Novel

Chapter 2: Harga dari Sebuah Perlindungan

Ayla dan Nara melakukan debut publik sebagai tunangan di acara amal elit. Ayla berhasil menahan serangan Damar dengan bantuan proteksi dingin Nara, yang secara tidak langsung menaikkan posisi sosialnya. Di akhir acara, Ayla menemukan file rahasia yang mengungkapkan bahwa pertunangan mereka adalah bagian dari skema yang jauh lebih besar dan berbahaya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga dari Sebuah Perlindungan

Ayla Prameswari turun dari mobil tepat saat notifikasi ponselnya bergetar dua kali lagi, lalu mati—seolah sengaja dipaksa berhenti menerima kabar buruk. Pintu putar hotel kaca itu memantulkan wajahnya; rapi, dingin, dan hanya berjarak satu tarikan napas dari retakan emosi. Di lobi, langit-langit tinggi dan marmer pucat membuat setiap langkah terdengar seperti vonis di ruang sidang. Tawa tamu elit, denting gelas kristal, dan bisik-bisik yang sudah hafal namanya beradu di udara.

Nara Adiwijaya berdiri di dekat meja registrasi VIP, setelan gelapnya seperti pernyataan tanpa emosi. Di tangan kirinya, ia memegang kartu akses hitam yang belum pernah Ayla sentuh seumur hidupnya. Saat Ayla mendekat, Nara tidak menoleh berlebihan, hanya menggeser kartu itu ke arah petugas. “Nama Ayla Prameswari. Masukkan ke daftar pendamping saya.”

Petugas itu sempat ragu. “Maaf, Pak, area ini—”

“Sudah termasuk.” Nada Nara tidak keras, namun cukup tajam untuk menghentikan napas petugas tersebut. Ayla menatap kartu itu, lalu menatap Nara. “Jadi saya dibawa masuk seperti barang pinjaman?”

Sudut mulut Nara nyaris bergerak. “Kalau saya bilang Anda tamu, mereka akan bertanya siapa yang membayar. Kalau saya bilang Anda tunangan saya, mereka akan menelan pertanyaan itu.”

“Dan saya harus diam saja?”

“Tidak,” Nara menahan pintu menuju koridor privat. “Tugas Anda hanya tetap berdiri di sisi saya. Sisanya, biar saya yang memastikan mereka tidak berani bertanya.”

Di dalam ruang jamuan, suasana jauh lebih mencekam. Meja mereka berada tepat di area media, di mana lampu kilat kamera memantul di permukaan sendok perak, menyoroti setiap ekspresi Ayla. Ponselnya kembali bergetar di dalam clutch. Nama ibunya, Bu Ratih, muncul dengan pesan singkat: Jangan buat keluarga malu. Tersenyumlah saja. Ayla mematikan layar tanpa membalas. Ia tidak datang untuk menjadi pajangan, namun ia juga tidak akan membiarkan Damar—yang berdiri tak jauh dari sana bersama rekan bisnisnya—melihatnya gemetar.

Damar mendekat dengan senyum yang lebih tajam dari cercaan langsung. “Ayla, tidak menyangka kau akan hadir. Dan bersama Nara?” Ia melirik Nara dengan tatapan meremehkan yang disamarkan dengan sopan santun. “Hati-hati, Nara. Dia punya kebiasaan merusak apa pun yang dia pegang.”

Suasana di sekitar meja membeku. Tamu-tamu lain mulai menoleh, menunggu reaksi Ayla. Namun, Ayla justru menyesap air mineralnya dengan tenang, menatap Damar tepat di mata. “Kebiasaan yang menarik, Damar. Sayangnya, itu hanya berlaku untuk aset yang nilainya tidak pernah kau pahami.”

Sebelum Damar sempat membalas, Nara melangkah maju. Ia tidak menaikkan suara, namun kehadirannya seolah menyedot seluruh oksigen di ruangan itu. “Damar,” suaranya dingin, berwibawa, dan mutlak. “Jika kau ingin membicarakan tentang aset, mungkin kita bisa melakukannya di ruang kerja saya, dengan kehadiran pengacara dan rekaman yang sedang saya simpan. Tapi di sini? Saya sarankan kau mundur sebelum namamu menjadi berita utama yang sangat tidak menguntungkan besok pagi.”

Damar terdiam, wajahnya memucat seketika. Ia tahu apa yang Nara maksud dengan ‘rekaman’. Ia mundur tanpa kata, meninggalkan Ayla dan Nara di bawah sorotan kamera yang kini berubah dari sinis menjadi penasaran.

Setelah sesi foto yang melelahkan, Ayla mengikuti Nara ke ruang kecil di belakang panggung. Di sana, Nara meletakkan jasnya dan membuka sebuah map berisi dokumen rahasia. Ayla tidak bisa menahan diri untuk melirik. Di dalam map itu, ia menemukan jejak transaksi yang mengaitkan sabotase asetnya dengan jaringan bisnis yang lebih besar—jaringan yang melibatkan nama keluarga besar Adiwijaya sendiri.

“Pertunangan ini bukan sekadar perlindungan, bukan?” tanya Ayla pelan. Nara menoleh, menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.

“Perlindungan selalu memiliki harga, Ayla. Pertanyaannya, apakah kau cukup berani untuk membayar dengan kebenaran yang akan menghancurkan mereka semua?”

Saat Ayla memegang file itu, ia menyadari bahwa pertunangan palsu ini adalah senjata yang jauh lebih mematikan daripada sekadar tameng. Di luar, notifikasi ponselnya kembali berbunyi, namun kali ini, ia tidak lagi merasa takut. Ia sudah memegang kendali.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced