Bukti di Balik Layar
Udara di ruang kerja Bramantya pagi itu terasa seperti oksigen yang dihemat. Arini menatap salinan addendum warisan yang tergeletak di atas meja mahoni. Dokumen itu bukan sekadar kertas; itu adalah surat pengakuan bahwa posisinya bukan sekadar tunangan, melainkan pion administratif untuk mengunci suara dewan direksi minggu depan.
"Kau membaca yang bukan hakmu," suara Bramantya memecah keheningan. Pria itu berdiri di ambang pintu, kemejanya yang rapi kontras dengan kekacauan emosional yang Arini rasakan.
Preview ends here. Subscribe to continue.