Badai di Balik Senyum
Pukul sembilan lewat tujuh belas, Arini sudah tahu hari itu tidak akan berhenti dengan tenang. Nama asisten hukum Bramantya muncul di layar ponselnya, diikuti pesan singkat: Tolong ke ruang eksekutif sekarang. Ada penyesuaian aset yang harus Anda lihat.
Arini berdiri di depan lift lantai empat puluh, map krem di tangan, merasakan dinginnya gedung ini menempel di kulit seperti peringatan. Tiga hari lalu, di penthouse Bramantya, meja sarapan terasa lebih dingin daripada ruang sidang. Hari ini, dingin itu sudah pindah ke kantor—ke kaca, marmer, dan senyum orang-orang yang terlalu rapi untuk disebut ramah.
Ia tidak datang sebagai perempuan yang menunggu nasibnya diputuskan. Ia datang sebagai pihak yang sudah pernah jatuh dan tidak ingin dipaksa jongkok dua kali.
Ruang rapat itu sempit: satu meja marmer abu-abu, dua gelas air yang belum disentuh, dan kursi kosong di ujung yang disiapkan untuk seseorang yang membawa masalah. Arini baru sempat meletakkan map ketika pintu terbuka. Adrian masuk seperti orang yang masih percaya dirinya layak punya panggung. Jam tangan di pergelangan kirinya dulu pernah Arini puji sebagai tanda
Preview ends here. Subscribe to continue.