The Cost of Protection
Bau parfum Ardan masih tertinggal di udara, beradu dengan aroma kayu mahoni yang dingin di dalam bridal suite ini. Nadira menatap amplop cokelat tebal yang tergeletak di meja marmer—uang tutup mulut dari keluarga Ardan, sisa penghinaan yang ditinggalkan mantan suaminya seolah Nadira adalah barang rusak yang bisa dibayar untuk pergi.
Nadira menyentuh tepian amplop itu. Jika ia membiarkannya, itu adalah simbol kekalahan. Jika ia menerimanya, itu adalah pengakuan bahwa harga dirinya memang seharga uang tersebut.
Pintu terbuka. Raka Maheswara melangkah masuk, setelan jasnya kaku, kontras dengan ketenangan predator yang ia bawa. Tatapannya tertuju pada amplop di atas meja. Tanpa basa-basi, Raka menyambar amplop tersebut, melemparkannya ke dalam asbak kristal, dan menyulut pematik api.
"Jangan pernah menyentuh sisa-sisa dari pria itu lagi, Nadira," suara Raka rendah, memiliki gravitasi yang membuat udara di ruangan itu terasa menipis. Api menjilat kertas tersebut, mengubah uang tutup mulut itu menjadi abu hitam. “Harga dirimu tidak diukur dengan uang tunai yang mereka lempar untuk membungkam mulutmu. Jika mereka ingin bermain kotor, kita akan bermain dengan cara yang membuat mereka kehilangan lebih dari sekadar uang.”
Nadira terpaku. Raka tidak sekadar melindunginya; ia sedang menghapus jejak kendali Ardan secara sistematis. Namun, Nadira merasakan sesuatu yang lebih tajam. Raka tidak melakukan ini karena belas kasihan. Raka melakukan ini untuk memastikan bahwa satu-satunya orang yang memiliki kendali atas Nadira saat ini adalah dirinya.
“Kenapa kau melakukannya?” tanya Nadira, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang.
Raka mendekat hingga jarak di antara mereka menyempit. “Karena sandiwara ini harus terlihat nyata. Dalam dunia kita, reputasi yang rusak tidak bisa diperbaiki dengan uang, tapi dengan kekuasaan yang lebih besar. Sekarang, kau milikku di mata publik, dan aku tidak menerima barang yang sudah ternoda oleh sisa-sisa pria lain.”
*
Bau melati dari taman belakang seolah menguap, digantikan aroma kopi hitam yang pahit di meja makan. Bu Ratih duduk tegak, tangannya mencengkeram cangkir porselen hingga buku jarinya memutih. Di hadapannya, Nadira memotong daging steak dengan presisi dingin, sementara Raka duduk di sisi lain, tenang seperti predator yang sedang mengamati mangsanya.
“Pertunangan ini terlalu mendadak,” suara Bu Ratih memecah kesunyian. “Dunia tidak bodoh. Kemarin kau diceraikan Ardan, hari ini kau muncul dengan pewaris Maheswara. Apa yang kau pikirkan tentang martabat keluarga kita?”
Nadira meletakkan pisau dan garpunya. “Martabat keluarga tidak pernah dipertanyakan saat Ardan mengusir saya tanpa alasan yang jelas, Bu. Kenapa sekarang, saat saya memilih jalan hidup saya sendiri, hal itu menjadi masalah?”
“Karena ini sandiwara!” seru Bu Ratih. “Semua orang tahu Ardan masih memiliki pengaruh besar. Jika kau terus berpura-pura dengan pria ini, kau hanya akan membuat dirimu semakin terpuruk saat semuanya terbongkar.”
Sebelum Nadira sempat membalas, Raka bergerak. Ia meraih tangan Nadira, menyematkan cincin berlian yang berkilau dingin di bawah lampu kristal, lalu mencium punggung tangan Nadira dengan tatapan yang diarahkan tepat ke mata Bu Ratih. Itu adalah gerakan posesif yang terukur.
“Bu Ratih,” suara Raka rendah dan berwibawa. “Saya tidak bermain-main dengan aset saya, apalagi dengan masa depan tunangan saya. Kontrak bisnis Maheswara dengan perusahaan Ardan akan saya tinjau ulang besok pagi. Jika reputasi Nadira terganggu oleh bisikan-bisikan tidak berdasar, maka secara otomatis, Ardan kehilangan akses ke proyek pelabuhan. Apakah itu cukup untuk menjawab keraguan Ibu?”
Bu Ratih terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia tahu Raka bukan pria yang menggertak.
Saat suasana semakin mencekam, asisten rumah tangga meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja—kiriman yang seharusnya tidak ada di jam makan malam. Nadira membukanya. Di dalamnya bukan sekadar surat, melainkan dokumen warisan yang selama ini disembunyikan Ardan, lengkap dengan rekaman percakapan yang membuktikan pengkhianatan aset masa lalu mantan suaminya itu.
Nadira memandang dokumen itu, lalu beralih ke Raka. Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak menyentuh mata.
“Sekarang sandiwara ini sudah tak bisa dihentikan,” bisik Raka pelan.