Perisai Berharga Mahal
Tiga jam setelah kontrak itu ditandatangani, Arini berdiri di depan cermin setinggi badan di penthouse Bramantya. Kamar itu terasa lebih dingin daripada ruang sidang. Penata gaya pribadi Bramantya sedang menyisir rambutnya dengan gerakan mekanis, mengubah Arini dari seorang wanita yang baru saja kehilangan segalanya menjadi aset yang layak dipajang.
“Kalau Anda terus menolak disentuh, gaun ini akan jatuh tidak rapi di bahu kiri,” ujar penata gaya itu, datar.
“Aku bukan manekin,” sahut Arini, suaranya parau.
“Untuk malam ini, Anda harus terlihat seperti sesuatu yang layak diperebutkan,” balas wanita itu tanpa menoleh.
Bramantya muncul dari ruang kerja. Kemeja abu-abu gelapny
Preview ends here. Subscribe to continue.