalah tentang kerusakan terkecil. Ayla merasakan panas dari lengan Nara yang sesekali menyentuh bahunya—bukan pelukan, melainkan penyesuaian posisi yang terukur. Tubuhnya mengingat, meski pikirannya menolak.
“Satu lagi,” Nara menutup tablet. “Jangan tatap aku terlalu lama. Mereka akan bilang kita jatuh cinta terlalu cepat. Tatap sebentar, lalu alihkan. Seperti orang yang sudah terbiasa saling jaga tanpa perlu kata-kata.”
Begitu mobil berhenti di depan venue, Nara turun lebih dulu dan mengulurkan tangan. Ayla menerimanya. Tangan itu hangat, mantap, dan untuk sesaat, ia merasa bukan sedang berakting. Tapi ia segera mengingatkan diri: ini bisnis. Ini harga yang ia pilih.
Di depan meja wawancara, dua gelas air berembun dan deretan mikrofon membuat ruangan terasa seperti ruang interogasi. Nara berdiri di sebelahnya, satu tangan terselip di saku jas, tangan lain menyentuh punggung kursi Ayla—cukup untuk terlihat akrab, cukup singkat untuk bisa disangkal.
Wartawan pembuka tersenyum licin. “Publik sudah mengenal kalian sebagai pasangan yang mendadak serius. Kapan sebenarnya pertunangan ini dimulai?”
Ayla sudah melatih jawaban aman, tapi Nara lebih dulu bergerak. Ia menoleh ke arah Ayla, pandangan datar seperti sedang memutuskan angka investasi.
“Sudah cukup lama,” kata Nara tenang. “Kami tidak suka terburu-buru di depan publik. Tapi ketika tahu satu sama lain lebih dalam, keputusan itu datang dengan sendirinya.”
Wartawan kedua mencondongkan tubuh. “Bu Ayla, pasca-perceraian dengan Pak Damar, banyak yang bertanya soal aset keluarga Prameswari. Apakah pertunangan ini bagian dari penyelesaian itu?”
Pertanyaan itu seperti pisau yang diarahkan tepat ke luka. Ayla merasakan darahnya mendidih, tapi wajahnya tetap tenang. “Perceraian adalah urusan pribadi. Aset keluarga sedang dalam proses yang benar. Saya lebih memilih fokus pada masa depan.”
Nara menyela halus, tangannya kini menyentuh punggung Ayla—lebih lama kali ini, seperti penyangga. “Yang penting, Ayla tidak sendirian lagi. Dan itu bukan sekadar kata-kata.”
Jawaban itu terdengar terlalu meyakinkan. Kamera berkedip. Ayla merasakan tatapan wartawan berubah—dari penasaran menjadi yakin. Sandiwara ini mulai terasa terlalu nyata. Ketika sesi selesai, Ayla kembali ke mobil dengan langkah berat. Ponselnya bergetar lagi: dana masih dibekukan. Namun, Nara langsung mengambil ponselnya sendiri, mengetik cepat.
“Sudah ditangani,” katanya tanpa menoleh. “Besok pagi akses akan terbuka. Tapi Damar akan tahu kita membalas.”
“Apa yang kau lakukan?”
“Sesuatu yang membuatnya berpikir dua kali sebelum menyentuh apa yang sekarang menjadi urusan saya juga.”
Di dalam kegelapan kabin, tangan Nara sekali lagi menyentuh lengan Ayla—bukan instruksi latihan, melainkan sesuatu yang lebih disengaja. Ayla tidak menarik diri. Ia menatap lampu kota yang berlalu. Besok pagi, berita pertunangan ini akan menyebar luas. Damar akan membalas. Namun, untuk saat ini, tekanan hangat di lengannya terasa seperti janji yang berbahaya.