Novel

Chapter 2: The Public Misread

Bab 2 memperdalam tekanan publik terhadap pertunangan palsu Nadia dan Arga melalui ledakan gosip di media sosial dan tatapan mencurigakan di acara sosial pertama. Rizal melancarkan serangan balik dengan menyebarkan potongan rekaman lama yang mengancam sengketa warisan Nadia. Arga menunjukkan tindakan perlindungan yang tak terduga dan mahal—membela Nadia di depan publik dan menawarkan koneksi untuk menetralkan rekaman meski mempertaruhkan reputasi dan proyek keluarganya sendiri—membuat Nadia semakin terikat dalam kontrak sambil merasakan kompensasi emosional pertama yang tajam.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Public Misread

Nadia menatap layar ponselnya dengan jantung yang masih berdegup kencang sejak meninggalkan kantor pengacara beberapa jam lalu. Notifikasi membanjiri tanpa henti. Tagar #PertunanganNadiaArga sudah menduduki trending topic lokal, dan komentar-komentar datang seperti hujan deras di musim penghujan. "Baru cerai, sudah tunangan lagi? Pasti ada apa-apa." "Arga itu siapa? Kok tiba-tiba muncul seperti penyelamat?" Di kafe kecil di pusat kota yang biasa ia kunjungi untuk bekerja, Nadia duduk di sudut paling belakang, mencoba menyembunyikan wajah di balik secangkir kopi hitam yang sudah dingin. Luka perceraian masih terasa segar, dan sekarang ini—gosip yang menyebar lebih cepat daripada kemampuannya bernapas.

Rani, asistennya yang setia, duduk di depannya dengan laptop terbuka. "Nadia, ini sudah lepas kendali. Beberapa akun gosip besar sudah mulai hubungkan dengan kasus warisanmu dan Rizal. Kita harus respons sekarang, sebelum rekaman itu benar-benar bocor." Suara Rani tegas, tapi ada kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

Nadia menggigit bibir bawahnya. Setiap kata yang ia keluarkan bisa menjadi bukti di pengadilan opini publik. "Aku tahu. Tapi aku tak boleh terlihat panik. Itu yang diinginkan Rizal." Ia menarik napas dalam, ingat klausul publik dalam kontrak yang baru ditandatangani pagi tadi: enam bulan, penalti berat jika gagal meyakinkan. Arga telah menawarkan perlindungan, tapi harga yang harus dibayar terasa semakin nyata.

Di gedung pertemuan kota yang megah malam itu, ujian pertama datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Lampu kristal menyinari aula yang penuh tamu undangan dari kalangan bisnis dan sosialita Jakarta. Nadia berjalan di sisi Arga, tangannya ringan menyentuh lengan pria itu sesuai kesepakatan—cukup untuk terlihat intim, tapi tidak berlebihan. Setelan jas hitam Arga terlihat sempurna, tapi Nadia bisa merasakan ketegangan di otot lengannya.

Bisikan mulai terdengar begitu mereka melangkah masuk. "Lihat, mantan istri Rizal sekarang dengan Arga. Cepat sekali." "Ini pasti sandiwara untuk tutup skandal warisan." Mata-mata mengikuti setiap gerak mereka. Seorang reporter mendekat, mikrofon terulur. "Bu Nadia, benarkah pertunangan ini tiba-tiba setelah perceraian? Ada rumor Anda butuh tameng dari tuntutan mantan suami."

Nadia merasa darahnya naik ke wajah, tapi sebelum ia sempat menjawab, Arga melangkah maju dengan tenang yang dingin. "Pertanyaan pribadi seperti itu sebaiknya ditujukan kepada saya," katanya dengan suara rendah tapi tegas, cukup keras untuk didengar beberapa tamu di sekitar. "Nadia sedang fokus membangun kembali hidupnya. Saya yang meminta dia memberi saya kesempatan."

Kata-kata itu sederhana, tapi efeknya langsung terasa. Beberapa tamu mengangguk, bisikan berubah nada. Namun, di sudut ruangan, Rizal muncul dengan senyum tipis yang Nadia kenal betul—senyum yang selalu mendahului serangan. Ia mendekat, suaranya pelan tapi menusuk. "Selamat, Nadia. Pertunangan yang indah. Tapi ingat, rekaman lama itu masih ada. Jangan pikir kontrakmu dengan Arga bisa menyembunyikan semuanya."

