Jebakan Warisan
Lampu kristal di ruang makan kediaman keluarga Damian membiaskan cahaya dingin yang menusuk. Arina duduk tegak, memastikan punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi kayu jati yang berat. Di seberang meja, Ibu Damian—seorang wanita dengan tatapan yang mampu membedah niat seseorang hanya dalam sekali lihat—menyesap tehnya dengan gerakan yang terlalu tenang untuk ukuran suasana yang mencekam.
"Damian, kau tidak pernah membawa wanita pulang sejak perceraianmu dengan dunia bisnis yang kaku," suara sang ibu memecah keheningan, tajam dan tanpa basa-basi. "Lalu tiba-tiba, kau membawa Arina. Wanita yang baru saja melepas status sebagai istri dari pria yang menjadi kompetitor utama kita. Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"
Arina merasakan ketegangan merambat di tengkuknya. Ia tahu taruhannya bukan sekadar makan malam, melainkan legitimasi posisi Damian di kursi direksi. Jika keluarga menganggap Arina sebagai aset cacat, maka pertunangan ini akan runtuh sebelum sempat mengakar. Damian, yang duduk di samping Arina, meletakkan alat makannya dengan bunyi denting yang presisi. Ia meraih tangan Arina di bawah meja, genggamannya kuat—bukan pelukan romantis, melainkan cengkeraman kepemilikan yang dingin.
"Arina bukan sekadar masa lalu bagi pihak lain, Ibu," ujar Damian tenang. "Dia adalah satu-satunya orang yang memegang kunci untuk merestrukturisasi audit internal yang sedang kita hadapi. Kecerdasannya dalam membaca celah hukum jauh lebih berharga daripada silsilah keluarga yang ia bawa."
Ibu Damian terdiam, matanya menyipit, menimbang apakah itu pujian atau sekadar taktik. Arina merasakan Damian mendorongnya untuk memainkan peran itu. Ia menatap balik sang ibu dengan ketenangan yang dipaksakan. "Audit internal adalah masalah teknis, tapi kepercayaan pemegang saham adalah masalah persepsi. Damian membutuhkan stabilitas, dan saya adalah orang yang paling memahami bagaimana Bram bekerja. Itu adalah keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki orang lain."
Setelah makan malam yang menyesakkan itu berakhir, Arina menyendiri di ruang kerja Damian. Ruangan itu beraroma kayu cendana dan ambisi yang dingin. Ia berdiri di depan meja mahoni besar, jemarinya sedikit gemetar saat menyentuh segel amplop cokelat yang diberikan Damian di dalam mobil tadi. Ia menarik napas panjang, menepis bayangan wajah Bram yang sombong di ballroom hotel. Arina merobek kertas itu.
Ia mengharapkan bukti audit yang bisa ia gunakan untuk membalas mantan suaminya, atau mungkin aset yang bisa ia cairkan untuk memulai hidup baru. Namun, yang ia temukan justru lebih tajam daripada pisau mana pun. Itu adalah draf surat wasiat keluarga besar Damian. Matanya memindai baris-baris hukum yang rumit dengan cepat, hingga napasnya tertahan di satu klausul krusial: 'Penerima manfaat wajib berada dalam ikatan pernikahan yang stabil sebelum usia 32 tahun untuk mengakses dana operasional perusahaan.'
Di bawahnya, terdapat catatan tangan Damian yang dingin: 'Pernikahan adalah syarat mutlak untuk mengunci kursi direksi. Kamu bukan sekadar pasangan, Arina. Kamu adalah kunci akses.'
Arina merasakan lantai di bawah kakinya seolah bergeser. Selama ini, ia mengira Damian menawarkan perlindungan karena rasa iba atau ketertarikan strategis. Ternyata, pria itu sedang melakukan mitigasi risiko. Ia hanyalah sandera legal.
Suara langkah kaki Damian terdengar di ambang pintu. Arina tidak menoleh saat pria itu masuk. "Kau tidak memberitahuku bahwa aku bukan sekadar tunangan, tapi syarat mutlak untuk kursi direksi," ujar Arina, suaranya datar namun tajam.
Damian berhenti, menatap amplop yang terbuka di meja. "Itu detail teknis, Arina. Yang penting, kau mendapatkan perlindungan yang kau butuhkan untuk menghadapi Bram. Bukankah itu kesepakatan kita?"
Arina melempar amplop itu ke meja. "Kesepakatan kita adalah tentang reputasi, bukan tentang menjadi sandera legal di tanganmu. Jika keluarga besarmu tahu bahwa pertunangan ini hanyalah cara untuk mengamankan hak warismu, mereka akan membatalkan kontrak ini—dan kau akan kehilangan segalanya."
Damian bangkit berdiri, tubuh tegapnya mendominasi ruangan. "Kau mengancamku?"
"Aku menegosiasikan ulang," balas Arina tegas. "Aku ingin kendali penuh atas perusahaan desainku tanpa campur tanganmu, dan aku ingin akses penuh ke bukti audit yang kau miliki tentang Bram. Jika kau butuh aku untuk menjadi istri yang stabil, maka kau harus membayarnya dengan kemandirian yang selama ini kau renggut dariku."
Damian menatapnya lama, matanya menyipit. Ada kilatan pengakuan di sana—bukan lagi sebagai pion, melainkan sebagai lawan yang setara. "Kau lebih berbahaya daripada yang kubayangkan, Arina."
"Itu karena kau tidak pernah benar-benar melihatku, Damian," balas Arina dingin. Mereka mencapai kesepakatan baru di tengah ketegangan yang menyesakkan. Arina kini memiliki leverage, namun di luar sana, ancaman yang lebih nyata telah menanti.
Saat mereka keluar dari kediaman untuk menghadiri acara sosialita, pintu kaca Grand Hyatt memantulkan bayangan mereka. Begitu pintu mobil terbuka, kilatan lampu kamera menyambut. Arina melangkah keluar dengan gaun sutra yang memberikan kesan dingin. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat sosok yang paling ingin ia hindari berdiri tepat di ambang pintu ballroom. Bram berdiri di sana dengan senyum yang penuh ancaman, matanya berkilat penuh kebencian saat melihat Arina menggandeng lengan Damian.