The Public Misread
Ketukan di pintu suite itu bukan sekadar suara; itu adalah vonis yang menuntut eksekusi. Nadira Azzahra berdiri kaku di dekat meja rias, jemarinya mencengkeram kain satin gaunnya hingga buku jarinya memutih. Di atas meja, amplop cokelat berisi uang tutup mulut dari Ardan Pratama masih tergeletak—sebuah penghinaan yang kini terasa seperti bom waktu yang siap meledak di tengah pesta pertunangan mereka.
"Buka saja," suara Raka Maheswara memecah keheningan. Pria itu berdiri beberapa langkah di belakangnya, menyesuaikan manset kemejanya dengan ketenangan yang tidak wajar. "Kita sudah menandatangani kontraknya, Nadira. Kau bukan lagi pihak yang memohon. Kau adalah mitra saya."
Nadira menarik napas panjang, menstabilkan detak jantungnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin; ia tampak tenang, namun di balik itu, ia sedang mempertaruhkan sisa harga dirinya pada pria yang baru beberapa jam lalu ia kenal secara formal. Ia melangkah maju dan membuka pintu.
Ardan Pratama berdiri di sana, wajahnya menyimpan seringai tipis yang biasa ia gunakan untuk merendahkan Nadira di depan kolega. Namun, seringai itu membeku saat matanya menangkap sosok Raka di dalam ruangan. "Raka?" Ardan mengerutkan kening, pandangannya beralih dari Raka ke Nadira dengan tatapan menghakimi. "Apa yang dilakukan pemilik Maheswara Group di kamar mantan istriku?"
Raka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, berdiri tepat di samping Nadira, dan dengan gerakan yang disengaja, ia merangkul pinggang wanita itu. Cincin pertunangan di jari manis Nadira berkilau tertangkap lampu kristal suite, menampar mata Ardan dengan realitas baru. "Mungkin kau harus belajar membaca situasi, Ardan," suara Raka dingin, tanpa emosi. "Nadira kini berada di bawah perlindungan Maheswara. Uang tutup mulutmu? Bawa kembali. Itu hanya akan menghina seleramu sendiri."
Ardan terdiam, rahangnya mengeras. Ia menatap Nadira, mencari tanda-tanda keraguan, namun Nadira membalas tatapan itu dengan kepala tegak. Ardan akhirnya berbalik, langkahnya berat meninggalkan koridor hotel.
Begitu pintu tertutup, suasana di suite berubah drastis. Raka melepaskan rangkulannya dan menyampirkan jasnya di kursi. "Jangan menatapnya seolah itu bom waktu," ujar Raka, nadanya kini lebih tajam. "Itu hanya kertas dan janji. Fokusmu sekarang adalah bagaimana cara memakai cincin itu tanpa terlihat seperti sedang memikul beban dunia. Lepaskan rasa rendah dirimu di pintu depan, atau kontrak ini tidak akan bertahan sampai akhir pekan."
Nadira menyadari bahwa ia telah menukar satu penjara dengan kontrak yang lebih rumit. Namun, ia tidak punya pilihan.
Keesokan harinya, ruang makan keluarga Azzahra terasa jauh lebih mencekik. Bu Ratih menyesap tehnya dengan anggun, matanya tak lepas dari jemari Nadira yang melingkar di lengan Raka. “Jadi, Raka,” Bu Ratih membuka suara, suaranya halus namun mematikan, “Nadira baru saja melewati masa sulit. Sebagai pria yang memiliki reputasi, saya harap Anda tidak sekadar mencari pelarian atau memoles citra di depan publik.”
Nadira merasakan otot di lengan Raka menegang. Ia tahu ibunya sedang memancing. “Ibu,” potong Raka. Suaranya rendah dan tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. “Saya tidak pernah melakukan investasi tanpa tujuan yang jelas. Dan untuk Nadira, saya sudah menyiapkan segalanya.”
Raka menarik kursi Nadira lebih dekat, jemarinya menyentuh punggung tangan Nadira dengan penekanan yang posesif. Tindakan itu memicu bisik-bisik di antara kerabat yang hadir, membuat posisi Nadira semakin tersudut secara sosial.
Kembali ke apartemen, sebuah amplop misterius berisi dokumen warisan dan rekaman lama Ardan tiba di meja. Nadira merobek segelnya, menemukan bukti bahwa Ardan telah memanipulasi aset keluarga. Raka menatapnya dengan intensitas baru. "Sekarang sandiwara ini sudah tak bisa dihentikan," bisiknya, menyadari bahwa mereka baru saja menarik pelatuk yang akan menghancurkan Ardan—dan mungkin, mengubah segalanya bagi mereka berdua.