Sarapan di Atas Puing-Puing
Penthouse di lantai 42 itu tidak pernah terasa seperti rumah. Pagi ini, suasananya lebih mirip ruang interogasi. Ayla Prameswari duduk di kursi kayu ek dengan punggung tegak, menatap cangkir kopi yang mengepul tipis—satu-satunya hal yang hangat di ruangan ini. Di hadapannya, Damar Santika meletakkan sebuah map krem dengan gerakan yang terlalu tenang, terlalu terukur.
"Tanda tangan, Ayla. Kita sudah sampai di ujung jalan," ucap Damar. Suaranya bersih, tanpa nada penyesalan yang biasanya muncul di drama perceraian kelas atas. Ia menyesap kopinya, menatap Ayla seolah sedang membuang barang yang sudah usang.
Di ujung meja, Ibu Ratih meremas saputangan linennya hingga buku jarinya memutih. "Ayla, jangan keras kepala. Nama keluarga kita sudah cukup hancur di mata kolega. Cukup tanda tangani, dan kita bisa menjaga martabat yang tersisa."
Martabat. Ayla nyaris tertawa. Ia membuka map itu. Matanya memindai paragraf demi paragraf dengan kecepatan yang menyembunyikan getaran di jemarinya. Itu bukan sekadar dokumen perceraian. Itu adalah surat kematian finansial. Klausul pelepasan hak atas apartemen, pembatalan akses ke rekening bersama, bahkan sebuah poin yang melarangnya membawa sengketa ke ranah publik. Damar tidak hanya ingin bercerai; ia ingin menghapus jejak Ayla dari hidupnya tanpa meninggalkan satu pun remah aset.
"Versi ini sangat menguntungkanmu, Damar," ujar Ayla tenang, suaranya sedatar kaca jendela yang dipukul hujan tropis di balik balkon. "Tapi untukku, ini adalah penguburan yang sopan."
Damar terkekeh pelan. "Kamu tidak punya pilihan lain. Kamu tahu posisimu saat ini. Tanpa tanda tanganku di dokumen ini, kamu hanya akan menjadi bahan gosip yang lebih buruk di acara amal minggu depan. Kamu akan jatuh lebih keras daripada saat kita menikah."
Sebelum Ayla sempat membalas, pintu penthouse terbuka. Nara Adiwijaya melangkah masuk tanpa diundang. Kehadirannya membawa aura otoritas yang seketika mematikan suasana. Ia tidak membawa bunga atau permintaan maaf; ia membawa sebuah tablet yang diletakkannya tepat di atas map perceraian Damar.
"Gosip itu akan mati malam ini juga, Damar," suara Nara rendah, dingin, dan mutlak. Ia menekan layar tablet, memutar rekaman suara—percakapan telepon Damar yang membuktikan sabotase aset Ayla selama tiga bulan terakhir. "Atau, kamu ingin rekaman ini sampai ke meja direksi besok pagi?"
Wajah Damar yang semula tenang berubah pias. Ia berdiri, namun Nara tidak mundur satu inci pun.
"Ayla tidak akan menandatangani dokumen sampahmu," lanjut Nara, menatap Ayla dengan tatapan yang menuntut kerja sama. "Dia akan datang ke acara amal malam ini. Sebagai tunanganku."
Keheningan menyergap ruangan. Ibu Ratih terkesiap, namun Ayla tidak memalingkan wajah dari Nara. Ia melihat taruhannya: Nara menawarkan perlindungan dari kehancuran, namun harganya adalah keterikatan pada pria yang bahkan lebih berbahaya dan misterius daripada mantan suaminya.
"Kenapa aku harus percaya padamu?" tanya Ayla, suaranya tetap tajam, menolak untuk terlihat sebagai pion.
Nara mencondongkan tubuh, aroma maskulin yang dingin menguar darinya. "Karena aku satu-satunya orang di kota ini yang bisa menjamin kamu tidak hanya selamat, tapi menang. Tapi ingat, Ayla, ini bukan bantuan cuma-cuma. Begitu kamu melangkah keluar dari penthouse ini bersamaku, kamu adalah milikku dalam pandangan publik. Tidak ada jalan kembali."
Ayla menatap Damar yang kini tampak kecil di balik meja mahalnya, lalu beralih ke Nara. Ia tidak punya pilihan aman, namun ia punya pilihan untuk tidak kalah. Ia tidak menandatangani dokumen Damar. Sebaliknya, ia berdiri, merapikan gaunnya, dan menatap Nara dengan tekad yang baru.
"Malam ini," jawab Ayla, "tunjukkan padaku seberapa mahal perlindunganmu."