Novel

Chapter 2: Kontrak di Atas Luka

Arini menegosiasikan klausul perlindungan aset dalam kontrak pertunangan palsu dengan Bramantyo. Sementara itu, Bramantyo secara strategis membalikkan narasi skandal Dito di media sosial. Bab ini ditutup dengan Arini menandatangani kontrak di depan Dito, menandai awal dari aliansi strategis mereka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kontrak di Atas Luka

Ruang kerja Bramantyo di lantai 45 adalah sebuah pernyataan kekuasaan: kaca, baja hitam, dan keheningan yang menekan. Tidak ada sisa kemewahan ballroom Grand Emerald semalam, hanya udara dingin dari pendingin ruangan yang berhembus konstan. Di atas meja mahoni, sebuah dokumen hukum tergeletak—sebuah kontrak yang bukan sekadar kertas, melainkan perisai sekaligus belenggu.

Bramantyo duduk di balik meja, jemarinya mengetuk permukaan kayu dengan irama presisi yang membuat Arini merasa seperti sedang diuji di bawah mikroskop.

"Klausul keenam," suara Bramantyo memecah kesunyian, datar dan tanpa basa-basi. "Itu perlindungan aset yang kau minta. Saya tidak berniat menyentuh sisa hartamu. Saya hanya butuh citra pria berkomitmen untuk memenangkan tender pelabuhan minggu depan. Itu harga yang murah untuk reputasi yang kau pertaruhkan."

Arini meraih dokumen itu. Matanya memindai setiap baris dengan ketajaman seorang wanita yang baru saja kehilangan segalanya. Dito telah mengosongkan rekening pribadinya tepat sebelum pengumuman perceraian, meninggalkannya dengan reputasi yang hancur dan dompet kosong. Jika ia menandatangani ini, ia akan menjadi tunangan pria paling ditakuti di kota ini—sebuah posisi yang memberinya kekuasaan, namun juga menjadikannya target baru bagi musuh-musuh Bramantyo.

"Anda tidak sedang beramal, Bramantyo. Jangan berpura-pura," ujar Arini. Suaranya stabil, meski tangannya sedikit bergetar saat memegang pena. "Saya ingin kepastian bahwa setelah kontrak ini berakhir, aset saya tetap utuh dan tidak tersentuh oleh manuver bisnis Anda. Saya bukan pion yang bisa Anda korbankan saat tender itu selesai."

Bramantyo terdiam, menatap Arini dengan ketertarikan yang baru. Ia tidak menyukai pion yang pasif; ia menyukai bidak yang tahu cara mengamankan posisinya. Ia mengangguk pelan, memberikan isyarat pada asistennya untuk merevisi klausul tersebut.

Sementara Arini meneliti perubahan klausul, Bramantyo menerima laporan di ruang kerja pribadinya. Media sosial mulai ramai dengan narasi bahwa Arini adalah pihak yang bersalah dalam perceraian itu. Dito telah menyuap beberapa akun gosip besar untuk memastikan narasi itu bertahan hingga besok pagi. Bramantyo tidak peduli pada drama domestik, tetapi dia peduli pada bidak yang baru saja ia pilih.

"Beli hak tayang akun-akun itu sekarang," perintahnya datar. "Bukan untuk menyembunyikan berita, tapi untuk mengarahkan ulang narasi. Rilis dokumen audit internal yang menunjukkan bahwa aset Arini justru dialihkan secara ilegal oleh mantan suaminya. Lakukan secara anonim, lalu pastikan algoritma mempromosikan kebenaran itu tepat saat Dito mengira dia menang."

Tak lama kemudian, Arini dan Bramantyo harus menghadapi sesi foto publik pertama. Di dalam studio privat, lampu sorot terasa menyengat. Bramantyo berdiri dengan setelan jas yang tampak memahat tubuhnya, sementara Arini berusaha menjaga ketenangannya.

"Jangan terlihat seperti korban," bisik Bramantyo tepat di dekat telinga Arini saat fotografer mengatur pencahayaan. "Dunia tidak butuh simpati darimu. Mereka butuh melihat bahwa kamu adalah aset yang tidak bisa mereka beli."

Bramantyo melangkah mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Arini dengan posesif. Tekanan telapak tangannya terasa nyata, sebuah pernyataan kepemilikan yang dirancang untuk konsumsi publik. Arini merasakan napasnya tertahan, menyadari bahwa ia baru saja membiarkan pria ini masuk ke ruang pribadinya demi bertahan hidup.

Saat mereka keluar dari studio, Arini memergoki Dito di lobby kantor, tengah mencoba menyuap staf Bramantyo untuk mendapatkan detail kontrak. Arini melangkah keluar dari bayang-bayang, langkah sepatunya bergema di lantai marmer.

"Serahkan amplop itu, atau aku akan memastikan Bramantyo sendiri yang mengurus pemecatanmu dalam waktu kurang dari lima menit," suara Arini dingin dan tanpa ampun.

Dito membeku, wajahnya yang semula angkuh berubah menjadi seringai tipis. Namun, sebelum Dito sempat membalas, pintu kantor utama terbuka. Bramantyo berdiri di sana, siluetnya memancarkan otoritas yang membuat suasana lobby seketika menegang. Ia tidak menatap Dito, melainkan langsung mengunci pandangannya pada Arini. Arini meraih pena yang disodorkan asisten, menatap Dito tepat di mata, lalu membubuhkan tanda tangannya dengan mantap. Tanda tangan itu bukan sekadar tinta, melainkan deklarasi perang terhadap masa lalunya. Bramantyo melangkah maju, menggenggam tangan Arini di depan investor yang mulai berkumpul, tatapannya tajam dan menjanjikan, mengisyaratkan bahwa sandiwara ini baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced