The Contract Clause
Udara di dalam bridal suite itu terasa tipis, seolah oksigen habis terserap oleh kemewahan yang menyesakkan. Nadira Azzahra berdiri di depan cermin lantai, menatap pantulan dirinya yang terbalut gaun sutra putih—sebuah artefak dari pernikahan yang baru saja dinyatakan mati secara hukum pagi tadi.
Di atas meja marmer, sebuah amplop cokelat tebal tergeletak terbuka. Uang tunai di dalamnya cukup untuk membayar sewa apartemen selama tiga bulan dan biaya pengacara yang masih menumpuk, namun bagi Nadira, itu adalah penghinaan yang dibungkus rapi. Itu adalah uang dari keluarga Ardan, dikirim melalui ibunya, Bu Ratih, dengan pesan singkat yang sudah ia hafal di luar kepala: “Terima saja, Nadira. Jangan bikin malu keluarga lagi.”
Pintu suite terbuka pelan. Bu Ratih melangkah masuk, langkahnya tegas meski guratan lelah tampak jelas di sudut matanya.
“Sudah lihat uangnya?” tanya Bu Ratih tanpa basa-basi. “Itu bukan sedekah. Itu harga diammu agar Ardan tidak menuntut balik soal aset perusahaan yang kau pegang.”
Nadira tidak menoleh. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba mencari sisa-sisa harga diri yang masih tersisa. “Ibu pikir aku mau diam saja setelah dia mengumumkan perceraian di depan semua kerabat dengan alasan ‘ketidakcocokan’, padahal semua orang tahu dia yang berselingkuh?” Suaranya datar, namun setiap kata terasa seperti pecahan kaca di tenggorokannya.
“Gosip sudah menyebar ke seluruh kota, Nadira,” desis Bu Ratih, suaranya merendah agar tidak terdengar ke koridor. “Tetangga, kolega Ardan, bahkan keluarga besar kita. Kalau kamu ribut, nama kita yang hancur duluan. Kamu mau kerja di mana lagi dengan cap sebagai janda yang meributkan urusan rumah tangga? Terima kenyataan ini.”
Sebelum Nadira sempat membalas, pintu suite kembali terbuka. Kali ini, Raka Maheswara yang melangkah masuk tanpa mengetuk. Ia membawa aura otoritas yang membuat suasana ruangan berubah seketika. Raka melemparkan dokumen kontrak ke atas meja marmer dengan dentuman yang cukup keras untuk membungkam Bu Ratih.
“Tanda tangani, Nadira,” ujar Raka dingin. “Ini satu-satunya cara agar saham keluargamu tidak jatuh ke tangan Ardan besok pagi.”
Nadira menatap tumpukan kertas itu, napasnya tercekat. Ia baru saja bebas dari pernikahan yang menyesakkan, dan kini pria di depannya ini justru menyeretnya kembali ke dalam permainan yang lebih berbahaya. “Aku tidak akan membiarkan hidupku diatur oleh skenario palsumu, Raka,” desis Nadira, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih.
Raka tidak bergeming. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga aroma parfum kayu cendana yang maskulin memenuhi ruang personal Nadira. “Kau tidak punya pilihan. Ardan sudah mendengar rumor pertunangan ini. Jika kau mundur sekarang, dia akan memutarbalikkan fakta, membuatmu tampak labil dan tidak bisa dipercaya di depan pengadilan gono-gini.”
Darah Nadira seolah membeku. Ardan adalah pria yang licik; ia tidak akan melewatkan kesempatan untuk menggunakan rumor ini sebagai senjata. Raka mengeluarkan kotak beludru hitam dari saku jasnya, meletakkannya di samping amplop uang milik Ardan. Bunyi denting logam yang beradu dengan batu alam itu terdengar seperti vonis mati bagi kebebasannya.
“Waktu kita tidak banyak,” suara Raka rendah, memotong keheningan. “Ardan sudah di bawah. Jika dia masuk dan melihatmu masih memegang dokumen perceraian yang belum tuntas, dia akan memastikan namamu hancur sebelum matahari terbenam.”
Nadira menatap Raka, mencari celah keraguan, namun hanya menemukan kalkulasi bisnis yang tajam. Ia mengambil pena, tangannya gemetar saat menorehkan tanda tangan di atas kertas kontrak. Itu bukan sekadar tanda tangan; itu adalah penyerahan kendali hidupnya demi perlindungan yang ia benci sekaligus ia butuhkan.
Raka dengan cepat mengambil cincin dari kotak beludru dan menyematkannya di jari manis Nadira. Dinginnya logam itu menempel di kulitnya, seolah mengikatnya pada takdir baru.
“Mulai sekarang, kamu bukan lagi janda yang kasihan,” bisik Raka tepat saat suara langkah sepatu yang familiar terdengar mendekat di koridor luar.
Nadira menatap cincin palsu itu, merasakan beban simbolisnya yang berat. Di luar pintu, langkah Ardan Pratama berhenti. Ketukan di pintu suite terdengar—tiga kali, ritme yang selalu digunakan Ardan saat ia merasa berkuasa. Sandiwara itu baru saja dimulai, dan Nadira tahu, tidak ada jalan untuk mundur.