Novel

Chapter 3: Jebakan di Balik Dokumen

Ayla menghadapi tekanan dari Bu Ratih mengenai kehormatan keluarga, lalu menyelinap ke ruang kerja Nara dan menemukan bukti bahwa Damar telah menjual aset keluarga Prameswari ke jaringan bisnis pesaing Nara. Nara memergoki Ayla dan menegaskan bahwa mereka kini terikat dalam perang bisnis yang sama. Bab berakhir dengan penampilan publik mereka yang semakin mengikat posisi Ayla sebagai tunangan Nara, sekaligus memperjelas bahwa ia kini menjadi pion dalam permainan kekuasaan yang lebih besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Jebakan di Balik Dokumen

Suara denting sendok perak yang beradu dengan porselen di meja sarapan penthouse itu terdengar seperti ancaman. Bu Ratih duduk tegak, menatap Ayla dengan tatapan yang sudah ia asah selama tiga puluh tahun untuk memadamkan api pemberontakan.

"Kalau kamu masih ingin memakai nama Prameswari, kamu harus belajar diam, Ayla," ujar Bu Ratih dingin. "Skandal perceraianmu sudah cukup merusak reputasi keluarga. Jangan menambahnya dengan drama pertunangan yang tidak masuk akal bersama Nara Adiwijaya."

Ayla meletakkan serbetnya. Ia tidak membalas dengan kemarahan, melainkan dengan ketenangan yang ia pelajari dari Nara. "Diam untuk siapa, Bu? Untuk keluarga, atau untuk orang-orang yang ingin cerita cerai ini rapi supaya saya saja yang terlihat salah?"

"Jangan keras kepala," potong Bu Ratih. "Damar sudah bicara. Dia bilang kamu yang tidak bisa diatur. Nara memang menolong, tapi jangan kira nama Adiwijaya bisa dipakai seenaknya."

"Saya tidak memakai nama itu. Saya sedang menggunakan perlindungan yang saya beli dengan harga yang sangat mahal," balas Ayla tajam. Ia berdiri, meninggalkan sarapan yang belum tersentuh. Ia tidak butuh restu ibunya; ia butuh asetnya kembali.

Di ruang kerja Nara, suasana terasa seperti brankas yang dibiarkan terbuka. Ayla masuk dengan kartu akses yang semalam diberikan Nara. Di atas meja, laptop Nara terbuka. Folder yang terbuka di layar bukan kontrak pertunangan, melainkan label yang kering dan tajam: PRAMESWARI / PENGALIHAN / KENDALI.

Jari Ayla bergerak cepat. Di sana, ia melihat jejak digital yang tidak terbantahkan: Damar telah memindahkan aset-aset utama keluarga Prameswari melalui perusahaan perantara yang bersentuhan langsung dengan jaringan bisnis Adiwijaya. Damar tidak hanya menceraikannya; ia menjual fondasi hidup Ayla untuk membayar akses ke lingkaran Nara.

"Kalau kamu mencari kontrak, laci kiri. Kalau kamu mencari alasan, kamu terlambat."

Suara Nara memecah keheningan. Ayla tersentak. Nara bersandar di ambang pintu, jasnya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Tatapannya turun ke layar laptop, lalu kembali ke wajah Ayla. Tidak ada ledakan marah, hanya ketenangan yang berbahaya.

"Kamu meninggalkan file ini terbuka," ujar Ayla, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang. "Sengaja?"

Nara melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Untuk memastikan kamu tahu siapa yang sebenarnya kamu lawan. Damar bukan sekadar mantan suami yang ingin membuangmu. Dia adalah pion yang sedang mencoba menjual rumahmu kepada pesaing terbesarku."

"Dan kamu? Apa kamu sedang melindungiku, atau hanya mengamankan asetmu sendiri?" Ayla menantang, menatap mata Nara yang gelap.

Nara mendekat, jarak mereka menipis hingga Ayla bisa mencium aroma kayu cendana dan kopi dingin dari kemeja pria itu. "Aku melakukan keduanya. Pertunangan ini bukan sandiwara yang bisa kamu tinggalkan kapan saja. Ini adalah kontrak perlindungan. Kamu butuh posisiku untuk mendapatkan kembali apa yang dicuri Damar, dan aku butuh kredibilitasmu untuk menutup celah di perusahaanku."

Ayla menatap salinan file di layar. Kesadaran itu menghantamnya: ia bukan hanya tunangan palsu; ia adalah sekutu dalam perang yang tidak ia mulai. "Aku tidak ingin menjadi pion di papan caturmu, Nara."

"Maka jadilah pemainnya," balas Nara dingin. "Bersiaplah, media sudah menunggu di bawah. Tunjukkan pada mereka bahwa kamu bukan perempuan yang bisa dipatahkan oleh perceraian."

Di ruang media privat lantai bawah, lampu kamera menyilaukan mata. "Pak Nara, benar Ayla Prameswari adalah tunangan baru Anda setelah perceraiannya?" salah satu wartawan menembak. Nara tidak membiarkan Ayla menjawab. Ia merangkul pinggang Ayla, sentuhan yang terasa seperti kepemilikan sekaligus ancaman.

"Ayla bukan pelarian," kata Nara, suaranya terdengar terlalu tenang untuk sekadar sandiwara. "Dia adalah pilihan saya."

Saat lampu kamera padam, Ayla menyadari satu hal yang paling berbahaya: perlindungan Nara bukan cuma mahal, tapi juga mengikat masa depannya. Ia baru saja terjebak dalam permainan yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced