Novel

Chapter 3: The Cost of Protection

Bab 3: Nadia menghadapi penyebaran rekaman lama Rizal yang semakin luas. Arga menunjukkan perlindungan mahal dengan menghentikan proyek keluarganya dan membuka rahasia wasiat keluarga. Nadia memutuskan arah selanjutnya di tengah jebakan yang semakin dalam, mendapatkan kompensasi emosional melalui tindakan nyata Arga sambil mempertahankan agensinya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Cost of Protection

Pintu ruang konferensi kantor hukum pribadi menutup dengan klik pelan yang terdengar seperti putusan akhir. Nadia berdiri di sisi meja kaca, bahunya masih tegang dari tatapan-tatapan di acara sosial semalam. Gosip sudah menyebar lebih cepat dari yang ia bayangkan—nama mereka berdua kini jadi bahan perbincangan di grup-grup keluarga dan bisnis.

Arga meletakkan map hitam tebal di meja. "Rizal tak main-main," katanya langsung, suara rendah tapi tegas. "Dia sebarkan file lengkap di kalangan tertutup. Rekaman percakapan lama kalian, surat-surat, bahkan potongan yang bisa membuka celah di klaim warisanmu. Pertunangan kita sekarang bukan lagi sandiwara—ini jadi senjata baginya."

Pengacara yang duduk di ujung meja membuka laptop tanpa ekspresi berlebih. "Setiap kata di ruangan ini bisa menjadi bukti yang mengikat. Rekaman itu belum sepenuhnya netral. Kalau bocor lebih luas, bukan hanya reputasimu, Nadia. Klaim warisan dan posisimu di keluarga besar ikut terancam."

Nadia menatap map itu. Luka perceraian yang masih menganga terasa kembali terbakar, tapi ia tak membiarkan bahunya meluruh. Ia datang ke sini untuk melindungi apa yang tersisa, bukan untuk menyerah. "Berapa lama lagi netralisasi itu bisa selesai?" tanyanya, suara mantap meski dada sesak.

Arga menarik kursi untuknya—gerakan kecil, tapi cukup untuk memberi ruang bernapas. "Aku sudah gerakkan koneksiku. Tapi ini butuh waktu. Dan biaya." Ia diam sejenak. "Proyek keluargaku di pantai utara terancam mundur. Melindungimu bukan hadiah, Nadia. Ini pertaruhan nyata."

Nadia mengangguk pelan. Bukan kata manis yang ia dengar, melainkan komitmen yang mahal. Itu memberinya sesuatu yang lebih tajam dari sekadar rasa aman: pengakuan bahwa ia tak lagi sendirian menghadapi tekanan ini. Tapi di balik lega itu, ia merasakan ikatan kontrak mulai mengencang.

Malam harinya, di apartemen Arga yang tinggi di Jakarta, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela besar. Arga menyalakan layar dinding tanpa basa-basi. Potongan rekaman muncul: suara Rizal yang dingin membahas bukan hanya warisan, tapi kesepakatan tersembunyi yang bisa menyeret nama keluarga besar.

"Ini cadangan yang belum aku netralkan sepenuhnya," kata Arga, matanya tertuju pada layar. "Rizal simpan ini untuk tekanan lebih dalam. Aku tunjukkan karena aku tak mau lindungi kamu setengah-setengah. Tapi kejujuran ini punya harga—rahasia keluargaku sendiri mulai terancam gara-gara pembelaanku kemarin di depan umum."

Nadia duduk di sofa, tangan saling genggam. Ia mendengar nada Arga: bukan pengorbanan yang ditonjolkan, melainkan fakta dingin yang membuat pertaruhan mereka terasa nyata. "Kenapa kamu rela bayar sebanyak ini?" tanyanya pelan, tak menuntut jawaban romantis.

Arga menoleh. Tatapannya tajam, tapi ada retak kecil di sana—sesuatu yang mirip kerapuhan yang ia coba sembunyikan. "Karena aku juga butuh tameng. Pertunangan ini seharusnya saling menguntungkan. Semakin aku lindungi kamu, semakin rahasia keluargaku terbuka risiko. Kita tak lagi main di permukaan."

