Novel

Chapter 3: Jebakan Warisan

Arini menemukan bahwa akses ke rekeningnya sudah disentuh jalur legal keluarga Bramantya, lalu memaksa penjelasan yang membuka sisi lebih gelap dari perlindungan itu. Di kantor Bramantya, ia menemukan dokumen warisan yang membuktikan pertunangannya bukan hanya tameng skandal, melainkan bagian dari skema suksesi yang menjadikannya alat administratif. Ketika keluarga Bramantya mengundangnya ke jamuan makan malam untuk menguji kelayakannya, Arini memilih tetap tinggal dan mulai menyusun leverage baru dari rahasia yang baru saja ia baca.

Release unit15% free previewIndonesian / Bahasa Indonesia
Preview active

This release is currently served with by_percent · 15 rules.

Upgrade Membership
15% preview Subscribe to continue the serialized release.

Jebakan Warisan

Notifikasi bank itu muncul tepat saat Arini baru menelan seteguk kopi tanpa gula.

Layar ponselnya menyalak di atas meja sarapan penthouse yang dinginnya seperti ruang sidang yang belum ditutup hakim. Permintaan akses masuk ke rekening lama—rekening yang menurut mereka sudah “disesuaikan”—menggantung di sana, lengkap dengan nama firma hukum keluarga Bramantya. Jari Arini berhenti di gagang cangkir. Bukan karena terkejut. Karena marah yang terlalu tajam untuk diberi nama di depan orang lain.

Di seberangnya, Bramantya duduk dengan kemeja putih yang rapi sekali, seolah pagi tak pernah punya hak mengacak hidupnya. Tabletnya terbuka, satu tangan memegang koran bisnis, satu tangan lagi menyentuh ujung gelas air. Tenang. Tertata. Terlalu siap untuk orang yang tadi malam membuat hidup Arini terasa seperti dipindahkan dari satu kandang ke kandang lain.

Pelayan penthouse berdiri beberapa langkah di belakang, pura-pura tidak mendengar. Di rumah ini, diam pun punya seragam.

Arini meletakkan ponsel dengan layar masih menyala menghadap ke atas. “Jelaskan.”

Bramantya menurunkan matanya dari tablet. “Kalau itu soal rekening, semua sudah lewat kanal legal.”

“Jangan putar kalimatnya.” Suaranya datar, tapi ujungnya tajam. “Kenapa firma keluargamu meminta akses ke rekeningku?”

“Karena ada pembayaran yang harus disesuaikan.”

“Pembayaran apa?”

“Hal-hal transisi.”

Arini tertawa pendek. Tidak hangat. Tidak manis. “Itu kalimat orang yang sedang mengambil alih hidup orang lain.”

Bramantya tidak langsung menjawab. Kebiasaan itu lebih mengganggunya daripada bentakan. Ia memilih kata seperti memilih papan catur.

“Kalau aku tidak melakukannya, Adrian akan memanfaatkan celah yang sama.”

Nama itu membuat sarapan terasa lebih pahit.

Arini menyandarkan punggung, menahan diri agar tidak menunjukkan betapa cepat dadanya menegang. “Jadi setelah kamu melunasi utangku di depan semua orang, sekarang rekeningku juga ikut jadi bagian dari paket perlindungan?”

“Perlindungan bukan hadiah gratis.”

“Bukan juga lisensi untuk mengatur hidupku.”

Bramantya menatapnya. Dingin, tetapi tidak kosong. Itu yang selalu berbahaya padanya—ia bisa ter

Preview ends here. Subscribe to continue.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced