Ballroom Penghinaan
Lampu kristal di Ballroom Grand Hyatt memantul dingin, menusuk mata Arina yang berdiri di sudut ruangan. Ia menggenggam gelas sampanye yang tak tersentuh, mencoba menjaga bahunya tetap tegak meski punggungnya terasa seperti sasaran tembak. Malam ini seharusnya menjadi pembuktian bahwa ia bisa bertahan pasca-perceraian, namun pengumuman acara amal justru berubah menjadi panggung eksekusi.
Di panggung utama, Bram berdiri dengan setelan jas mahal, memancarkan aura pria sukses yang selalu ia jaga dengan cermat. Di sampingnya, layar raksasa mulai menayangkan serangkaian dokumen. Itu bukan sekadar surat cerai; itu adalah draf klaim aset yang telah dimanipulasi untuk menunjukkan bahwa Arina adalah pihak yang serakah dan tidak kompeten.
"Arina tidak hanya kehilangan posisinya sebagai istri," suara Bram menggema melalui mikrofon, tenang dan penuh simpati yang dibuat-buat, "tapi ia juga kehilangan integritas dalam mengelola dana yayasan kita selama ini. Saya tidak punya pilihan selain memutus aksesnya demi melindungi publik."
Bisikan di ruangan itu meledak seperti api yang disiram bensin. Tatapan para sosialita Jakarta yang biasanya ramah kini berubah menjadi pisau yang menghujam. Arina merasakan lantai di bawah kakinya seolah runtuh. Ini bukan sekadar penghinaan; ini adalah pemusnahan karakter yang sudah dirancang Bram untuk menghancurkan sisa-sisa reputasinya. Ia tahu, jika ia membela diri sekarang, ia hanya akan terlihat seperti wanita yang tidak bisa menerima kenyataan. Jika ia diam, ia kalah.
Saat Arina hendak melangkah pergi, sebuah bayangan tinggi melangkah masuk ke tengah lingkaran. Aroma parfum kayu cendana dan tembakau mahal yang tajam menyelimuti ruang di antara mereka. Damian—pria yang paling disegani di kancah bisnis Jakarta—berdiri tepat di samping Arina. Ia tidak menatap Bram; matanya terkunci pada Arina, dingin namun penuh dengan kalkulasi.
"Cukup, Bram," suara Damian rendah, namun memiliki gravitasi yang membuat seluruh ballroom terdiam. Ia menoleh pada kerumunan, lalu kembali pada Bram dengan seringai tipis yang tidak mencapai matanya. "Dokumen yang kau tampilkan itu sudah kadaluwarsa, dan lebih parahnya, palsu. Aku memegang bukti audit yang asli, dan jika kau teruskan ini, bukan hanya reputasimu yang hancur, tapi juga seluruh portofolio investasimu."
Bram memucat, seringainya hilang seketika. Ia mencoba membalas, namun Damian memotong dengan satu kalimat yang mematikan: "Arina adalah tunanganku. Dan siapa pun yang menyerang tunanganku, berarti mendeklarasikan perang terbuka denganku."
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Damian menarik pinggang Arina, membawanya keluar dari kerumunan yang kini dipenuhi bisik-bisik ketakutan dan rasa penasaran. Di balkon lantai empat puluh yang dingin, Damian melepaskan genggamannya.
"Bram tidak akan berhenti sampai namamu benar-benar hilang dari daftar undangan sosialita mana pun di kota ini," ujar Damian tanpa basa-basi, bersandar pada pagar balkon.
Arina menatap lampu kota Jakarta yang tampak seperti permata dingin. "Kenapa kau membantuku? Apa untungnya bagimu?"
"Aku butuh istri untuk mengamankan warisan keluarga, dan kau butuh perlindungan untuk menghancurkan Bram," jawab Damian datar. "Ini adalah transaksi, Arina. Kau menjadi tamengku di depan publik, dan aku akan memberimu kekuatan untuk membalas setiap penghinaan yang ia berikan padamu."
Arina menatap Damian, sadar bahwa menerima tangan pria itu berarti menyerahkan sisa harga dirinya pada permainan yang lebih berbahaya. Ia tahu tidak ada jalan kembali, dan saat Damian menariknya lebih dekat, Arina merasakan beban sekaligus janji kekuasaan yang mulai mengikatnya.