Sentuhan yang Mengunci
Cahaya matahari pagi yang menembus jendela penthouse setinggi langit-langit tidak membawa kehangatan. Bagi Arini, ruang ini hanyalah sebuah kotak kaca yang memamerkan kemewahan sekaligus isolasi. Di atas meja marmer, ponsel Bramantya bergetar—sebuah notifikasi dari Adrian yang muncul seperti duri di tengah sarapan yang tenang.
Bramantya tidak segera meraihnya. Ia menyesap kopi hitamnya, matanya terkunci pada Arini, menimbang apakah wanita di depannya akan menunjukkan keretakan atau justru ketajaman yang ia tunjukkan semalam di depan keluarga besarnya.
Arini tidak membuang waktu. "Ada apa di dokumen suksesi itu, Bram?" suaranya datar, namun setiap kata memiliki bobot. "Jangan beri aku jawaban klise tentang fo
Preview ends here. Subscribe to continue.