Harga Sebuah Kejujuran
Pagi itu, notifikasi ponsel Arini meledak sebelum kopi di meja sempat disentuh. Layar menampilkan foto yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan: Bramantya berdiri di depan lobi gedung merger semalam, tangannya di pinggang Arini, sementara satu judul portal bisnis menjerit, “Tunangan Baru Bramantya Diduga Kunci Waris Keluarga?” Arini menatapnya tanpa berkedip. Di seberang meja sarapan penthouse, skyline Jakarta berkilau dingin di balik kaca setinggi langit, seolah kota itu pun ikut menonton.
Bramantya sedang membaca laporan pagi dengan wajah yang tidak berubah. Kemeja putihnya masih sempurna, dasinya dilonggarkan satu sentimeter—cukup untuk memberi ilusi manusia, tidak cukup untuk membuatnya terliha
Preview ends here. Subscribe to continue.