Nadia membeku sejenak. Rizal berbalik dan menghilang di kerumunan sebelum Arga sempat bereaksi. Tapi Arga tidak diam. Ia menarik Nadia sedikit lebih dekat, tangannya di pinggangnya—gerakan yang terasa protektif, bukan posesif. "Dia tidak akan menyentuhmu lagi," bisik Arga di telinganya, suaranya rendah dan pasti. "Aku sudah hubungi orangku untuk mulai proses netralisasi rekaman itu. Tapi... ini akan memakan biaya lebih dari yang kita rencanakan. Reputasiku di kalangan keluarga besar juga ikut taruhan."

Nadia menatapnya, mencari tanda kebohongan. Tidak ada. Hanya ketegasan yang membuat dadanya sesak—bukan karena takut, tapi karena seseorang akhirnya berdiri di depannya tanpa meminta balasan langsung. Tapi ia tahu, perlindungan ini bukan gratis. Setiap tatapan tamu sekarang membawa spekulasi baru: apakah Arga benar-benar peduli, atau ini hanya bagian dari permainan kekuasaan yang lebih besar?

Keesokan paginya, di ruang kerja sementara yang disewa Arga di kawasan Sudirman, serangan balik Rizal datang lebih keras. Pengacara Nadia menelepon dengan suara tegang. "Rekaman itu sudah beredar di grup-grup tertutup. Potongan percakapan lama yang bisa digunakan untuk mempertanyakan integritasmu dalam sengketa warisan. Ini bisa membatalkan klaimmu."

Nadia duduk di kursi kulit, tangannya mengepal. Luka lama terbuka kembali—pengkhianatan Rizal yang dulu ia tutup rapat. Ia langsung menghubungi Arga. "Rekaman itu... sudah mulai bocor."

Arga tiba tak lama kemudian, wajahnya serius. Di meja konferensi kecil itu, ia membuka laptop dan menunjukkan dokumen. "Aku bisa hentikan penyebarannya. Koneksiku di media dan hukum cukup kuat. Tapi itu berarti aku harus keluar dari beberapa proyek keluarga yang sensitif. Rahasia keluargaku sendiri akan terancam jika ini bocor ke pihak yang salah."

Nadia menatapnya lama. "Kenapa kamu lakukan ini? Kontrak kita baru satu hari, dan sudah seberat ini."

Arga bersandar di kursi, matanya tak lepas dari wajah Nadia. "Karena aku butuh tameng ini sama seperti kamu. Tapi lebih dari itu... aku melihat bagaimana kamu berdiri tegak meski luka masih berdarah. Itu bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang." Suaranya pelan, tapi ada bobot yang membuat udara di ruangan terasa lebih berat.

Di lobi hotel mewah sore harinya, saat mereka harus menghadapi sesi foto singkat untuk memenuhi klausul publik, kerumunan wartawan sudah menunggu. Pertanyaan-pertanyaan datang bertubi. "Nadia, apakah ini rebound setelah perceraian yang menyakitkan?" "Arga, apa benar Anda melindungi dia demi aset warisan?"

Nadia merasa dunia berputar. Tapi Arga melangkah ke depan, suaranya menggelegar dengan tenang yang memaksa semua diam. "Cukup." Ia menatap langsung ke kamera terdekat. "Nadia bukan barang yang perlu dihakimi. Saya yang memilih dia. Jika ada yang ingin menyerang, hadapi saya dulu. Rekaman apa pun yang beredar, itu masa lalu yang sudah selesai. Sekarang, dia punya saya."

Kata-kata itu menyebar seperti api di rumput kering. Beberapa reporter mundur, yang lain mencatat dengan mata berbinar—gosip baru lahir, tapi kali ini dengan Arga sebagai pelindung yang tak terduga. Nadia berdiri di sisinya, merasakan kehangatan yang aneh di dada meski otaknya berteriak hati-hati. Perlindungan ini mahal. Arga telah mempertaruhkan posisinya sendiri.

Saat mereka meninggalkan lobi, Arga menyentuh punggung Nadia sekilas—bukan untuk kamera, tapi untuknya. "Ini baru permulaan," katanya pelan. "Besok, dokumen keluargaku sendiri mungkin ikut terbuka. Dan rekaman itu belum sepenuhnya mati."

Nadia menelan ludah. Tekanan publik kini bukan lagi bayangan—ia nyata, dan pertunangan palsu mereka baru saja melewati ujian pertama dengan harga yang semakin tinggi. Tapi di balik ketakutan itu, ada sesuatu yang berubah: seseorang akhirnya membela dia dengan cara yang membuat luka lamanya terasa sedikit lebih ringan. Pertanyaan berikutnya sudah menggantung: berapa lama lagi sebelum rahasia Arga sendiri menghancurkan segalanya?

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced