Harga Sebuah Perlindungan
Bau cat minyak dan sampanye mahal di Galeri Seni Kontemporer Jakarta Pusat biasanya menenangkan bagi Arina. Namun malam ini, udara terasa sesak oleh bisik-bisik yang sengaja dikeraskan. Arina berdiri di dekat lukisan abstrak, menjaga postur tubuhnya tetap tegak meski ia tahu seratus pasang mata sedang membedah gaunnya, mencari noda kegagalan yang ditinggalkan Bram.
"Kasihan sekali. Setelah diceraikan karena dianggap tidak bisa mengelola keuangan keluarga, dia masih berani muncul di acara elit," suara Siska, salah satu sosialita yang dulu selalu memuji Arina, memecah kesunyian di sekitarnya.
Arina tidak menoleh. Ia menyesap minumannya, merasakan dingin gelas kaca merambat ke jemarinya. "Telingaku tidak cukup tajam untuk mendengar gosip murahan, Siska. Mungkin kau bisa bicara lebih keras jika ingin aku menanggapi?"
Siska tertawa, aromanya yang tajam menusuk hidung Arina. "Semua orang tahu dokumen yang dibawa Bram minggu lalu, Arina. Kau bangkrut. Pertunanganmu dengan Damian? Itu lelucon paling lucu tahun ini. Semua orang tahu Damian hanya memungut sampah untuk menutupi skandalnya sendiri."
Bram muncul dari balik pilar, senyum angkuhnya terpatri sempurna. Ia berjalan mendekat dengan langkah predator, matanya menelusuri Arina seolah sedang memeriksa inventaris barang yang sudah ia buang. "Arina, sayang. Tidak perlu memaksakan diri. Audit itu membuktikan kau tidak pernah sebersih yang kau klaim selama pernikahan kita."
Arina menggenggam pinggiran tasnya dengan kencang, buku-buku jarinya memutih. Sebelum ia bisa membalas, sebuah tangan hangat namun tegas mendarat di punggung bawahnya. Suhu udara di sekitarnya seolah turun beberapa derajat saat Damian melangkah masuk ke dalam lingkaran itu.
"Audit?" Damian bertanya dengan nada datar yang mampu menghentikan napas siapa pun di ruangan itu. Ia berdiri tepat di belakang Arina, klaim kepemilikan yang dingin namun mutlak. "Bram, aku sarankan kau berhenti membicarakan dokumen palsu itu sebelum aku memutuskan untuk menyerahkan salinan audit asli yang bisa menghancurkan reputasimu dalam satu malam."
Bram tertegun, senyumnya luntur. Damian tidak berhenti di sana. Ia menatap kerumunan sosialita itu dengan tatapan yang membuat mereka memalingkan wajah satu per satu. "Arina adalah tunanganku. Siapa pun yang menghina integritasnya, sama saja dengan menghina keputusanku. Dan aku tidak pernah membiarkan orang lain mengganggu asetku."
Di dalam mobil sedan hitam yang melaju membelah kemacetan Jakarta, keheningan terasa lebih menyesakkan daripada kebisingan di galeri tadi. Damian duduk dengan postur kaku, jemarinya mengetuk pelan layar tablet yang menampilkan grafik saham perusahaannya yang terpaksa merosot akibat skandal mendadak ini.
"Proyek di Kuningan itu," Arina memecah sunyi, suaranya dingin dan stabil. "Kau membatalkannya hanya untuk menghentikan Bram di depan kamera?"
Damian tidak menoleh. "Reputasi adalah mata uang, Arina. Jika mereka melihatmu hancur karena fitnah mantan suamimu, mereka akan menganggapku lemah. Sebagai gantinya, kau harus memastikan bahwa pertunangan ini terlihat autentik. Besok, keluarga besarku akan mencari kebenaran di balik pengumuman ini. Jika kau goyah, kita berdua tamat."
Ia mendekat, tangan besarnya mencengkeram pinggiran kursi, menciptakan jarak yang sangat intim sekaligus mengintimidasi. "Perlindungan ini tidak gratis, Arina. Kau bukan sekadar tunangan. Kau adalah taruhan strategisku."
Saat tiba di lobi ballroom hotel, cahaya lampu kilat kamera terasa seperti serangan mendadak. Arina berdiri tegak, membiarkan gaun sutra hitamnya menjadi perisai di balik senyum presisi. Damian menempatkan tangan kanannya di pinggang Arina—bukan sebagai gestur romantis, melainkan penanda kepemilikan yang dingin.
"Senyum, Arina. Dunia sedang menunggu konfirmasi," bisik Damian.
Seorang asisten pria mendekat, menyodorkan amplop cokelat tebal ke arah Damian. Tanpa melepas rangkulannya, Damian mengambil amplop itu dan menyelipkannya ke tangan Arina. "Pegang ini. Jangan lepaskan sampai kita masuk ke mobil," perintahnya.
Arina meremas amplop itu. Teksturnya terasa berat, berisi tumpukan dokumen yang mungkin akan mengubah posisinya dari sekadar tunangan menjadi sandera strategis. Damian menarik pinggang Arina lebih dekat di depan kamera pers, dan Arina tahu, tidak ada jalan kembali dari tatapan publik ini.