Keesokan paginya, di ruang kerja Arga, ponsel Nadia bergetar tanpa henti. Notifikasi membanjiri: potongan rekaman yang sama kini beredar di grup bisnis dan media sosial tertutup. Suaranya sendiri terdengar ragu, seolah menyerahkan hak warisan begitu saja. Komentar tajam mengalir: "Setelah cerai langsung tunangan baru? Ada apa sebenarnya?"

Nadia berdiri tegak, meski perutnya mual. Ia tak membiarkan tangan gemetar di depan Arga. Arga membaca layar yang sama, bahunya menegang. "Ini serangan balik Rizal yang lebih terbuka. Dia tak puas dengan kalangan tertutup."

"Kalau ini terus," kata Nadia, suaranya tetap tenang, "aku tak hanya kehilangan warisan. Reputasiku di mata keluarga dan rekan bisnis akan hancur."

Arga diam sejenak, lalu mengambil keputusan dengan suara tegas. "Aku hentikan proyek utama keluarga di utara. Arahkan sumber daya untuk blokir penyebaran ini. Itu kerugian jutaan, tapi aku tak akan biarkan kamu jatuh sendirian." Kata-katanya bukan drama—hanya fakta yang membuat Nadia terdiam. Bukan pelukan, bukan janji manis. Tindakan nyata yang mempertaruhkan posisinya sendiri. Itu menggeser sesuatu di dalam dirinya: bukan cinta mendadak, melainkan rasa dihargai yang tajam dan langka.

Siang itu mereka kembali ke kantor hukum yang sama. Udara terasa lebih berat. Pengacara membuka map kulit cokelat tua yang baru diambil dari arsip keluarga Arga. "Surat wasiat ini muncul saat tim menelusuri jejak rekaman. Isinya berbeda dari yang diketahui publik. Ada aset tersembunyi yang bisa mengubah pembagian warisan keluarga Arga sepenuhnya. Kalau bocor karena tekanan Rizal, bukan hanya pertunangan kalian yang terancam—rahasia lama keluarga besar akan terbuka. Dan itu bisa jadi senjata baru bagi Rizal."

Nadia menatap dokumen itu, pikirannya berputar cepat. Membuka rahasia ini bisa memberi mereka kekuatan melawan Rizal, tapi juga berisiko menghancurkan posisi Arga yang selama ini jadi tamengnya. "Kalau kita diam saja, rekaman itu akan terus menyebar," katanya, suara mantap meski ada getar di dalam. "Tapi kalau kita ungkap ini… kita semua bisa kehilangan lebih banyak."

Arga memandangnya lama. Ada sesuatu yang baru dalam tatapannya—pengakuan bahwa Nadia bukan sekadar mitra kontrak. "Kamu yang putuskan arah selanjutnya. Aku sudah bayar mahal untuk berdiri di sisi ini. Tapi rahasia ini membuat jebakan kita semakin dalam. Pertunangan palsu ini kini bukan hanya soal gosip atau reputasi—ini soal perang warisan yang bisa menelan kita berdua."

Nadia menutup map itu pelan. Jarinya menyentuh kertas dingin. Luka lamanya masih ada, tapi ada kekuatan baru yang tumbuh dari tekanan ini. Perlindungan Arga memberinya ruang untuk bernapas, tapi juga menariknya lebih dalam ke pusaran yang tak terduga. Di luar jendela, langit Jakarta mulai gelap. Besok gosip akan semakin liar, rahasia semakin dekat ke permukaan, dan kontrak mereka tak lagi bisa dianggap ringan.

Rahasia keluarga dan dokumen penting itu kini terbuka, memperuncing jebakan sosial dan membuat pertunangan mereka semakin berisiko—sementara kompensasi emosional yang tajam mulai terasa, meski dengan harga yang semakin mahal.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced