Novel

Chapter 7: Badai di Balik Senyum

Arini berhasil mematahkan upaya pemerasan Adrian di kantor firma Bramantya dengan bantuan bukti digital yang telah disiapkan Bramantya. Namun, kemenangan itu segera ternoda ketika Adrian mengirimkan bukti foto yang menunjukkan bahwa Bramantya telah mengawasi Arini jauh sebelum perceraian mereka terjadi, memicu krisis kepercayaan baru.

Release unit15% free previewIndonesian / Bahasa Indonesia
Preview active

This release is currently served with by_percent · 15 rules.

Upgrade Membership
15% preview Subscribe to continue the serialized release.

Badai di Balik Senyum

Pukul sembilan lewat tujuh belas, Arini sudah tahu hari itu tidak akan berhenti dengan tenang. Nama asisten hukum Bramantya muncul di layar ponselnya, diikuti pesan singkat: Tolong ke ruang eksekutif sekarang. Ada penyesuaian aset yang harus Anda lihat.

Arini berdiri di depan lift lantai empat puluh, map krem di tangan, merasakan dinginnya gedung ini menempel di kulit seperti peringatan. Tiga hari lalu, di penthouse Bramantya, meja sarapan terasa lebih dingin daripada ruang sidang. Hari ini, dingin itu sudah pindah ke kantor—ke kaca, marmer, dan senyum orang-orang yang terlalu rapi untuk disebut ramah.

Ia tidak datang sebagai perempuan yang menunggu nasibnya diputuskan. Ia datang sebagai pihak yang sudah pernah jatuh dan tidak ingin dipaksa jongkok dua kali.

Ruang rapat itu sempit: satu meja marmer abu-abu, dua gelas air yang belum disentuh, dan kursi kosong di ujung yang disiapkan untuk seseorang yang membawa masalah. Arini baru sempat meletakkan map ketika pintu terbuka. Adrian masuk seperti orang yang masih percaya dirinya layak punya panggung. Jam tangan di pergelangan kirinya dulu pernah Arini puji sebagai tanda

Preview ends here. Subscribe to continue.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced